7.7 C
Munich
Selasa, Oktober 27, 2020

Teaching Materials

Must read

PRIORITAS KESEHATAN MANUSIA

Kehidupan penuh dengan berbagai macam cobaan dan memiliki sebuah kerentangan dalam setiap unsur, salah satunya adalah kesehatan. Kesehatan sangat penting bila dilihat dari sebuah kebutuhan manusia, bahkan dalam “teori hirarki kehidupan” memaparkan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang utama adalah kebutuhan fisiologis yang ditinjau dari factor fisiologi.

Kampanye Sosial Media: Saatnya Kaum Millenial Cerdas Memilih dan Anti Money Politic

Pada akhir tahun nanti, pemilihan kepala daerah akan serentak dilaksanakan di beberapa provinsi maupun kabupaten atau kota. Ada satu opini masyarakat yang sudah mendarah daging. Money Politic atau politik uang. Rasanya tidak sah bagi pemilih apabila uang tidak hinggap ditangannya. Celetuk dari salah satu warga Surabaya,”Gak ono duite yo males nyoblos”. Ulasnya. Yang artinya tidak ada uang, maka mereka enggan untuk memilih.

IMPLEMENTASI SEBUAH KEBIJAKAN

Implementasi kebijakan merupakan salah satu tahapan dalam keseluruhan proses kebijakan, yaitu tahapan perumusan, tahapan implementasi, dan tahapan evaluasi yang berlangsung dalam suatu sistem kebijakan yang kompleks dan dinamis dan akan menentukan berhasil tidaknya suatu kebijakan.

UPAYA TERAPEUTIK

Klinis seharusnya mempertimbangkan kisaran dari ekspresi pasien untuk merumuskan pemahaman pengalaman pasien dan untuk merefleksikan signifikansinya. Klinis mengingat norma dan klasifikasi pengalaman dan gejala yang mungkin relevan dengan sabar tetapi pada saat yang sama memungkinkan adanya karakter yang unik dari pengalaman pasien individu.

FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI
KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA,
Ditinjau dari Primary Prevention, Secondary Prevention dan
(PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

VOLUNTARY COUNSELING TESTING (ppt)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

TRANSTHEORETOCAL MODEL (ppt)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS (ppt)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 18-05-2020

MASALAH KEBIDANAN KOMUNITAS (ppt)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 18-05-2020

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PELAYANAN KEBIDANAN KOMUNITAS (ppt)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 18-05-2020

ASKEP PADA IBU HAMIL DAN PENATALAKSANAAN DENGAN ARV DENGAN HIV AIDS DILIHAT DARI ASPEK PMTCT

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 8-06-2020

TEORI PRECEDE AND PROCEED: Health Promotion Planning An
Aducational and Environmental Approach

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 8-06-2020

HEALTH BELIEF MODEL

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 14-06-2020

KEPERAWATAN ANAK DAN REMAJA PADA HIV

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 14-06-2020

KONSEP PELAYANAN PRIMA (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 27-09-2020

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 27-09-2020

RPS FILSAFAT

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 27-09-2020

RPS PELAYANAN PRIMA

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 27-09-2020

PARADIGMA KEPERAWATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 03-10-2020

KONSEP TEORI DALAM KEPERAWATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 03-10-2020

KONSEP FALSAFAH KEPERAWATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 03-10-2020

PELAYANAN PRIMA DALAM KESEHATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 05-10-2020

PENGANTAR FILSAFAT (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 06-10-2020

KONSEP HOLISTIC CARE (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 09-10-2020

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 09-10-2020

PERATURAN-PERATURAN DALAM PELAYANAN PRIMA
DALAM PELAYANAN KESEHATAN (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 11-10-2020

METODE PERENUNGAN FILSAFAT (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 13-10-2020

LOGIKA DALAM BERFIKIR (PPT)

Jurnal Articles Published By Alsanso.com 18-10-2020

Berita sebelumyaSIKAP TERHADAP HIV DAN AIDS
Berita berikutnyaBAHAYA MEROKOK
- Advertisement -

More articles

290 KOMENTAR

  1. Nama : Hilya Humaidah
    NIM (191141028)
    Prodi : perawat 2B
    Mata kuliah : promkes

    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
    dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas”

  2. Nama. : Agung Wisnu Ryandika Putra
    Nim. : 191141002
    Mata kuliah. : Pendidikan kesehatan dan promkes.

    • Nama: Roibah
      Nim: (191141057)
      Mata kuliah: pendidikan kesehatan dan promkes

      Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
      Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
      1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma. 2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat 3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah 1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit 2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien 3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
      Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
      Dari piagam populer seperti KIE(Komunikasi,kesehatan,edukasi),Social marketing(pemasaran sosial),dan mobilisasi sosial Dari piagam tersebut merumuskan upaya promkes mencangkup 5 butir
      1. Kebijakan berwawasan kesehatan
      2. Lingkungan yang mendukung
      3. Reorientasi pelayanan kesehatan
      4. Ketrampilan individu
      5. Gerakan masyarakat
      Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah merubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
      selain operasional tujuan pendididikan kesehatan adalah:
      1). Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
      2).Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara memanfaatkan dengan efektif dan efisien
      3).Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri,seperti membuang sampah pada tempatnya dan menutuo genangan air.
      Faktor yang mempengaruhi teori Green dan kreuter adalah:
      1. Keberhasilan dalam Promkes
      2. Ketepatan atau pemahaman dalam melakukan pendidikan kesehatan.
      Terimakasih🙏🏼🙏🏼🙏🏼

    • ANSO
      ZONA ARTIKELTEACHING MATERIALS
      Teaching Materials
      By
      admin@alsanso.com
      May 10, 2020

      114
      533

      FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI
      KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN (PPT)

      Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

      PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA,
      Ditinjau dari Primary Prevention, Secondary Prevention dan (PPT)

      Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

      VOLUNTARY COUNSELING TESTING (ppt)

      Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

      TRANSTHEORETOCAL MODEL (ppt)

      Jurnal Articles Published By Alsanso.com 17-05-2020

      Previous article
      SIKAP TERHADAP HIV DAN AIDS
      – Advertisement –

      More articles

      114 COMMENTS

      Hilya humaidah May 11, 2020 At 2:36 am
      Nama : Andi Sugistino Prayoga
      NIM (191141008)
      Prodi : perawat 2B
      Mata kuliah : promkes

      Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
      Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
      1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
      2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
      3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
      Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
      1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
      2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
      3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
      Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
      dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas”

    • Nama : Andi Sugistino Prayoga
      NIM (191141008)
      Prodi : perawat 2B
      Mata kuliah : promkes

      Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
      Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
      1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
      2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
      3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
      Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
      1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
      2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
      3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
      Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
      dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas”

  3. Nama : indri yani okta brianti
    Nim : 191141033
    Mata kuliah : promosi kesehatan

    Dimateri kali ini membahas dan menjelaskan tentang hal yang mempengaruhi pelaksanaan promkes dan pendidikan kesehatan.
    Kesimpulannya dari materi ini yaitu setiap akan melaksanakan promosi kesehatan harus memiliki, kebijakan yang berwawasan kesehatan, lingkungan yang mendukung, reorientasi pelayanan kesehatan, keterampilan individu, dan gerakan ataupun respon dari masyarakat. Menurut green, suatu promkes sangat mempengaruhi beberapa faktor terbentuknya perilaku seperti : faktor predisposisi, faktor enabling, serta faktor reinforcing.
    Tujuan promkes dan pendidikan kesehatan sama yaitu mengubah suatu individu atau masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan, serta menjadikan masyarakat lebih berpengetahuan, dan melaksanakan pengubahan kesehatan secara mandiri menuju ketingkat yang lebih baik lagi bagi kesehatan.

    Terima kasih pak eko materi ini sangat membantu kita untuk mengetahui apa yang mempengaruhi dan harus di perhatikan saat melakukan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan

    • Nama : Katarina Firawati Fenyapwain
      Nim : 191141036
      Mata kuliah : Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan

  4. Nama : NurRotul Afifah
    Nim : 191141046
    Mata kuliah promkes
    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
    dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas

  5. Nama : Mega Putri Auliya
    Nim : 191141044
    Mata Kuliah : Pendidikan dan Promosi Kesehatan
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan dikenal dengan istilah penyuluhan kesehatan. Dimana terdapat 5 butir piagam pembahasa. yaitu kebijakan berwawasan kesehatan, lingkungan yang mendukung, reoreintasi pelayanan kesehatan, keterampilan individu dan gerakan masyarakat. Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan agar melakukan langkah positif dalam melakukan perlawanan terhadap penyakit, memiliki pemahaman yang lebih baik tentang eksistensi sistem perubahan dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien dan dapat membaca apa yang disetujui secara mandiri. 
    Faktor-faktor yang dapat memepengaruhi yaitu mengkombinasikan upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan dan kondisi dari hidup buruk menjadi hidup baik dengan keberhasilan dari promosi kesehatan dan ketepatan pemahaman dalam melakukan pendidikan kesehatan.

    • Menurut saya perilaku beresiko adalah sesuatu yang harus kita kaji agar kita bisa meng antisipasi akan risiko tersebut
      Menyikapi hal itu kita sebagai tenaga kesehatan haru bisa melakukan pendekatan secara preventif dan rehabilitaf karna hal itu akan mampu mengurangi resiko terjadinya sebuah masalah tertentu.🙏

  6. Nama:Enjel kostansa waitau
    Nim:191141018
    Mata kuliah:Pendidikan kesehatan dan promkes

    Ringkasan materi Promkes

    • Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Dari piagam populer seperti KIE(Komunikasi,kesehatan,edukasi),Social marketing(pemasaran sosial),dan mobilisasi sosial
    Dari piagam tersebut merumuskan upaya promkes mencangkup 5 butir
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Ketrampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    Promkes mempengaruhi 3 faktor,penyebab terbentuknya perilaku tersebut Green dalam yaitu:
    *Promosi kesehatan dalam faktor predisposing
    Contohnya(Pengetahuan,sikap,tingkat sosial ekonomi,adat istiadat,nilai dan norma)
    *promosi kesehatan dalam faktor enbling
    Contohnya(Akses pelayanan,sasaran dan prasasaran,dan peraturan sebagai pengikat)
    *promosi kesehatan dalam faktor reinforcing.
    Contohnya(Dukungan)

    Dari ketiga ini diharapkan dari perilaku buruk individu menjadi perilaku baik dalam sebuah kesehatan yang berkesinambungan

    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah merubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
    selain operasional tujuan pendididikan kesehatan adalah:
    1). Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2).Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara memanfaatkan dengan efektif dan efisien
    3).Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri,seperti membuang sampah pada tempatnya dan menutuo genangan air.

    •Adapun faktor yang memperngaruhi
    Dari pendapat Green dan Kreuter menyatakan bahwa promkes adalah kombinasi upaya pendidikan,kebijakan(politik),peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu,kelompok atau komunitas

    Faktor yang mempengaruhi teori Green dan kreuter adalah:
    1. Keberhasilan dalam Promkes
    2. Ketepatan atau pemahaman dalam melakukan pendidikan kesehatan.

    Terimakasih🙏.

  7. Nama : Cindy Anggita Putri
    NIM : 191141012
    Mata Kuliah : Pendidikan kesehatan dan promkes

    #Kesimpulan
    Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan promkes dan pendidikan kesehatan

    Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya- upaya pendidikan , kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu , kelompok/komunitas.
    Faktornya ada tiga yaitu
    1.presdisposing
    2. Enabling
    3. Reinforcing
    Dari ketiga faktor diatas tersebut menentukan terbentuknya yang diharapkan dari perilaku yang baik dalam sebuah kesehatan yang saling berkesinambungan.

    Sangat bermanfaat sekali materinya terimakasih pak🙏

  8. Nama : Talitha Octhaverina Budiono
    Nim : 191141068
    Mata kuliah : Promkes
    Rangkuman
    Piagam perumusan upaya promosi kesehatan :
    1 Kebijakan berwawasan kesehatan
    2 Lingkungan yang mendukung
    3 Reorientasi pelayanan kesehatan
    4 Keterampilan individu
    5 Gerakan masyarakat
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku, yaitu :
    1. Promosi kesehatan dalam faktor Predisposisi, berisi :
    – Pengetahuan
    – Sikap
    – Tingkat sosial ekonomi
    – Adat istiadat atau nilai dan norma
    – Self efficacy
    2. Promosi kesehatan dalam faktor Enabling, berisi :
    – Akses pelayanan
    – Sarana dan prasarana
    – Peraturan sebagai pengikat
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing, berisi :
    – Dukungan
    Tujuan pendidikan kesehatan : Untuk merubah perilaku individu atau masyrakat dalam bidang kesehatan.

  9. Nama : shindy larasati
    Nim: 191141062
    Mata kuliah : pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan

    Jadi kesimpulan dari materinya adalah Didalam factor pelaksanaaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan,terdapat lima upaya promosi kesehatan yaitu kebijakan berwawasan kesehatan, lingkungan yang mendukung, reorientasi pelayanan kesehatan, keterampilan individu, dan gerakan masyarakat. Pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku green yaitu promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi, promosi kesehatan dan faktor faktor enabling , promosi kesehatan dalam faktor reinforcing. ada tiga faktor dalam preset dan proset yaitu predisposing, reinforcing dan enabling.

    Terimakasih atas materinya pak🙏

  10. Nama : Satya Julianti Anggreini
    NIM : 191141060
    Mata Kuliah : Pendidikan Kesehatan dan PromKes

    Kesimpulan
    Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan promkes dan pendidikan kesehatan

    Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya- upaya pendidikan , kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu , kelompok/komunitas.
    Faktornya ada tiga yaitu
    1.presdisposing : pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat/nilai dan norma, self efficacy.
    2. Enabling : dukungan (dukungan teman sebaya, dungungan keluarga/dukungan masyarakat/dukungan kelompok).
    3. Reinforcing : akses pelayanan, sarana dan prasarana, pengaturan sebagai pengikat.
    Dari ketiga faktor diatas tersebut menentukan terbentuknya yang diharapkan dari perilaku yang baik dalam sebuah kesehatan yang saling berkesinambungan.
    TerimakKasih.

  11. Nama : ALDA PRAHTITIS APITYA SANDRA Nim : 191141004
    Matkul : pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan
    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Pada masa dahulu istilah yang terkenal adalah penyuluhan kesehatan, KIE (komunikasi, informasi,edukasi), social marketing (pemasaran sosial) serta mobilisasi sosial.
    Piagam tersebut merumuskan upaya promosi kesehatan mencakup 5 butir :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan 2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan 4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    3 Faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut green dalam yaitu :
    a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
     Pengetahuan
     Sikap
     Tingkat social ekonomi
     Adat istiadat atau nilai dan norma
     Self efficacy
    b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
     Akses pelayanan
     Sarana dan prasarana
     Peraturan sebagai pengikat
    c. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing  Dukungan
    Secara operasional tujuan pendidikan kesehatan :
    1. Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara
    memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dilakukannya secara mandiri
    Green dan keuter menyatakan bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya upaya
    pendidikan, kebijakan (politik), peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan, dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok atau komunitas”

  12. Nama. : Agung Wisnu Ryandika Putra
    Nim. : 191141002

    Ringkasan materi promkes
    Pada masa itu, isitilah yang terkenal adalah Penyuluhan Kesehatan, KIE (Komunikasi,
    Informasi dan Edukasi), Social Marketing (Pemasaran Sosial) dan Mobilitas Sosial.

    Piagam yang merumuskan upaya promosi kesehatan untuk melakukan promosi kesehatan :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    Faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dalam promosi kesehatan :
    a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
     Pengetahuan
     Sikap
     Tingkat social ekonomi
     Adat istiadat atau nilai dan norma
     Self efficacy
    b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
     Akses pelayanan
     Sarana dan prasarana
     Peraturan sebagai pengikat
    c. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing
     Dukungan

    Tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk mengubah perilaku individu atau maasyarakat dalam
    bidang kesehatan

  13. Nama :Rofiqi
    Nim : 191141056
    Mata kuliah :Promkes

    Kesimpulannya dari materi ini yaitu setiap akan melaksanakan promosi kesehatan harus memiliki, kebijakan yang berwawasan kesehatan, lingkungan yang mendukung, reorientasi pelayanan kesehatan, keterampilan individu, dan gerakan ataupun respon dari masyarakat,
    Adapun faktor yang memperngaruhi
    Dari pendapat Green dan Kreuter menyatakan bahwa promkes adalah kombinasi upaya pendidikan,kebijakan(politik),peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu,kelompok atau komunitas

  14. Nama : Revinda Navy Febrianita (191141050)
    Prodi : perawat 2B
    Mata kuliah : promkes

    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
    dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas.
    Contoh nya:
    Predisposing
    – Pengetahuan
    – Sikap
    – Tingkat sosial ekonomi
    – Adat istiadat atau nilai dan norma
    – Self Efficacy

    Reinforcing
    – Dukungan

    Enabling
    – Akses pelayanan
    – Sasaran dan Prasana
    – Peraturan sebagai pengikat

    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
    Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
    Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.

  15. Nama : Maulidatul Mas’udah
    NIM : 191141042
    Rangkuman :

    Piagam yang merumuskan upaya promkes antara lain;
    1. Kebijakan berwawasan luas
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    3 faktor penyebab terbentuknya perilaku (green) yaitu :
    1. Promkes dalam faktor predisposisi
    Kelompok faktor : pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, dan self efency
    2. Promkes dalam faktor enabling
    Kelompok faktor : akses pelayanan, sarana prasarana, peraturan yang mengikat
    3. Promkes dalam faktor ranforcing
    Kelompok faktor : dukungan

    Tujuan pendidikan kesehatan yaitu merubah perilaku individu & masyarakat dari jelek ke baik dalam meningkatkan kesehatan.

  16. Nama: Mahfudhotul jannah
    Nim: 191141040
    Mata Kuliah: promkes
    Pada masa dahulu yang terkenal adalah penyuluhan kesehatan. Piagam merumuskan upaya promosi kesehatan mencangkum 5 butir:
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    Promosi kesehatan memepengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebu:
    a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    c. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor reinforcing
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
    Faktor yang mempengaruhi:
    Green dan Kreuter mengatakan” promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu,kelompok, atau komunitas.

  17. Nama : fitria tri suntari
    Nim : 191141024
    Mata kuliah : promkes

    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam green yaitu :
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi : pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat atau nilai dan norma, self-effiency.
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling : asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat.
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing : dukungan

    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    1. Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang yang lebih baik tentang ekstensi perubahan sistem dan cara memanfaatkan dengan efektif dan efisien.
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan menurut Green dan Kreuter yaitu :
    promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok, atau komunitas.

  18. Nama : Sindi Fatika Sari
    Nim : 191141064
    Prodi : S1 Ilmu Keperawatan
    Mata kuliah : Pendidikan Kesehatan dan PromKes

    Kesimpulannya dari promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui promosi kesehatan tersebut, tujuannya mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan
    Faktor yang mempengaruhi
    Predisposing
    • Pengetahuan
    • Sikap
    • Tingkat Sosial Ekonomi
    • Adat Istiadat atau Nilai dan Norma
    • Self Efficacy Reinforcing
    • Dukungan
    Enabling ,
    • Akses Pelayanan
    • Saranan dan Prasarana • Peraturan sebagai pengikat

  19. Nama : arini
    Nim: 191141010
    Semester: 2b
    Kesimpulan dari mata kuliah hari ini Promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama agar mreka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan

  20. Nama : katarina firawati fenyapwain
    Nim :191141036
    Mata kulia : Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan

    Rangkuman untuk materi promkes:

    Pada masa itu, istilah yang cukup terkenal hanyalah penyuluhan kesehatan, setelah itu muncul pula istilah populer lain seperti KIE (komonikasi, informasi,dan edukasi) . Sosial marketing, pembahasan sosial dan mobilitas sosial.

    Dan ada pula faktor-faktor yang memengaruhi yaitu ada 3 faktor:
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enqbling
    3. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor reinforling

    Dan tujuannya: dari pendidikan kesehatan dapat merubah perilaku individu dan masyarakat untuk bisa merubah perilaku kita dalam suatu bidang kesehatan.

    Terimakasih pak atas ilmu yang pak berikan semoga ilmu yang kami pelajari ini bisa bermanfaat bagi kami semua🙏😊

  21. NAMA : Rosa yulita
    NIM : 191141058
    TUGAS : Pendidikan kesehatan dan Promkes

    Kesimpulan adalah promosi kesehatan adalah peraturan dan kegiatan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan terhadap individu, kelompok maupun komunitas dan terdapat beberapa faktor yaitu predisposisi, enabling dan reinforcing dari ketiga faktor diatas menentukan terbentuknya perilaku yang di harapkan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebuah kesehatan yang berkesinambungan.

  22. Nama : Rahma Shavira ardana
    Nim : 191141048
    Mata kuliah : promkes
    Faktor memepengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan.
    Piagam yang merumuskan promkes mencakup 5 butir :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2.lingkungan yg mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan.
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat.
    Tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu /masyarakat dalam bidang kesehatan.
    Menurut green dan kreuter menyatakan bahwa ” promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan(politik), peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan dan kondisi yg menguntungkan kesehatan individu, kelompok atau komunitas.

  23. Nama: fersalin Oktovina umbora
    Nim:191141020
    Mata kuliah:promkes
    Kesimpulan nya yaitu:
    Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri. Promosi kesehatan juga merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan padamasa lalu, di mana dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat dalam hal pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan saja, melainkan juga upaya bagaimana mampu menjembatani adanya perubahan perilaku seseorang.
    Promosi kesehatan ini memiliki beberapa tujuan berupa tujuan program, tujuan pendidikan, tujuan perilaku. Serta sasarannya adalah Sasaran primer (pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat), sasaran sekunder (mempengaruhi sasaran primer), sasaran tersier (para pembuat kebijakan public). Jenis promosi kesehatan meliputi pemberdayaan massyarakat, pemgembangan kemitraan, upaya advokasi, pembinaan suasana, pemgembangan SDM, pengembangan IPTEK, pengembangan media dan sarana, dan pengembangan infrastruktur.

  24. NAMA : Rosa yulita
    NIM : 191141058
    TUGAS : Pendidikan kesehatan dan Promkes

    Kesimpulan adalah promosi kesehatan adalah peraturan dan kegiatan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan terhadap individu, kelompok maupun komunitas dan terdapat beberapa faktor yaitu predisposisi, enabling dan reinforcing dari ketiga faktor diatas menentukan terbentuknya perilaku yang di harapkan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebuah kesehatan yang berkesinambungan.

  25. Nama: Devi insulina br Sinulingga (191141016)
    Prodi:S1 Ilmu keperawatan
    Mata kuliah : promkes
    Kesimpulan

    Faktor yang mempengaruhi:
    Promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran masyarakat untuk dapat mengatur diri sendiri.
    1.predisposting factors
    Faktor yang mempermudah dan mendasari terjadinya prilaku tertentu.
    Pengetahuan,sikap,nilai nilai budaya,persepsi.
    2.reinforcing fakctor
    Faktor yang memperkuat untuk terjadinya prilaku tersebut.
    Pendapat,dukung sosial,pengetahuan teman,sekerja atau lingkungan juga saran,umpan balik.
    3. Enabling : dukungan (dukungan teman sebaya, dungungan keluarga/dukungan masyarakat/dukungan kelompok).
    Trimakasih

  26. NAMA : Rosa yulita
    NIM : 191141058
    TUGAS : Pendidikan kesehatan dan Promkes

    Kesimpulan adalah promosi kesehatan adalah peraturan dan kegiatan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan terhadap individu, kelompok maupun komunitas dan terdapat beberapa faktor yaitu predisposisi, enabling dan reinforcing dari ketiga faktor diatas menentukan terbentuknya perilaku yang di harapkan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebuah kesehatan yang berkesinambungan.

  27. Nama: Devi Insulina br Sinulingga(191141016)
    Prodi: S1 Ilmu keperawatan
    Matakuliah : promkes

    Kesimpulan:
    Faktor yang mempengruhi pelaksanaan promosi kesehatan.
    1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Promosi Kesehatan1.
    Predisposing Factors (Faktor Predisposisi)
    Faktor yang mempermudah dan mendasari untuk terjadinya perilaku tertentu. Yangtermasuk dalam kelompok faktor predisposisi:
    Pengetahuan
    Sikap
    nilai-nilai budaya
    persepsiFaktor pedisposisi juga dipengaruhi beberapa karakteristik individu:
    umur
    jenis kelamin
    tingkat pendidikan
    pekerjaanContoh:
    2.Reinforcing Factor (Faktor Penguat)
    Faktor yang memperkuat (atau kadang-kadang justru dapat memperlunak) untukterjadinya perilaku tersebut. Atau bisa diartikan sebagai faktor penguat bagi seseoranguntuk mengubah perilaku seperti tokoh masyarakat, undang-undang, peraturan-peraturandan surat keputusan. Kelompok faktor penguat meliputi
    Pendapat
    dukungan sosial
    pengaruh teman
    kritik baik dari teman-teman sekerja atau lingkungan bahkan juga saran.
    3. Enabling Factors (Faktor Pemungkin
    Akses Pelayanan
    Saranan dan Prasarana • Peraturan sebagai pengikat

  28. Nama:Fina Rohmatul Ummah
    Nim:191141022
    Mata kuliah:promkes
    Kesimpulan nya yaitu:
    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan :
    dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas”

  29. Nama : Suciana
    Nim : 191141066
    Kesimpulannya :
    Didalam promosi kesehatan tidak lepas dari piagam yang merumuskan promosi kesehatan yang mencakup 5 butiran :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku :
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing

    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.

    Green dan Kreuter mengatakan bahawa harus ada kombinasi antara berbagai macam stikfolder untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan yang lebih optimal di masyarakat

    1. Predisposing
    2. Reinforcing
    3. Enabling

  30. Nama: Devi Insulina br Sinulingga(191141016)
    Prodi :S1 ilmu keperawatan
    Matakuliah : promkes
    Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual.
    Tujuan Promosi Kesehatan
    – Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.

    – Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.

    Sasaran Promosi Kesehatan
    Secara prinsipil, sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat. Masyarakat dapat dilihat dalam konteks komunitas, keluarga maupun individu. Sasaran promosi kesehatan juga dapat dikelompokkan menurut ruang lingkupnya, yakni tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan institusi pelayanan kesehatan.

  31. Nama : riandani fadilah sae
    Nim : 191141052
    Kesimpulan : piagam yang merumuskan promkes mencakup 5 butir :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    Kelima butir ini merupakan bagian integral promkes
    Dan adapun tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
    Menurut green dan kreuter : promkes adalah kombinasi antara pendidikan, kebijakan (politik), peraturan harus sinkron untuk menciptakan kesejahteraan yang optimal.
    Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi :
    1. Predisposing
    -pengetahuan
    -sikap
    -tingkat sosial ekonomi
    -adat istiadat / nilai dan norma
    -self efficacy : melihat seberapa besar kepercayaan tentang kesehatan
    2. Reinforcing :
    -dukungan
    3. Enabling :
    -akses pelayanan
    -sarana dan prasarana
    -peraturan sebagai pengikat

  32. Nama : Maulidatul M M
    Nim : 181141025
    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba di tinjau daru pencegahan primer preventive, secundere preventive, thersier preventive

    Upaya pencegahan meningkatkan pengetahuan, kemampuan diri (knowled and skill) dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat. Upaya peningkatan pengetahuan dikenal KIE (konfirmasi, informasi, dan edukasi)

    Ada tiga pencegahan hiv/aids
    1.Pencegahan pertama (primer)
    Pencegahan primer ini pencegahan tahap awal. Dan sasarannya orang yang sehat dan rentan. Dengan tujuan merubah perilaku. Disini menghindari orang dari orang yang sehat menjadi sakit. Atau menjaga seseorang yang sehat tetap sehat. Pencegahan disini penting untuk menjaga kualitas hidup orang yang terkena dampak infeksi ulang, depresi. Kekebalan tubuh menurun.
    2. Pencegahan kedua (secunder)
    Pencegahan sekunder ini mencangkup aspek sehat dan kemampuan perilaku yang aman untuk diri sendiri. Sasaran pencegahan ini untuk orang yang sudah mengidap HIV/AIDS untuk mencegah kematian akibat menurunnya sistem imun yang progresif dan muncul berbagai infeksi oporturnistik.
    3. Pencegahan ketiga (tersier)
    Pencegahan ini sasarannya odha yang perlu dukungan psikososial agar melakukan aktivitas seperti semula / seoptimal mungkin. Seperti membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya.

    Pencegahan NAPZA
    1. Primer prevention ( pencegahan pertama)
    Pencegahan disini sasarannya masyarakat yang sehat dan rentan terkena penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan disini menanamkan perilaku yang sehat. Dengan pemberian pengetahuan, pemahaman dan pendidikan tentang dampak narkoba, dan penyalahgunaan NAPZA. Dengan cara penyuluhan, iklan dll.
    2. Pencegahan sekunder
    Sasarannya orang yang menggunakan narkoba atau penyalahgunaan narkoba secara coba coba. Agar dapat berhenti menyalahgunakan narkoba lagi. Disini perlu melakukan deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba. Konseling, bimbingan sosial melalui kunjungan rumah. Dengan bantuan masyarakat keluarga dan orang sekitar.
    3. Pencegahan tersier
    Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari oenyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba

    Pencegahan disini memang harus melihat sasaranyaa jgan sampek salah sasaran. Seperti orang mantan pengguna narkoba kita malah menggunakan pencegahan primer. Ya otomatis pencegahan ini tidak berfungsi untuk targetnya. Bisa jadi target yang kita akan tangani malah lebih paham dari pada kita 🙂

  33. Nama : Siti Nurannisa
    Nim : 181141037
    Pencegahan HIV AIDS dan narkoba ditinjau dari Primary prevention,Secondary Prevention dan Tertiary Prevention
    – Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan skill dan pengetahuan dengan cara metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
    Penyebaran pengetahuan
    1. Formal
    2. Non Formal
    -Upaya peningkatan dikenal (KIE = Komunikasi Informasi dan Edukasi )
    -Selama kita mau melakukan pendekatan kita harus mendepankan keterampilan maupun pengetahuan
    -Upaya yang dilakukan untk menghambat penyebaran HIV
    a.Meningkatkan pelaksanaan komunikkasi
    b.Mengurangi Kerentanan
    ex : penggunaan kondom
    c.Meningkatkan penggunaan kondom
    (kondom ini digunakan untuk menghambat proses pembuahan )
    d.Meningkatkan sediaan darah yang aman
    e.Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    f.Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dr ibu kebayi
    g.Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama sama (universal) dan berkelanjutan (untuk menghambat penyebaran HIV harus mengedepankan beberapa program
    ex : komunikasi yang efektif pada orang-orang beresiko yang tinggi
    -Pencegahan HIV AIDS
    a.Primer (Tingkat pertama) = perubahan perilaku
    -Upaya agar orang sehat tetap sehat dan mencegah orang sehat menjadi sakit
    -Dengan Mencegah infeksi ulan (penyakit oportunistik,depresi,dan kekebalan tubuh rendah
    1.Melalui hub seksual = tidak melakukan hub seksual
    2.Melalui darah
    3.Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    b.sekunder (membantu individu yang sudah positif HIV)
    -Mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada (kecukupan tingkat informasi,harga diri,dukungan teman sebaya,pengakuan hak)
    -Hiv membuat turunnya imun secara progresif lalu muncul berbagai infeksi oportunistik dan akan berakhir kematian
    -Penobatan HIV AIdS :
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik
    c.Tersier
    -Memberikan dukungan psikososial agar dapat melakukan aktivitas sesuai semula
    Ex :
    a.Membolehkan membicarakan hal hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya
    b.Membangkitkan harga dirinya = melihat keberhasilan hidupnya/mengenang masa lalu yang indah
    c.Menerima perasaan marah , sedih,atau emosi
    d.Mengajarkan keluarga untuk menghambil hikmah dan tidak menyalahkan diri sendiri
    e.Perawatan paliatif (psien tidak dapat disembuhkantahap terminal)mencakup :
    kenyamanan (relaksasi dan distraksi)
    menjaga pasien tetap bersih dan kering
    Memberikan toleransi max kepada keluarga/pasien
    Pengelolaan nyeri (relaksasi,pemijatan,distraksi)
    persiapan menjelang kematian (penjelasan memadai ttg keadaan penderita)
    -Pencegahan NAPZA
    Primary prevention
    1.pencegahan dilakukan untuk memberikan peningkatan pemahaman kpd komponen masyarkat yg berpotensi. Kegiatan berupa :
    a.Penyuluhan dampak narkoba
    b.Pemberian berbagai macam iklan/sumber media bahay narkoba
    c.Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba
    Secondary Prevention
    -pencegahan yang dilakukan pada penyalagunaan yang coba coba,masyrakat Dapat membantu agar berhenti. Kegiata berupa :
    a.Deteksi dini anak penyalahgunaan narkoba
    b. Konseling
    c.Bimbingan social=kunjungan rumah
    d.Pemebrian informasi pada media,harapan=pengembangan individu
    e.Life skill : skill komunikasi,skill menolak tekanan org lain
    Tertiary prevention
    -dilakukan pada orang yang menggunakan narkoba atau mantan pengguna. Kegiatan berupa :
    a.Konselingdan bimbingan social ke pengguna,keluarga serta lingkungannya
    b.Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar tidak terjerat lagi.
    Pencegahan untuk faktor dari luar individu (lingkungan keluarga tidak sakinah,lingkungan sekolah,lingkungan masyarakat).
    1.Program informasi kuat bahaya bahaya narkoba
    2.Program pendidikan efektif melihat seberapa care terhadapa narkoba
    3. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    ex : membentuk duta narkoba
    4.Pengenalan Diri dan intervensi dini
    5.Program pelatihan ketrampilan psikososial karena orang pengguna ada gangguan di psiko

  34. Nama: Dela Fika Ashari
    Nim: 181141006
    Mata Kuliah HIV AIDS
    PENCEGAHAN HIV AIDS

    Upaya pencegahan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan dengan cara yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat. Penyebaran bisa dilakukan secara formal ataupun non formal. Upaya untuk menghambat HIV dianatranya meningkatkan pelaksanaan komunikasi, mengurangi kerentanan, meningkatkan pemakaian kondom dan sediaan darah yang aman. Menurunkan IMS, meningkatkan pencegahan penularan hiv melalui bayi dari ibu. Serta untuk menghambat pencegahan adalah dengan komunikasi yang baik.
    Pencegahan primer adalah upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah sakit. Pencegahan ini untuk menjaga kualitas hidup orang terkena opurtunistik, depresi, tingkat kekebalan tubuh rendah untuk bertanggung jawab terhadap orang lain melalui hubungan seks, darah, ibu terinfeksi pada bayi.. pencegahan yang dilakuakan pada masyarakat dengan kegiatan apa yang dilakuakan penyuluham dampak narakoba, iklan bahaya narkoba, Pendidikan bahaya narkoba.
    Pencegahan sekunder adalah mencangkup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka dan orang lain. Pengobatan hiv dapat dibagi atas kelompok suportif dan infeksi oportunistik. Tindakan yang dilakuakan untuk pencehan ini detesi dini anak, konseling, kunjungan rumah, mengambil keputusan dengan baik.
    Pencegahan tersier adalah pencegahan yang diberikan pada ODHA dengan dukungan psikososial agar dapat melakukan aktifitas. Misalnya memperbolehlan berbicara banyak hal, menerima perasaan mereka, mengambil hikmah, menjaga pasien tetap bersih kering dan pengolaan nyeri bagi pasien yang tidak dapat disembuhkan. Pencegahan pada orang yang menggunakan narkoba dengan kegiatan konseling kepada pengguna serta kelompok lingkunga, menciptkan lingkungan yang kondusif bagi bekas pecandu agar tidak tersisishkan. Dengan program informasi, Pendidikan efektif, penyediaan pilihan yang bermakna, pengenalan diri, pelatian keterampilann psikososial

  35. Nama: Restu Baitumah Eka Wardani
    NIM: 181141031
    Matkul: HIV/AIDS

    Pencegahan hiv aids dan narkoba primer skunder tersir
    Upaya pencegahan dgn meningkatkan keterampilan,pengetahuan degn cara sesuai kepercayaan dan budaya setempat.upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal (KIE)
    1.Pencegahan primer: pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat dan orang sakit tetap sakit.pencegahan primerr merupakan hal paling penting terutama dalam hal merubah prilaku seseorang.
    2.pencegahan sekunder: mencakup aspek kesehatan dan kemanusian prilaku yang aman untuk diri kita sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan dan tingkat informasi,harga diri,dukungan temam sebaya,pengakuan hak
    3.pencegahan tresler:ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan pesikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula/seoptimal mungkin
    4.pencegahan napza:
    -primary prevention
    -secundary prevention
    -teretiary prevention
    Faktor yang berasal dari lingkungan dari individu seperti kluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak mewadahi lingkungan masyarakat

  36. NAMA:Uswatun Hasnah
    NIM:181141042
    Matakuliah: HIV/AIDS

    “PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA DI tinjau dari primary prevention,secondary prevention,dan tertiary prevention”
    • Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan(skill)dan pengetahuan(knowledge)dengan cara atau metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
    • Penyebaran pengetahuan melalui pendikan formal dan non formal
    • Upaya peningkatan pengetahuannya dengan cara komunikasi,informasi,dan edukasi.
    • Upaya untuk menghambat penyebaran HIV antara lain:
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi.
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom.
    4. Meningkatkan kesediaan darah yang aman.
    5. Menungkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksua.
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama(universal)dan berkelanjutan.

    • Pencegahan HIV AIDS
    1.) Pencegahan Primer
    Merupakan upaya untuk mencegah orang sehat menjadi sakit,seperti penyakit oportunistik,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah.
    -Upaya dan sikap tanggung jawab terhadap orang lain untuk mencegah penularan HIV AIDS diantaranya:
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah.
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada ibunya.
    2.) Pencegahan Skunder
    Untuk mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi,harga diri,dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    -Infeksi HIV AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara fogresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
    – Pengobatan HIV AIDS dibagi dalam 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik.
    3.) Pencegahan Tersier
    Adalah dukungan berupa psikosional agar penderita dapat melakukan aktivitas sepertti semula misalnya:
    a. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan persaannya.
    b. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
    c. Menerima perasaan marah,sedih,atau emosi dan reaksi lainnya.
    d. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah,dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    e. Memberikab perawatan paliatif.

    •Pencegahan NAPZA
    1.) Primary Prevention
    a. Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba.
    b. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba.
    c. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik dan bahaya narkoba.
    d. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    2.) Secondary Prevention
    Adalah pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba.
    – Upaya pencegahannya antara lain:
    1. Deteksi diri anak yang menyalahgunaan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill,antara lain tentang keterampilan berkomunikasi,keterampilan menulak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
    3.) Tertiary Prevention
    Merupakan Pencegahan bagi Orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah menjadi mantan pengguna narkoba.
    – Upaya pencehannya antara lain:
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
    -Faktor yang berasal dari luar individu seperti keluarga yang tidak sakinah,lingkungan sekolah yang tidak memadai,lingkungan masyarakat dan nilai obat zat.
    – Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangannga antara lain:
    1. Program informasi
    2. Program pendidikan efektif
    3. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial.

  37. Nama: Lailatun Ni’mah
    NIM: 181141019
    Mata Kuliah: HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, Ditinjau dari Primary prevention, Secondary prevention, Tetiary Prevention

    Upaya pencegahan adalah melakukan pendekatan kepada kelompok/masyarakat tertentu untuk melakukan sebuah penyuluhan yang mengedepankan tentang pengetahuan dengan pendekatan KIE (komunikasi, informasi, edukasi)

    Upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan
    Untuk menghambat prevalensi HIV/penyebaran HIV kita harus mengedepankan beberapa program salah satunya adalah komunikasi. Bagaimana caranya kita melakukan komunikasi efektif kepada kelompok beresiko tinggi. Bagaimana caranya kita mengurangi kerentanan tersebut. Yaitu dengan cara penggunaan kondom, biasanya kondom hanya digunakan sebagai alat pencegah kehamilan (KB)

    Pencegahan HIV
    Primer : Upaya agar orang yang sehat tetap sehat dan mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
    Jenis- jenis pencegahannya yaitu:
    1. Melalui seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    Sekunder: melakukan sebuah pencegahan melalui aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV dibagi menjadi 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik
    Tersier: ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapan melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.

    Pencegahan NAPZA
    Primer: suatu pencegahan untuk memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang berpotensi
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    2. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik tentang bahaya narkoba
    3. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya narkoba (memberikan edukasi/penyuluhan kepada remaja awal-akhir)
    Sekunder: melakukan pencegahan kepada seseorang yang menggunakan narkoba secara coba-coba. Bisa dibantu oleh masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti menyalahgunakan narkoba
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah (door to door)
    4. Pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill : keterampilam berkomunikasi, monolak tekanan orang lain, keterampilan mengambil keputusan dg baik
    Tersier: adanya keikutsertaan pecandu narkoba dan mantan pengguna narkoba melalui peer group/teman sebaya. Pendekatan tersebut diharapkan individu yang masih menggunakan narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba lagi.
    Kegiataan yang dilakukan yaitu
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak kembali menggunakan narkoba. Jadi sikap masyarakat yang mendukung untuk tetap bersosialisasi dengan mereka

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pencegahannya yaitu:
    1. Program informasi yang kuat terhadap bahaya yang terjadi akibat narkoba
    2. Program pendidikan efektif dengan melihat seberapa tingkat pemahaman mengenai narkoba
    3. Program penyediaan pilihan ynag bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial

  38. Nama : Roynaldi iqbal ramadhan
    Nim : 181141032
    Matakuliah : HIV AIDS

    ” Pencegahan HIV AIDS dan NARKOBA , Ditinjau dari primary prevention, secondary prevention dan Tertiary prevention ”

    Upaya pencegahan yaitu adalah dengan meningkatkan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dengan cara/metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat . penyebaran pengetahuan melalui pendidikan formal dan non formal merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Upaya peningkatan pengetahuan dikenal istilah KIE
    (Komunitas, informasi, edukasi )

    Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV yaitu:
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanaan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan median darah yang aman
    5. meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual

    Pencegahan primer
    pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau pencegahan orang sehat menjadi sakit.
    Jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk menjaga kualitas hidup seperti pencegahan infeksi ulang, penyakit oportunitik, depresi, dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah dan untuk merangsang dalam sikap bertanggung jawab kepada orang lain.

    Pencegahan sekunder
    pencegahan sekunder mencangkup aspek kesehatan dan kemampuan perilaku yang aman untuk dari mereka sendiri dan orang lain.
    Infeksi HIV atau AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik

    Pencegahan tarsier
    ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.
    a. Memperboleh kan nya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya
    b. Menerima perasaan marah sedih atau emosi dan reaksi lainnya
    c. Membangkitkan harga diri dengan melihat keberhasilannya

    Selain itu perlu diberikan perawatan penotif kepada pasien yang tidak dapat disembuhkan
    Premier :
    Pencegahan nafza
    1. Memberikan peningkatan, pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba
    2. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik

    Sekunder:
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial (kunjungan rumah)
    4. Pemberian informasi

  39. Nama: Restu Baitumah Eka Wardani
    NIM: 181141031
    Matkul: HIV/AIDS

    Pencegahan hiv aids dan narkoba primer skunder tersir
    Upaya pencegahan dgn meningkatkan keterampilan,pengetahuan degn cara sesuai kepercayaan dan budaya setempat.upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal (KIE)
    1.Pencegahan primer: pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat dan orang sakit tetap sakit.pencegahan primerr merupakan hal paling penting terutama dalam hal merubah prilaku seseorang.
    2.pencegahan sekunder: mencakup aspek kesehatan dan kemanusian prilaku yang aman untuk diri kita sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan dan tingkat informasi,harga diri,dukungan temam sebaya,pengakuan hak
    3.pencegahan tresler:ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan pesikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula/seoptimal mungkin
    4.pencegahan napza:
    -primary prevention
    -secundary prevention
    -teretiary prevention
    Faktor yang berasal dari lingkungan dari individu seperti kluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak mewadahi lingkungan masyarakat

  40. Nama : Siti Aisyah
    Nim :181141036
    Mata kuliah : HIV AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba ditinjau dari pencegahan primer ,sekunder dan tersier.

    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dgn cara yg sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat .
    # berikut upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    – Seperti meningkatkan penggunaan kondom, meningkatkan Pelaksanaan komunikasi, meningkatkan sediaan darah yang aman serta meningkatkan tindakan pencegahan penularan hiv terhadap ibu dan bayi . Juga upaya mencegah agar orang yang sehat tidak sakit , serta pencegahan dengan cara melihat aspek kemanusian . Untuk pengobatan hiv aids ada dibagi menjadi 2 yaitu (pengobatan suportif & pengobatan infeksi opurtunistik)
    Upaya pencegahan tersier disini dengan memberikan dukungan psikososial agar oenderita bisa melakukan aktivitas seperti semula, serta membangkitkan harga dirinya .
    # pencegahan Napza
    Pencegahan primer
    Pencegahan ini dilakukan untuk memberi peningkatan pengetahuan kepada masyarakat sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba , yakni dengan dilakukan penyuluhan terkait dampak dan bahaya dari narkoba.
    Pencegahan Sekunder
    Yakni dengan dilakukannya deteksi dini anak yg menyalahgunakan narkoba , melakukan konseling serta memberi bimbingan social melalui kunjungan rumah .
    Pencegahan Tersier
    Pencegahan ini dilakukan pada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yg pernah atau mantan pengguna narkoba. Kegiatan yg dilakukan yakni menciptakan lingkungan yg kondusif bagi yg pernah Pengguna agar tidak terjerat untuk kembali menjadi pengguna lagi.

  41. Nama : Ainina Shalsa Ifada
    Nim : 181141051
    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba di tinjau daru pencegahan primer preventive, secundere preventive, thersier preventive

    Upaya pencegahan meningkatkan pengetahuan, kemampuan diri (knowled and skill) dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat.
    Upaya peningkatan pengetahuan dikenal KIE (konfirmasi, informasi, dan edukasi)

    Ada tiga pencegahan hiv/aids
    1.Pencegahan pertama (primer)
    2. Pencegahan kedua (sekunder)
    3. Pencegahan ketiga (tersier)
    Pencegahan ini sasarannya odha yang perlu dukungan psikososial agar melakukan aktivitas seperti semula / seoptimal mungkin. Seperti membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya.

    Pencegahan NAPZA
    1. Primer prevention ( pencegahan pertama)
    Pencegahan disini sasarannya masyarakat yang sehat dan rentan terkena penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan disini menanamkan perilaku yang sehat. Dengan pemberian pengetahuan, pemahaman dan pendidikan tentang dampak narkoba, dan penyalahgunaan NAPZA. Dengan cara penyuluhan, iklan dll.
    2. Pencegahan sekunder
    Sasarannya orang yang menggunakan narkoba atau penyalahgunaan narkoba secara coba coba. Agar dapat berhenti menyalahgunakan narkoba lagi. Disini perlu melakukan deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba. Konseling, bimbingan sosial melalui kunjungan rumah. Dengan bantuan masyarakat keluarga dan orang sekitar.
    3. Pencegahan tersier
    Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari oenyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba

    Pencegahan disini memang harus melihat sasaranyaa jgan sampek salah sasaran. Seperti orang mantan pengguna narkoba kita malah menggunakan pencegahan primer.

  42. Nama: Halisa
    Nim: 181141013
    Mata Kuliah HIV AIDS
    PENCEGAHAN HIV AIDS

    Ada tiga pencegahan hiv/aids
    1.Pencegahan pertama (primer)
    Pencegahan primer ini pencegahan tahap awal. Dan sasarannya orang yang sehat dan rentan. Dengan tujuan merubah perilaku. Disini menghindari orang dari orang yang sehat menjadi sakit. Atau menjaga seseorang yang sehat tetap sehat. Pencegahan disini penting untuk menjaga kualitas hidup orang yang terkena dampak infeksi ulang, depresi. Kekebalan tubuh menurun.
    2. Pencegahan kedua (secunder)
    Pencegahan sekunder ini mencangkup aspek sehat dan kemampuan perilaku yang aman untuk diri sendiri. Sasaran pencegahan ini untuk orang yang sudah mengidap HIV/AIDS untuk mencegah kematian akibat menurunnya sistem imun yang progresif dan muncul berbagai infeksi oporturnistik.
    3. Pencegahan ketiga (tersier)
    Pencegahan ini sasarannya odha yang perlu dukungan psikososial agar melakukan aktivitas seperti semula / seoptimal mungkin. Seperti membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya.

    Pencegahan NAPZA
    1. Primer prevention ( pencegahan pertama)
    Pencegahan disini sasarannya masyarakat yang sehat dan rentan terkena penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan disini menanamkan perilaku yang sehat. Dengan pemberian pengetahuan, pemahaman dan pendidikan tentang dampak narkoba, dan penyalahgunaan NAPZA. Dengan cara penyuluhan, iklan dll.
    2. Pencegahan sekunder
    Sasarannya orang yang menggunakan narkoba atau penyalahgunaan narkoba secara coba coba. Agar dapat berhenti menyalahgunakan narkoba lagi. Disini perlu melakukan deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba. Konseling, bimbingan sosial melalui kunjungan rumah. Dengan bantuan masyarakat keluarga dan orang sekitar.
    3. Pencegahan tersier
    Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari oenyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba

    • Nama: Elisabeth de Rosa soares
      Nim: 181141009
      Mata kuliah : Hiv/aids

      Upaya pencegahan adalah dengan meninakatkan ketrampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dengan cara/Incgode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat Penyebaran pengelahuan melalui pendidlkan formal dan non formal merupakan salah salu altenalif yang dapat dipilih. Upaya peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE (Komunikasi, lnformasi dan Edukasi).
      Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah

      1. Meningkatkan pelaksanaan Komunikasi

      2. Mengurangi kerentanan

      3. Meningkatkan penggunaan kondom

      4. Meningkatkan sediaan darah yang aman

      5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi Infeksi Menular Seksual

      6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi

      7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan.
      Pencegahan HIV/AIDS

      Pencegahan Primer

      Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling penting. terutama dalam merubah perilaku.

      Jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk menjaga kualitas hidup orang-orang terkena dampak dengan infeksi ulang.

      penyakit oportunistik depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah dan untuk merangsang di dalamnya sikap bertangung jawab terhadap orang lain

      1.Melalui hubungan seksual
      2.Melalui darah
      3.Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.
      Pencegahan HIV/AIDS

      Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkak infomasi, harga diri. dukungan teman sebaya. dan pengakuan hak.

      lnfeksi HIV/ AIDS menyebabkan menurunnya sistem lmun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian Sementara itu hingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yang efektif sehingga pengobatan HIV AIDS dapat dibagi dalam tiga kelompok sebagai berikut :
      1. Pengobatan suportif
      2. Pengobatan infeksi oportunistik.
      Pencegahan HlV/AIDS

      Pencegahan tersier

      ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukugan psikososial agar penderita
      dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal munking. misalnya
      1. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan
      mengungkapkan perasaannya.

      2. Menbangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
      3.Menerima perasaan marah, sedih atau emosi dan reaksi Iainnya.
      4. mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengadalikan diri Dan tidak menyelahkan diri atau orang lain.
      5.selain itu perlu diberikan perawatan paliatif (bagi pasien yang tidak dapat disembuhkan atau sedang tahap terminal)  yang mencakup, pemberiaan kenyamanan (seperti relaksasi dan distraksi. menjaga pasien tetap  bersih dan tetap kering , memberi toleransi maksimsal terhadap permitaan pasien atau keluarga) pengelolaan nyeri (bisa dilakukan dengan teknik relaksasi, pemijatan distraksi meditasi maupun pengobatan antiNyeri), persiapan menjelang kematiaan meliputi penjelasan yang memadai tentang keadaan  penderita, d’an bantuan mempersiapkan pemakaman.
      Pencegahan NAPZA

      primary Prevention
      1.Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalagunaan narkoba.
      kegiataan yang kemungkinan dapat dilakukan antara lain:
      2. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
      3. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
      4. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
      Pencegahan NAPZA
      Secondary Prevention

      Dalam melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalagunaan narkoba secara coba-coba. Dan dibantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membamu agar bisa berhenti dari penyalagunaan narkoba pada indvidu tertentu. kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut adalah:
      1.Deteksi dini anak yang menyalagunakan narkoba
      2. Konseling
      3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
      4. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan Invidu
      5. life skill antara lain tentang ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan menolak tekanan orang lain dan ketrampilan mengambil keputusan dengan baik.
      Pencegahan NAPZA
      Tertiary Prevention
      Pencegahan ini dilakukan kepada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna
      narkoba, serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba dan membantu bekas korban naroba untuk dapat menghindari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
      1.KonseIing dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungunnya
      2.Menciptakan Iingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
      Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah Iingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat.Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:
      1. Program Informasi
      2.Program Pendidikan Efektif
      3.Program Penyediaan Pilihan Yang Bermakna
      4. Pengenalan Diri dan lntervensi Dini
      5. Program Pelatihan Ketrampilan Psikososial.

  43. Nama : Nurul Azizah
    NIM : 181141027
    Mata kuliah : keperawatan HIV dan AIDS

    Pencegahan HIV Aids dan narkoba ditinjau dari prionary prevention(primer), secondary presention(sekunder), tertinary prevention(tersier)

    Upaya pencegahan = meningkatkan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dengan metode sesuai dg kepercayaan dan kebudayaan masyarakat
    Pengetahuan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) bisa didapat melalui pendidikan formal maupun non formal

    Upaya menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yg aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan bersama (universal) dan berkelanjutan

    Pencegahan HIV Aids
    1. Pencegahan primer = tingkat pertama
    Merupakan suatu upaya agar orang sehat tidak sakit, mencegah orang sehat jadi sakit
    Pencegahan primer yg paling penting adalah merubah perilaku
    Pencegahan ini bertujuan untuk menjaga kualitas hidup terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang, penyakit opurtunistik, depresi, dan tingkat kekebalan tubuh rendah untuk merangsang sikap tanggung jawab terhadap orang lain :
    a. Melalui hubungan seksual
    b. Melalui darah
    c. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    2. Pencegahan sekunder mencakup askep kesehatan dan perilaku yang aman untuk diri sendiri dan orang lain
    Pencegahan sekunder tergantung pada informasi yang didapat, harga diri, teman sebaya, serta pengakuan hak
    Infeksi HIV menyerang imunitas dan membuat imunitas menurun sehingga muncul berbagai penyakit yg dapat menyebabkan kematian. HIV blm ada obat ataupun vaksin yg dapat menyembuhkan, hanya saja dibantu ARV yg untuk mengendalikan virus agar tidak mengalami pembludakan dalam darah. Krn tidak ada nya obat yg efektif muncul pengobatan diantaranya dibagi dalam beberapa kelompok :
    a. Pengobatan supportif
    b. Pengobatan infeksi opurtunistik
    3. Pencegahan tersier = pemberian dukungan psikososial kepada ODHA agar mampu beraktivitas seperti semula
    a. Memperbolehkan membicarakan hal hal tertentu atau mengungkapkan perasaannya
    b. Membangkitkan harga diri dg mengenang masa lalu yg indah atau pencapaian diri
    c. Menerima perasaan sedih, marah, emosi dll
    d. Mengajarkan kepada keluarga untuk menerima agar tidak menyalakan diri sendiri ataupun orang lain
    e. Memberikan perawatan paliatif (yg tidak dpt disembuhkan dan dalam tahap terminal) yg mencakup kenyamanan (distraksi, relaksasi, tubuh tetap bersih, memberikan toleransi terhadap permintaan pasien/keluarga), pengelolaan nyeri (teknik distraksi, relaksasi, atau pemberian anti nyeri analgetik), persiapan kematian meliputi penjelasan mengenai keadaan penderita dan bantuan mempersiapkan pemakaman

    Pencegahan napza
    1. Pencegahan primer (primary prevention)
    a. Memberikan peningkatan pemahaman kepada masyarakat yg berpotensi sebagai bentuk pencegahan penyalahgunaan narkoba
    b. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    c. Pemberian iklan sumber elektronik tentang bahaya narkoba
    d. Pemberian edukasi terkait dampak dan bahaya narkoba
    2. Pencegahan sekunder (secondary prevention)
    Pencegahan yg dilakukan pada individu yg melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba coba, dibantu oleh masyarakat yg berpotensi dapat membantu individu untuk berhenti dari penyalahgunaan narkoba, dengan upaya kegiatan :
    a. Deteksi dini anak yg melakukan penyalahgunaan narkoba
    b. Konseling
    c. Bimbingan sosial dengan kunjungan rumah
    d. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    e. Life skill seperti komunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain, dan keterampilan mengambil keputusan
    3. Pencegah tersier (tertiary prevention)
    Pencegahan ini untuk orang yang sedang dalam menggunakan narkoba, yg pernah, atau mantan narkoba, dimana komponen masyarakat berpotensi untuk membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba, dan membantu bekas narkoba untuk menghindari, kegiatannya upaya pencegahan meliputi :
    a. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    b. Menciptakan lingkungan yg kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat kembali

    Faktor faktor penyebab
    1. Berasal dari luar individu meliputi keluarga yang tidak harmonis, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat. Pencegahannya
    a. Program informasi
    b. Program pendidikan efektif
    c. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    d. Pengenalan diri dan intervensi dini
    e. Program pelatihan ketrampilan psikososial

  44. Nama: imam sibroh M
    Nim: 181141016
    Mata kuliah: HIV AIDS
    Pencegahan HIV AIDS dan NARKOBA
    upaya pencegahan dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
    Pencegahan nya di bagi menjadi tiga bagian
    1- pencegahan primer
    2- pencegahan sekunder
    3- pencegahan tersier

    PENCEGAHAN PRIMER
    pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer sangat penting terutama dalam merubah perilaku.

    PENCEGAHAN SEKUNDER
    pencegahan sekunder mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi,harga diri,dukungan teman sebaya.

    PENCEGAHAN TERSIER
    pencegahan tersier merupakan dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula.
    – memperbolehkan untuk membicarakan hal tertentu dan mengungkapkan perasaan
    – membangkitkan harga diri dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang maa lalu yang indah.
    PENCEGAHAN TERHADAP NAPZA

    1 pencegahan primer
    – penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    – pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak bahaya narkoba
    2 pencegahan sekunder
    -deteksi diri anak yang menyalahgunakan narkoba
    – konselin
    – bimbingan sosail melalui jalan rumah
    3 pencegahan tersier
    – konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungan nya
    – menciptakan lingkungan yng kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak tidak terjerat kembali

    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak harmonis,lingkungan masyarakat yng tidak baik,lingkungan sekolah yang tidak memadai.
    Cara penanggulangan
    1 program informasi
    2 program pendidkan efektif
    3 pengenalan diri dan intervensi diri

  45. Nama: Ainun Jariyah
    Nim: 181141001
    Mata Kuliah: HIV

    Jadi bisa say simpulkan,
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang biasa dikenal dengan KIE (Komunikasi,Informasi,Edukasi) dengan cara /metode yang sesuai dg kepercayaan dn kebudayaan setempat.
    Adapun upaya untuk menghambat penyebaran
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Meningkatkan penggunaan kondom
    3. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual. Dll.

    Pencegahan HIV/AIDS,dibagi mnjd bbrp tingkatan:
    1. Pencegahan primer (berfokus pencegahan melalui hubungan seksual,darah dan melalui ibu yg terinfeksi hiv ke bayinya)
    2. Pencegahan sekunder (pengobatan suportif,infeksi oportunistik)
    3. Pencegahan Tersier.

  46. Nama :refi rizki sugiyaumi
    Nim: 181141030
    Matakuliah: hiv aids
    Upaya peningkatan adalah suatu upaya meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dengan cara sesuai kepercayaan dan budaya warga setempat .
    Penyebaran pengetahuan dapat melalui pendidikam formal/nonformal nah peningkatan pengetahuan secara non formal biasa dikenal KIE(komunikasi,informasi,edukasi)
    . Upaya prnghambat hiv antara lain:Meningkatkan komunikasi ,penggunaan kondom ,sediaan darah yg aman ,upaya penurunan prevalensi IMS,tindakan pencegahan penularan hiv dari ibu ke bayi,penanggulangan secara universal san berlanjut dan Mengurangi kerentanan

    PENCEGAHAN HIV AIDS
    • Pencegahan primer
    Pencegahan pertama untuk mencegah orang sehat menjadi sakit melalui perubahan perilaku individu tsb (mencegah infeksi ulang,Oportunistik,depresi,dan imun yang lemah )
    • Pencegahan sekunder
    Pencegahan yang mencakup aspek kesehatan dan perilaku yang berkemanusiaan
    Melalui pencegahan pengobatan suportif dan infeksi oportunistik karena hiv sendiri belum memiliki vaksin yang efektif
    • Pencegahan tersier
    Pemberian dukungan berupa fukungan psikososial agar penderita odha dapat melakukan aktivitas semaksimal mungkin seperti semula
    PENCEGAHAN NAPZA
    • Pencegahan primer
    Untuk memberi peningkatan pemahaman pada komponen masyarakat yang dapat berpontensi memberikan pencegahan penyalahgunaan narkoba seperti:
    Penyuluhann kesehatan tentang bahaya narkoba,pemberian edukasi dan informasi yang terpercaya melalui media apapun
    • Pencegahan sekunder
    Pencegahan yang dilakukan diwaktu penderita mulai mengonsusmsi narkoba secara coba” dan dibantu oleh para tokoh masyarakat yang berpontensi dapat mencegah penyalahgunaan narkoba dan dapat dilakukan beberapa kegiatan seperti:Deteksi dini anak” agar terhindar oenyalahgunaan narkoba,Konseling,Bimbingan sosial kunjungan rumah secara door to door,Life skill seperti ketrampilan berkomunikasi ,menilak tekanan orang lain, dan ketranpilan pengambilan keputusan

    • Pencegahan tersier
    Pencegahaan ini dilakukan untuk para pengguna narkoba atau mantan pengguna narkoba
    Melalui kegiatan Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna ,keluarga dan kelompok lingkungan sekitarnya dan Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mencegah pengguna terjerat narkoba kembali
    Faktor yang menyebabkan para penderita mulai mengonsusmsi narkoba atau kembaki menggunakan narkoba bisa dikarenakan hubungan keluarga yang tidak baik” saja atau tidak sakinah ,lingkungan sekoalh yang tidak mendukung dan lingjungan masyarakat sekitar

  47. Nama: vrizca dwi aprilina
    Nim: 181141043
    Matkul: HIV/AIDS
    “Pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba ditinjau dari pencegahan primer preventive, secunder preventive, thersier preventive”

    upaya pencegahan adalah dengan meningkatka keterampilan (skil) dan pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat. uoaya peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi). adapun juga upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah: meningkatkan pelaksanaan komunikasi, mengurangi kerentanan, meningkatkan penggunaan kondom, mdningkatkan tindakan pencegahana penularan HIV dari ibu ke bayi.
    *pencegahan primer* pencegah tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk menjaga kualita shidup orang-orang yang terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang (melalui hubungan seks, melalui darah, melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya).
    *pencegahan sekunder* pencegahan ini mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi, harga diri, dukungan teman sebaya, dan pengakuan hak.
    *pencegahan tersier* ODHA perlu diberi dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat elakukan aktiivtas seperti semula seoptimal mungkin, misalnya: memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya, menerima perasaan (marah, sedih atau emosi dan reaksi lainnya), mengajarkan pada keluarga untuk mengambil himah dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain,membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidpnya atau mengenang masalalu yang indah.

    pencegahan NAPZA
    *Primary Prevention*
    1. pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai penyalahgunaan narkoba, ada kegiatan yang dilakukan:
    a. penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    b. pemberian berbagai macam sumber media
    c. pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    *secondary prevention*
    dalam melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individumelakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba. dan dibantu dengan berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalahgunaan narkoba pada individu tertentu.
    *Tertiary Prevention*
    pencegahan ini dilakukan kepada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan penggun narkoba, serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba dan membantu bekas korban narkoba untuk dapat menghindari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain: koseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.

    Ada bebrapa faktor pencegahan faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:
    1. program informasi
    2. program pendiidkan efektif
    3. program penyediaan pilihan yang bermakna
    4. pengenalan diri dan intervensi dini
    5. program pelatihan keterampilan psikososial.

  48. Nama: Restu Baitumah Eka Wardani
    NIM: 181141031
    Matkul: HIV/AIDS

    Pencegahan hiv aids dan narkoba primer skunder tersir
    Upaya pencegahan dgn meningkatkan keterampilan,pengetahuan degn cara sesuai kepercayaan dan budaya setempat.upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal (KIE)
    1.Pencegahan primer: pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat dan orang sakit tetap sakit.pencegahan primerr merupakan hal paling penting terutama dalam hal merubah prilaku seseorang.
    2.pencegahan sekunder: mencakup aspek kesehatan dan kemanusian prilaku yang aman untuk diri kita sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan dan tingkat informasi,harga diri,dukungan temam sebaya,pengakuan hak
    3.pencegahan tresler:ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan pesikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula/seoptimal mungkin
    4.pencegahan napza:
    -primary prevention
    -secundary prevention
    -teretiary prevention
    Faktor yang berasal dari lingkungan dari individu seperti kluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak mewadahi lingkungan masyarakat

  49. Pencegahan HIV dan Napza

    Upaya yang selama ini dilakuka untuk menghambat penyebaran HIV adalah
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2.mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4.meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan penaggulangan secara bersama sama (universal) dan berkelenjutan

    Pencegahan primer : pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling penting terutama dalam merubah perilaku
    Jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk kualitas hidup orang-orang yang terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang, penyakit oportunis,depresi dan tingkat kelelahan tubuh yang rendah dan untuk merangsang di dalam sikap bertanggung jawab terahada orang lain :
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terkena HIV kepada bayinya

    Pencegahan tersier
    ODHA perlu diberikan dukunagn berupa dukungan psikologi agar penderita dapat melakukan aktivitas bseoerti semula / seoptimal mungkin misalnya :
    1. Memperbolehkan untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya
    2. Membangkitkan bharga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah
    3. Menerima perasaan marah,sedih, atau emosi dan reaksi lainnya
    4. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah,dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain
    5. Selain itu perlu di berikan perawatan paliatif

    Pencegahan napza

    Primary prevention
    1. Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat buang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba
    2. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba

    Secondary prevention
    Dalam melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba dan di bantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa penyalahgunaan narkoba bisa berhenti. Kegiatan yang di lakukan dalam upaya tersebut adalah :
    1. Deteksi diri anak yang penyalahgunaan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan social melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melalui dengan harapan individu berkembang
    5. Lifeskill antara lain keterampilan berkomunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik

    • Nama : Maulana Anang Ramadhan
      Nim : 181141024
      Matkul : HIV/AIDS

      Upaya pencegahan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan dengan cara yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat. Penyebaran bisa dilakukan secara formal ataupun non formal. Selain itu adapun Pencegahan primer Dan sekunder,
      1.Pencegahan pertama (primer)
      Pencegahan primer ini pencegahan tahap awal. Dan sasarannya orang yang sehat dan rentan. Dengan tujuan merubah perilaku.
      2. Pencegahan kedua (secunder)
      Pencegahan sekunder ini mencangkup aspek sehat dan kemampuan perilaku yang aman untuk diri sendiri. Sasaran pencegahan ini untuk orang yang sudah mengidap HIV/AIDS untuk mencegah kematian akibat menurunnya sistem imun yang progresif dan muncul berbagai infeksi oporturnistik.
      3. Pencegahan tersier
      Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari penyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba.
      Adapun beberapa faktor pencegahan faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:
      -program informasi
      -program pendiidkan efektif
      -program penyediaan pilihan yang bermakna
      -pengenalan diri dan intervensi dini
      -program pelatihan keterampilan psikososial.

  50. Pencegahan HIV dan Narkoba di tinjau dari primary prevention secondary prevention dan Tertiary prevention
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan (skill) dan pengentahuan (knowledge) dengan cara /metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat
    Penyebaran pengentahuan melalui pendidikan formal dan non formal merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal dengan istilah KIE ( komunikasi, informasi dan edukasi)
    upaya yang selama ini di lakukan untuk menghambat penyebaran HIV :
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan ketersediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama -sama ( universal) dan berkelanjutan
    Pencegahan HIV /AIDS
    1 . pencegahan primer
    Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat menjadi sakit. Pencegahan ini merupakan pencegahan penting terutama dalam merubah perilaku. Jenis pencegahan ini adalah menjaga kualitas hidup orang orang yang terkena dampat dengan pencegahan infeksi ulang.
    Penyakit oporunistik ,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah dan untuk merangsang didalamnya sikap bertanggung jawab terhadap orang lain :
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah
    3.melalui darah yang terinfeksi HIV kepada bayinya.
    2. Pencegahan sekunder.
    Pencegahan ini mencakup askep kesehatan dan kemausiaan perilaku aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada cakupan tingkat informasi,harga diri, dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    Infeksi HIV menyebabkan menurun sistem imun secara progresif sehingha muncul infkesi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kemtian.
    Hingga saat ini belum di temukan obat maupun vaksin yang efektif . sehingga pegobatan dibagi menjadi tiga kelompok :
    1. Pegobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik
    3. Pencegahan tersier
    ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula /seoptimal mungkin misalnya :
    1. Memperbolehkannya membicarakan hal hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya.
    2. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
    3. Menerima perasaan marah ,sedih atau emosi dan reaksi lainya
    4.mengajarkan kepada keluarganya untuk mengambil hikma dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    5. Selain itu diberika. Perawatan paliatif ( bagi pasien yang tidak dapat disembuhkan atau sedang dalam tahap terminal) yang mencakup pemberian kenyamanan seperti rileksasi dan distraksi menjaga pasien tetap bersih dan kering.mengelolaan nyeri ( bisa dilakukan pengobatan antinyeri) persiapan menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai tentang keadaan penderita dan bantuan mempersiapkan pemakaman.
    Pencegahan NAPZA
    A. primary prevention
    1. Pencegahaan untuk di lakukan memberi peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalagunaan narkoba
    2. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3. Memberi berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
    4. Memberi pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    B. Secondary prevention
    Penceghan ini dilakukan pada saat individu melakukan penyalagunaan narkoba secara coba coba. Dan di bantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalagunaan narkoba pada individu tertentu. Di lakukan dengan upaya tersebut adalah :
    1. Deteksi dini anak yang menyalagunakan narkoba.
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melaui media denga harapan pengembangan individu
    5. Life skill antara lain tentang keterampilan berkomunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
    C. Terteary prevention
    Pencegahan ini dilakukan pada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna narkoba. Serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalagunaan narkoba dan membantu bekas korban narkoba agar dapat menghindari kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada penggunaan dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba
    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai ,lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat . ada beberapa langkah pemcegahan dan penanggulangannya antara lain:
    1. Program informasi
    2. Program pendidikan Efektif
    3. Program penyediaan pilihan yang Bermakna
    4. Pengenalan Diri dan Intervensi dini
    5. Program pelatihan ketrampilan psikososial

  51. Nama : Dwi Olinda E
    Nim : 181141008
    Sem : 4
    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba di tinjau daru pencegahan primer preventive, secundere preventive, thersier preventive

    Upaya pencegahan meningkatkan pengetahuan, kemampuan diri (knowled and skill) dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat. Upaya peningkatan pengetahuan dikenal KIE (konfirmasi, informasi, dan edukasi)
    Ada tiga pencegahan hiv/aids
    1.Pencegahan pertama (primer)
    Pencegahan primer ini pencegahan tahap awal. Dan sasarannya orang yang sehat dan rentan. Dengan tujuan merubah perilaku. Disini menghindari orang dari orang yang sehat menjadi sakit. Atau menjaga seseorang yang sehat tetap sehat. Pencegahan disini penting untuk menjaga kualitas hidup orang yang terkena dampak infeksi ulang, depresi. Kekebalan tubuh menurun.
    2. Pencegahan kedua (secunder)
    Pencegahan sekunder ini mencangkup aspek sehat dan kemampuan perilaku yang aman untuk diri sendiri. Sasaran pencegahan ini untuk orang yang sudah mengidap HIV/AIDS untuk mencegah kematian akibat menurunnya sistem imun yang progresif dan muncul berbagai infeksi oporturnistik.
    3. Pencegahan ketiga (tersier)
    Pencegahan ini sasarannya odha yang perlu dukungan psikososial agar melakukan aktivitas seperti semula / seoptimal mungkin. Seperti membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya.

    Pencegahan NAPZA
    1. Primer prevention ( pencegahan pertama)
    Pencegahan disini sasarannya masyarakat yang sehat dan rentan terkena penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan disini menanamkan perilaku yang sehat. Dengan pemberian pengetahuan, pemahaman dan pendidikan tentang dampak narkoba, dan penyalahgunaan NAPZA. Dengan cara penyuluhan, iklan dll.
    2. Pencegahan sekunder
    Sasarannya orang yang menggunakan narkoba atau penyalahgunaan narkoba secara coba coba. Agar dapat berhenti menyalahgunakan narkoba lagi. Disini perlu melakukan deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba. Konseling, bimbingan sosial melalui kunjungan rumah. Dengan bantuan masyarakat keluarga dan orang sekitar.
    3. Pencegahan tersier
    Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari oenyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba

  52. Nama : Umul Azmiyatul Ulya
    Nim :181141041
    MatKul : HIV/AIDS
    Prodi : Ilmu Keperawatan
    Semester : IV (Empat)
    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, ditinjau dari primer, prevention, secondary, dan tertiary prevention.
    Upaya pencegahan
    Meningkatkan ketrampilan dan pengalaman dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat.
    Penyebaran pengetahuan melalui pendidikan formal/non formal.(Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
    -Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV.
    a.Meningkatkan pelaksanaan komunikasi.
    b.Mengurangi Kerentanan.
    c.Meningkatkan penggunaan kondom.
    d.Meningkatkan sedia darah yang aman.
    e.Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual.
    f.Meningkatkan Tindakan pencegahan penularan HIV DARI Ibu ke bayi.
    g.Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersamaan dan berkelanjutan.

    -Pencegahan Primer
    Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya orang sehat tetap sehat/menjaga.
    -Jenis pencegahan
    Yang bersifat bertanggung jawab terhadap orang lain
    a.Melalui hubungan seksual
    b.Melalui darah
    c.Melalui Ibu yang terinveksi HIV kepada bayinya.

    -Pencegahan sekunder
    Mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan prilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi, harga diri, dukungan teman sebaya, pengakuan hak.
    Infeksi HIV AIDS mengakibatkan menurunnya system imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
    -Pengobatan HIV/AIDS dibagi menjadi 2 kelompok:
    a.Pengobatan suportif
    b.Pengobatan infeksi oportunistik.

    -Pencegahan Tersier
    Dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas secara semula/seoptimal mungkin, Misanya:
    a.Membolehkan untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya.
    b.Membangkitkan harga diri dengan melihat keberhasilannya
    c.Menerima perasaan marah, sedih, emosi dan perasaan lainnya.
    d.Mengajarkan kepada keluarga untuk mengambil hikmah
    Selain itu perlu diberikan perawatan aktif kepada pasien yang tidak dapat disembuhkan.

    Primer
    Pencegahan Nafza
    Memberikan peningkatan Pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegas penyalah gunaan Narkoba.
    a.Penyuluham tentang dampak dari Narkoba.
    b Pemberianj berbagai iklan/ sumber media elektronik/
    c.Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.

    -Sekunder
    Deteksi dini anak yang menyalahgunakan Narkoba.
    a.Konseling
    b.Bimbingan social (kunjungan rumah).
    c.Pemberian informasi
    d.Life skill antara lain keterampilan berkomunikasi.

    Tersier
    Orang yang sedang menggunakan narkoba/ yang pernah (contoh) pencegahan :
    Konseling dan bimbingan social
    Menciptakan lingkungan yang kondusif
    -Langkah dan penanggulangannya
    a.Program informasi
    b.Program pendidikan efektif
    c.Program penyediaan pilihan yang bermakna
    d.Pengenalan diri dan intervensi dini.
    e.Program pelatihan keterampilan psikososial.

  53. Nama : Faizatul Dwi Mufidah
    Nim : 181141011
    Mata kuliah : Keperawatan HIV / AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan NARKOBA, ditinjau dari Primary Prevention, Secondary Prevention dan Tertiary Prevention

    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan (Skill) dan pengetahuan (Knowledge) dengan cara atau metode yang sesuai dengan keperacayaan dan budaya masyarakat setempat. Penyebaran pengetahuan melalui pendidikan formal dan non formal adalah salah satu alternatif yang dapat dipilih. Upaya peningkatan pengetahuan selama ini disebut dengan KIE ( Komunikasi, Informasi, Edukasi ). Jadi, selama kita pendekatan kepada kelompok atau masyarakat setempat untuk melakukan sebuah penyeledidikan mengetedepankan pengetahuan yang merupakansebuat peningkatan dengan peningkatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi.
    Upaya yang dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah :
    1. Meningkatan pelaksanaan komunikasi.
    2. Mengurangi kerentanan.
    3. Meningkatan penggunaan kondom.
    4. Meningkatan sediaan darah yang aman.
    5. Meningkatan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual.
    6. Meningkatan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama – sama (universal) dan berkelanjutan.

    Pencegahan HIV / AIDS ada 3 pencegahan yaitu :
    1. Pencegahan primer
    Pencegahan tingkat pertama ini adalah upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer adalah hal penting terutama dalam merubah perilaku. Ada beberapa jenis pencegahan yang penting baik untuk menjaga kualitas orang” yang terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang yaitu :
    1. Melalui hubungan seksual.
    2. Melalui darah.
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya.

    2. Pencegahan sekunder
    Pencegahan ini mencakup askep kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi, harga diri, dukungan teman sebaya, dan pengakuan hak.
    Infeksi HIV / AIDS menyebabkan menurunkan sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian. Sehingga, pengobatan HIV / AIDS dapat dibagi dalam dua kelompom yaitu :
    1. Pengobatan suportif
    2. pengobatan infeksi opurtunistik

    3. Pencegahan teraier
    COHA perlu diberikan dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula atau seoptimal mungkin. Misalnya :
    1. Memperbolehnya untuk membicarakan hak – hak tertentu dan mengungkapkan perasaan.
    2. Membangkitkan harga diri dengan melihat keberasilan hidupnya.
    3. Menerima perasaan marah, sedih atau emosi dan reaksi lainnya.
    4. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan diri, dan tidak menyalakan diri atau orang lain.
    5. Diberikan perawatan paliatif seperti apabila pasien itu tidak dapat disembuhkan atau dalam kondisi terminal dan lain”.

    Pencegahan NAPSA yaitu :
    1. Pencegahan primer prevention itu mencakupi :
    – pencegahan ini dilakukan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpontensi sebagai penyalagunaan narkoba.
    – penyuluhan tentang dampak dari narkoba.
    – pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba.
    – pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.

    2. Pencegahan secondary prevention
    Dalam melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalagunaan narkoba secara coba-coba. Kegiatan yang dilakukan dalam upaya tersebut adalah :
    – Dekteksi dini anak yang menyalagunaan narkoba.
    – Konseling.
    – Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah.
    – Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu.
    – Life skill antara lain tentang keterampilan berkomunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain, dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.

    3. Pencegahan tertiary prevention
    Pencegahan ini dilakukan kepada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna narkoba, serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalagunaan narkoba dan membantu bekas korban narkoba untuk dapat menghindari kegiatan – kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini yaitu :
    – Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.
    – Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.

    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakina, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat – obatan zat.
    Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangan antara lain :
    1. Program informasi.
    2. Program pendidikan efektif.
    3. Program penyediaan pilihan yang bermakan.
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini.
    5. Program pelatihan ketrampilan psikososial.

  54. Nama : Thoyyibatun Nafi’ah
    Nim. : 181141039
    Mata Kuliah : HIV/AIDS

    Uapaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan pengetahuan dengan cara metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat, penyebaran pengetahuan pendidikan secara formal non formal meruapakab salah satu alternatif yang dipilih
    Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah
    1. Meningkatkan pelayanan komunikasi
    2. Mengurangi kerentangan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan kesediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan privalency infeksi menular
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan universal
    Pencegahan HIV/AIDS
    • Pencegahan primer
    Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya agar orang tetap sehat atau menjaga orang sehat menjadi sakit
    • Pencegahan sekunder
    Mencangkup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain
    • Pencegahan tersier
    Odha perlu diberikan dukungan berupa psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula

    Pencegahan Napza

    • Pencegahan primer
    Dilakukan untuk memberikan peningkatan atau pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegah penyalah gunaan narkoba.
    • Pencegahan sekunder
    Melakukan penggunaan narkoba secara coba-coba dan dibantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dalam penyalah gunaan narkoba.
    • Pencegahan tersier
    Pencegahan ini dilakukan pada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan narkoba serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar dapat berhenti dari penyalah gunaan narkoba sehingga membantu bekas korban narkoba untuk menghindari kegiatan tersebut

  55. Nama: Lailatun Ni’mah
    NIM: 181141019
    Mata Kuliah: HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, Ditinjau dari Primary prevention, Secondary prevention, Tetiary Prevention

    Upaya pencegahan adalah melakukan pendekatan kepada kelompok/masyarakat tertentu untuk melakukan sebuah penyuluhan yang mengedepankan tentang pengetahuan dengan pendekatan KIE (komunikasi, informasi, edukasi)

    Upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan
    Untuk menghambat prevalensi HIV/penyebaran HIV kita harus mengedepankan beberapa program salah satunya adalah komunikasi. Bagaimana caranya kita melakukan komunikasi efektif kepada kelompok beresiko tinggi. Bagaimana caranya kita mengurangi kerentanan tersebut. Yaitu dengan cara penggunaan kondom, biasanya kondom hanya digunakan sebagai alat pencegah kehamilan (KB)

    Pencegahan HIV
    Primer : Upaya agar orang yang sehat tetap sehat dan mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
    Jenis- jenis pencegahannya yaitu:
    1. Melalui seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    Sekunder: melakukan sebuah pencegahan melalui aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV dibagi menjadi 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik
    Tersier: ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapan melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.

    Pencegahan NAPZA
    Primer: suatu pencegahan untuk memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang berpotensi
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    2. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik tentang bahaya narkoba
    3. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya narkoba (memberikan edukasi/penyuluhan kepada remaja awal-akhir)
    Sekunder: melakukan pencegahan kepada seseorang yang menggunakan narkoba secara coba-coba. Bisa dibantu oleh masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti menyalahgunakan narkoba
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah (door to door)
    4. Pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill : keterampilam berkomunikasi, monolak tekanan orang lain, keterampilan mengambil keputusan dg baik
    Tersier: adanya keikutsertaan pecandu narkoba dan mantan pengguna narkoba melalui peer group/teman sebaya. Pendekatan tersebut diharapkan individu yanv masih menggunakan narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba lagi.
    Kegiataan yang dilakukan yaitu
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak kembali menggunakan narkoba. Jadi sikap masyarakat yang mendukung untuk teap bersosialisasi dengan mereka

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pencegahannya yaitu:
    1. Program informasi yang kuat terhadap bahaya yang terjadi akibat narkoba
    2. Program pendidikan efektif dengan melihat seberapa tingkat pemahaman mengenai narkoba
    3. Program penyediaan pilihan ynag bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial

  56. RESUME PENCEGAHAN HIV DAN NARKOBA,Ditinjau dari primary prevention,secondary dan Tertiary prevention
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan
    (skill) dan penetahuan (knowledge) dengan cara/metode yang
    sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat
    Penyebaran pengetahuan melalui pendidikan
    formal dan non formal merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Upaya
    peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE (komunikasi,Informasi dan Edukasi).

    *Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah
    1.Meningkatkan pelaksanaan Komunikasi
    2.Mengurangi kerentanan
    3.Meningkatkan penggunaan kondom
    4.meningkatkan sediaan darah yang aman
    5.Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi lnfeksi Menular Seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari Ibu ke bayi
    7.Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan.

    *Pencegahan primer
    Pencegahan Primer Pencegahan lingkal pcrtama ini mempakan upaya agar omng sehal [clap sehal alau mcncegah omng sehal mcnjadi sakit. Pencegahan primer mcrupakan hal yang paling penung. lerulama dalam merubah perilaku.
    Jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk menjaga kualitas hidup orsng2 yang terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang,oportunistik,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yg rendah untuk merangsang didalamnya sikap bertanggungjawab terhadap orang lain:
    1.Melalui hubungan seksual
    2.melalui darah
    3.melalui ibu yg terinfeksi HIV kepada bayinya

    *Pencegahan Sekundary
    Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang tergantung pada kecukupan tingkat informasi harga diri dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    lnfeksi HIV AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik sehingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yg efektif.pengobatannya antara lain:
    1.Pengobatan suportif
    2.pengobatan infeksi oportunistik
    *Pencegahan Tersier
    ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas semula:
    1.Memperbolehkannya utk berbicara hal2 tertentu dan mengucapkan perasaannya
    2.membangkitkan harga dirinya dgn melihat keberhasilan hidupnya
    3.menerima perasaan marah,sedih atau emosi dan reaksi lainnya
    4.mengajarkan pada keluarga utk mengambil hikmah dan dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    5.selain itu perlu diberikan perawatan paliatif(bagi pasien yg tidak dapat disembuhkan atau dalam tahan terminal).

    *Primary Prevention
    1.Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakal yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahagunaan narkoba.
    2.Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3.Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
    4..pemberian pendidikan akan pengetahuan dan bahaya dari narkoba

    *Secondary prevention
    Dalam melakukan tindakan pencegahan yg dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba coba dan di bantu oleh berbagai komponen masyarakat yg berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalahgunaan narkoba pada individu tertentu.kegiatan tersebut antara lain:
    1.deteksi dini anak yg menyalahgunakan narkoba
    2.konseling
    3.bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4.memberikan informasi melalui media
    5.life skill antara lain keterampilan berkomunikasi,menolak tekanan orang lain dan mengambil keputusan dengan baik.
    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah,lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zal.Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya anlara lain:
    1. Program lnformasi
    2.Program Pcndidikan Efektif
    3.Program Penycediaan Pilihan Yang bermakna
    4.Pengemalan Diri dan lntervensi Dini
    5.Program Pelatihan keterampilan Psikososial

  57. nama : oktaviyanti i
    nim. : 181141029
    mata kuliah : HIV AIDS

    pencegahan HIV/AIDS dan NARKOBA upaya pencegahan dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dgn cara sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat
    upaya yg dilakukan untuk menghambat penyebaran hiv
    1) meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2) mengurangi kerentanan
    3) meningkatkan penggunaaan kondom
    pencegahan primer hiv (upaya agen agar org sehat tetap sehat/mencegah org menjadi sakit) jenis pencegahan ini untuk menjadi kualitas hidup orang2 yg terkena dampak dgn mencegah tingkat kekebalan tubuh yg rendah melalui hubungan seksual, melalu darah, melalui ibu yg terinfeksi hiv
    pencegahan sekunder (pencegahan kemanusiaan perilaku yg aman tergantung pada kecukupan tingkat informasi harga diri dan dukungan hubungan teman sebaya
    pengobatan hiv/aids dlm 3 kelompok :
    1) pengobatan supertif
    2) pengobatan infeksi opertunistik
    pencegahan hiv/aids tersier( diberikan dukungan berupa psikososial agar penderita melakukan aktivitas semula/optimal
    1) memperbolehkan utk membicarakan hal tertentu
    2) membangkitkan harga dirinya
    3)mengajarkan kpd keluarga
    pencegahan napza primer dgn cara :
    1) dilakukan memberikan pemahaman kpd komponen masyarakat
    2) pemberikan macam iklan/sumber media
    pencegahan napza sekunder 2
    1) deteksi dini anak yg menyalahgunakan narkoba
    2) konseling
    3) bimbingan social melalui kunjungan rumah
    pencegahan napza tersier :
    1) konseling dan bimbingan social kpd pengguna dan keluarga serta lingkungannya
    2) menciptakan lingkungan yg kondusif bagi bekas pengguna
    faktor dan langkah

    pencegahan dgn cara program informasi, progam pendidikan efektif dan program pilihan yg bermaksa

  58. Nama: Lailatun Ni’mah
    NIM: 181141019
    Mata Kuliah: HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, ditinjau dari pencegahan primer, sekunder, dan tersier

    Upaya pencegahan adalah melakukan pendekatan kepada kelompok/masyarakat tertentu untuk melakukan sebuah penyuluhan yang mengedepankan tentang pengetahuan dengan pendekatan KIE (komunikasi, informasi, edukasi)

    Upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan
    Untuk menghambat prevalensi HIV/penyebaran HIV kita harus mengedepankan beberapa program salah satunya adalah komunikasi. Bagaimana caranya kita melakukan komunikasi efektif kepada kelompok beresiko tinggi. Bagaimana caranya kita mengurangi kerentanan tersebut. Yaitu dengan cara penggunaan kondom, biasanya kondom hanya digunakan sebagai alat pencegah kehamilan (KB)

    Pencegahan HIV
    Primer : Upaya agar orang yang sehat tetap sehat dan mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
    Jenis- jenis pencegahannya yaitu:
    1. Melalui seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    Sekunder: melakukan sebuah pencegahan melalui aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV dibagi menjadi 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik
    Tersier: ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapan melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.

    Pencegahan NAPZA
    Primer: suatu pencegahan untuk memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang berpotensi
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    2. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik tentang bahaya narkoba
    3. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya narkoba (memberikan edukasi/penyuluhan kepada remaja awal-akhir)
    Sekunder: melakukan pencegahan kepada seseorang yang menggunakan narkoba secara coba-coba. Bisa dibantu oleh masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti menyalahgunakan narkoba
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah (door to door)
    4. Pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill : keterampilam berkomunikasi, monolak tekanan orang lain, keterampilan mengambil keputusan dg baik
    Tersier: adanya keikutsertaan pecandu narkoba dan mantan pengguna narkoba melalui peer group/teman sebaya. Pendekatan tersebut diharapkan individu yanv masih menggunakan narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba lagi.
    Kegiataan yang dilakukan yaitu
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak kembali menggunakan narkoba. Jadi sikap masyarakat yang mendukung untuk teap bersosialisasi dengan mereka

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pencegahannya yaitu:
    1. Program informasi yang kuat terhadap bahaya yang terjadi akibat narkoba
    2. Program pendidikan efektif dengan melihat seberapa tingkat pemahaman mengenai narkoba
    3. Program penyediaan pilihan ynag bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial

  59. Nama : Syafiqah Tsabitah Sari
    NIM : 181141038
    Mata kuliah : HIV/AIDS

    PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA, Primary Prevention, Secondary Prevention, Tertiary Prevention
    Upaya pencegahan adalah dg meningkatkan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowladge) dg metode yg sesuai dg. kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.

    Upaya yg selama ini dilakukanbu/ menghambat penyebaran HIV:
    1) meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2) mengurangi kerentanan
    3) meningkatkanbpenggunaan kondom
    4) meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    5) Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan

    Jenis *pencegahan primer* adalah penting baik untuk menjaga kualitas hidup orang-orang yg terkena dampak dg. Mencwgah infeksi ulang, penyakit opurtunistik, depresi, dan tingkat kekebalan tbuh yg rendah dan untuk merangsang d dlmnya sikap bertanggung jawab trhdp org lain
    1) melalui hub. Seksual
    2) melalyi darah
    3) melalui ibu yg terinfeksi HIV kpd bayinya
    -jenis pencegahan sekunder : aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yg aman

  60. Nama : serly rosa agustin
    Nim : 181141034
    Semester 4
    Mata kuliah : HIV / AIDS
    PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA DI tinjau dari primary prevention,secondary prevention,dan tertiary prevention”
    • Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan(skill)dan pengetahuan(knowledge)dengan cara atau metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
    • Penyebaran pengetahuan melalui pendikan formal dan non formal
    • Upaya peningkatan pengetahuannya dengan cara komunikasi,informasi,dan edukasi kepada pasien maupun masyarakat.
    • Upaya untuk menghambat penyebaran HIV antara lain:
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi.
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom.
    4. Meningkatkan kesediaan darah yang aman.
    5. Menungkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksua.
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama(universal)dan berkelanjutan.

    • Pencegahan HIV AIDS
    1.) Pencegahan Primer
    Merupakan upaya untuk mencegah orang sehat menjadi sakit,seperti penyakit oportunistik,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah.
    -Upaya dan sikap tanggung jawab terhadap orang lain untuk mencegah penularan HIV AIDS diantaranya:
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah.
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada ibunya.
    2.) Pencegahan Skunder
    Untuk mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi,harga diri,dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    -Infeksi HIV AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara fogresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
    – Pengobatan HIV AIDS dibagi dalam 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik.
    3.) Pencegahan Tersier
    Adalah dukungan berupa psikosional agar penderita dapat melakukan aktivitas sepertti semula misalnya:
    a. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan persaannya.
    b. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
    c. Menerima perasaan marah,sedih,atau emosi dan reaksi lainnya.
    d. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah,dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    e. Memberikan perawatan paliatif.

    •Pencegahan NAPZA
    1.) Primary Prevention
    a. Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba.
    b. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba.
    c. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik dan bahaya narkoba.
    d. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    2.) Secondary Prevention
    Adalah pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba.
    – Upaya pencegahannya antara lain:
    1. Deteksi diri anak yang menyalahgunaan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah ( door to door)
    4. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill,antara lain tentang keterampilan berkomunikasi,keterampilan menolak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
    3.) Tertiary Prevention
    Merupakan Pencegahan bagi Orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah menjadi mantan pengguna narkoba.
    – Upaya pencehannya antara lain:
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
    -Faktor yang berasal dari luar individu seperti keluarga yang tidak sakinah,lingkungan sekolah yang tidak memadai,lingkungan masyarakat dan nilai obat zat.
    – Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangannga antara lain:
    1. Program informasi
    2. Program pendidikan efektif
    3. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial.
    Dan sebaiknya lebih dini untuk mencegah agar tidak terjerumus dengan penyakit infeksi seksual

  61. Nama : Mahmudi
    NIM : 181141022
    Mata kuliah : Keperawatan HIV dan AIDS

    Pencegahan HIV Aids dan narkoba ditinjau dari prionary prevention, secondary presention, tertinary prevention

    Upaya pencegahan suatu usaha peningkatan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) sesuai dengan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat
    Pengetahuan berdasarkan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) yang mana didapat melalui pendidikan formal maupun non formal

    Pencegahan HIV Aids
    1. Pencegahan primer merupakan tingkat pertama bentuk pencegahan
    Suatu upaya agar orang sehat tidak sakit atau mencegah orang sehat jadi sakit
    Pencegahan primer fokus pada merubah perilaku
    Pencegahan ini bertujuan untuk menjaga kualitas hidup untuk merangsang sikap tanggung jawab terhadap orang lain
    a. Melalui hubungan seksual
    b. Melalui darah
    c. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    2. Pencegahan sekunder meliputi askep kesehatan dan perilaku yang aman untuk diri sendiri dan orang lain
    Pencegahan sekunder tergantung pada informasi yang didapat, harga diri, teman sebaya, serta pengakuan hak. Karena tidak ada nya obat yg efektif untuk HIV muncul pengobatan dibagi dalam beberapa kelompok :
    a. Pengobatan supportif
    b. Pengobatan infeksi opurtunistik
    3. Pencegahan tersier merupakan upaya pemberian dukungan psikososial kepada ODHA agar mampu beraktivitas seperti semula
    a. Memperbolehkan membicarakan atau mengungkapkan perasaannya
    b. Membangkitkan harga diri mengenang pencapaian selama hidup yang positif dan masa lalu yang indah
    c. Menerima perasaan sedih, marah, emosi
    d. Mengajarkan kepada keluarga untuk menerima agar tidak menyalakan diri sendiri ataupun orang lain
    e. Memberikan perawatan paliatif (yg tidak dapat disembuhkan dan dalam tahap terminal) yg mencakup kenyamanan (distraksi, relaksasi, pasien tetap bersih dan kering, memberikan toleransi terhadap permintaan pasien atau keluarga), pengelolaan nyeri (teknik distraksi, relaksasi, atau pemberian antinyeri, persiapan kematian meliputi penjelasan mengenai keadaan penderita dan bantuan mempersiapkan pemakaman

    Pencegahan napza
    1. Pencegahan primer
    a. Memberikan peningkatan pemahaman kepada masyarakat yg berpotensi
    b. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    c. Pemberian iklan sumber elektronik tentang bahaya narkoba
    d. Pemberian edukasi terkait dampak dan bahaya narkoba
    2. Pencegahan sekunder
    Pencegahan yg dilakukan pada individu yg melakukan penyalahgunaan secara tahap coba coba dan dibantu oleh masyarakat yg berpotensi dapat membantu individu untuk berhenti dari penyalahgunaan narkoba, dengan bentuk upaya kegiatan :
    a. Deteksi dini anak yg melakukan penyalahgunaan narkoba
    b. Konseling
    c. Bimbingan sosial dengan kunjungan rumah
    d. Melakukan pemberian informasi melalui media
    e. Life skill seperti komunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan
    3. Pencegah tersier
    Pencegahan ini untuk orang yang sedang dalam menggunakan narkoba atau mantan narkoba. Dimana komponen masyarakat berpotensi untuk membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba, dan membantu bekas narkoba untuk menghindari. Kegiatan upaya pencegahannya meliputi :
    a. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    b. Menciptakan lingkungan yg kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat kembali dalam penyalahgunaan

    Faktor faktor pencetus penyalahgunaan:
    Berasal dari luar individu meliputi keluarga yang tidak bahagia, lingkungan yang tidak memadai
    Pencegahannya yg bisa dilakukan antara lain:
    a. Program informasi
    b. Program pendidikan efektif
    c. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    d. Pengenalan diri dan intervensi dini
    e. Program pelatihan ketrampilan psikososial

  62. Nama : Elistya Widhiya N
    Nim : 181141010
    Mata kuliah : HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba ditinjau dari pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan Tersier.
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat. Upaya peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE ( komunikasi, informasi, edukasi).
    #upaya untuk menghambat penyebaran HIV :
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Meningkatkan menggunakan kondom
    3. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    4. Meningkatkan sediaan darah yg aman
    ~pencegahan primer~
    Upaya mencegah agar orang yang sehat tidak menjadi sakit.
    ~pencegahan sekunder~
    Pencegahan dengan cara melihat aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV/AIDS dibagi menjadi 2 yaitu :
    1.) pengobatan suportif
    2.) pengobatan infeksi oportunistik
    ~pencegahan tersier~
    Memberikan dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.
    * pencegahan NAPZA*
    – pencegahan primer
    Pencegahan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba.
    – pencegahan sekunder
    Melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba dan dibantu oleh masyarakat.
    – pencegahan tersier
    Pencegahan ini dilakukan pada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna narkoba.

  63. Nama : Lara Nadila
    NIM : 181141020
    Mata Kuliah : Keperawatan HIV
    Pencegahan HIV/AIDS
    1.
    Primer Pencegahan ini tidak bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakanyang terapeutik dan tidak menggunakan identifikasi gejalapenyakit. Pencegahan ini meliputi dua hal, yaitu:

    Peningkatan kesehatan, misalnya: dengan pendidikan kesehatanreproduksi tentang HIV/AIDS, standarisasi nutrisi, menghindari seksbebas screening, dan sebagainya

    .Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi, kebersihan pribadi, ataupemakaian kondom.

    2. Sekunder Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatanpenyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukan dengan menghindarkanatau menunda keparahan akibat yang ditimbulkan dariperkembangan penyakitatau meminimalkan potensi tertularnyapenyakit lain.3. Tersier Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksiHIV/AIDS dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Kegiatan pencegahan tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dantindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuaidengan keterbatasan yang ada akibat HIV/AIDS

    3. Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksiHIV/AIDS dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Kegiatan pencegahan tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dantindakan penyakit. Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuaidengan keterbatasan yang ada akibat HIV/AIDS

    1. Pencegahan Primer Pencegahan Primer merupakan tindakan pencegahan yang dilakukansejak dini supaya orang tidak menyalahgunakan narkoba. Sasaranutamanya adalah anak atau remaja, keluarga dan kesatuan masyarakatyang belum terkena masalah penyalahgunaan NARKOBA.2. Pencegahan Sekunder Pencegahan Sekunder adalah untuk menginisiasi penyalahguna narkobayang baru saja menggunakan atau mencoba-coba. Mereka perludisadarkan supaya nantinya tidak berkembang menjadi pecandu karenaefek adiktif dari narkoba yang dikonsumsi.
    3. Pencegahan Tersier Pencegahan Tersier ditujukan bagi para pecandu yang sudah lama mengonsumsi narkoba dan bergaul dengan barang haram ini. Dalamtahap pencegahan ini para pecandu akan direhabilitasi.

  64. Nama : Maria Asriana Manhitu
    Nim : 181141023
    Mata Kuliah :HIV
    Pencegahan HIV dan Narkoba di tinjau dari primary prevention secondary prevention dan Tertiary prevention
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan (skill) dan pengentahuan (knowledge) dengan cara /metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat
    Penyebaran pengentahuan melalui pendidikan formal dan non formal merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal dengan istilah KIE ( komunikasi, informasi dan edukasi)
    upaya yang selama ini di lakukan untuk menghambat penyebaran HIV :
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan ketersediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama -sama ( universal) dan berkelanjutan
    Pencegahan HIV /AIDS
    1 . pencegahan primer
    Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat menjadi sakit. Pencegahan ini merupakan pencegahan penting terutama dalam merubah perilaku. Jenis pencegahan ini adalah menjaga kualitas hidup orang orang yang terkena dampat dengan pencegahan infeksi ulang.
    Penyakit oporunistik ,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah dan untuk merangsang didalamnya sikap bertanggung jawab terhadap orang lain :
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui darah yang terinfeksi HIV kepada bayinya.

    2. Pencegahan sekunder.
    Pencegahan ini mencakup askep kesehatan dan kemausiaan perilaku aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada cakupan tingkat informasi,harga diri, dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    Infeksi HIV menyebabkan menurun sistem imun secara progresif sehingha muncul infkesi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kemtian.
    Hingga saat ini belum di temukan obat maupun vaksin yang efektif . sehingga pegobatan dibagi menjadi tiga kelompok :
    1. Pegobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik
    3. Pencegahan tersier
    ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula /seoptimal mungkin misalnya :
    1. Memperbolehkannya membicarakan hal hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya.
    2. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
    3. Menerima perasaan marah ,sedih atau emosi dan reaksi lainya
    4.mengajarkan kepada keluarganya untuk mengambil hikma dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    5. Selain itu diberika. Perawatan paliatif ( bagi pasien yang tidak dapat disembuhkan atau sedang dalam tahap terminal) yang mencakup pemberian kenyamanan seperti rileksasi dan distraksi menjaga pasien tetap bersih dan kering.mengelolaan nyeri ( bisa dilakukan pengobatan antinyeri) persiapan menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai tentang keadaan penderita dan bantuan mempersiapkan pemakaman.
    Pencegahan NAPZA
    A. primary prevention
    1. Pencegahaan untuk di lakukan memberi peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalagunaan narkoba
    2. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3. Memberi berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
    4. Memberi pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    B. Secondary prevention
    Penceghan ini dilakukan pada saat individu melakukan penyalagunaan narkoba secara coba coba. Dan di bantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalagunaan narkoba pada individu tertentu. Di lakukan dengan upaya tersebut adalah :
    1. Deteksi dini anak yang menyalagunakan narkoba.
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melaui media denga harapan pengembangan individu
    5. Life skill antara lain tentang keterampilan berkomunikasi, keterampilan menolak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
    C. Terteary prevention
    Pencegahan ini dilakukan pada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna narkoba. Serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalagunaan narkoba dan membantu bekas korban narkoba agar dapat menghindari kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada penggunaan dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba
    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai ,lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat . ada beberapa langkah pemcegahan dan penanggulangannya antara lain:
    1. Program informasi
    2. Program pendidikan Efektif
    3. Program penyediaan pilihan yang Bermakna
    4. Pengenalan Diri dan Intervensi dini
    5. Program pelatihan ketrampilan psikososial

  65. Nama : Irene Maria Tallo Da Cruz
    Nim : 181141018
    Matkul : HIV AIDS

    RESUME PENCEGAHAN HIV DAN NARKOBA
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan
    (skill) dan penetahuan (knowledge) dengan cara/metode yang
    sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat
    Penyebaran pengetahuan melalui pendidikan
    formal dan non formal merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Upaya
    peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE (komunikasi,Informasi dan Edukasi).

    *Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah
    1.Meningkatkan pelaksanaan Komunikasi
    2.Mengurangi kerentanan
    3.Meningkatkan penggunaan kondom
    4.meningkatkan sediaan darah yang aman
    5.Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi lnfeksi Menular Seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari Ibu ke bayi
    7.Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan.

    *Pencegahan primer
    Pencegahan Primer Pencegahan lingkal pcrtama ini mempakan upaya agar omng sehal [clap sehal alau mcncegah omng sehal mcnjadi sakit. Pencegahan primer mcrupakan hal yang paling penung. lerulama dalam merubah perilaku.
    Jenis pencegahan ini adalah penting baik untuk menjaga kualitas hidup orsng2 yang terkena dampak dengan mencegah infeksi ulang,oportunistik,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yg rendah untuk merangsang didalamnya sikap bertanggungjawab terhadap orang lain:
    1.Melalui hubungan seksual
    2.melalui darah
    3.melalui ibu yg terinfeksi HIV kepada bayinya

    *Pencegahan Sekundary
    Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang tergantung pada kecukupan tingkat informasi harga diri dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    lnfeksi HIV AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik sehingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yg efektif.pengobatannya antara lain:
    1.Pengobatan suportif
    2.pengobatan infeksi oportunistik
    *Pencegahan Tersier
    ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas semula:
    1.Memperbolehkannya utk berbicara hal2 tertentu dan mengucapkan perasaannya
    2.membangkitkan harga dirinya dgn melihat keberhasilan hidupnya
    3.menerima perasaan marah,sedih atau emosi dan reaksi lainnya
    4.mengajarkan pada keluarga utk mengambil hikmah dan dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    5.selain itu perlu diberikan perawatan paliatif(bagi pasien yg tidak dapat disembuhkan atau dalam tahan terminal).

    *Primary Prevention
    1.Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakal yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahagunaan narkoba.
    2.Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    3.Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
    4..pemberian pendidikan akan pengetahuan dan bahaya dari narkoba

    *Secondary prevention
    Dalam melakukan tindakan pencegahan yg dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba coba dan di bantu oleh berbagai komponen masyarakat yg berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalahgunaan narkoba pada individu tertentu.kegiatan tersebut antara lain:
    1.deteksi dini anak yg menyalahgunakan narkoba
    2.konseling
    3.bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4.memberikan informasi melalui media
    5.life skill antara lain keterampilan berkomunikasi,menolak tekanan orang lain dan mengambil keputusan dengan baik.
    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah,lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zal.Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya anlara lain:
    1. Program lnformasi
    2.Program Pcndidikan Efektif
    3.Program Penycediaan Pilihan Yang bermakna
    4.Pengemalan Diri dan lntervensi Dini
    5.Program Pelatihan keterampilan Psikososial

  66. Nama: Lailatun Ni’mah
    NIM: 181141019
    Mata Kuliah: HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, Ditinjau dari Primary prevention, Secondary prevention, Tetiary Prevention

    Upaya pencegahan adalah melakukan pendekatan kepada kelompok/masyarakat tertentu untuk melakukan sebuah penyuluhan yang mengedepankan tentang pengetahuan dengan pendekatan KIE (komunikasi, informasi, edukasi)

    Upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan
    Untuk menghambat prevalensi HIV/penyebaran HIV kita harus mengedepankan beberapa program salah satunya adalah komunikasi. Bagaimana caranya kita melakukan komunikasi efektif kepada kelompok beresiko tinggi. Bagaimana caranya kita mengurangi kerentanan tersebut. Yaitu dengan cara penggunaan kondom, biasanya kondom hanya digunakan sebagai alat pencegah kehamilan (KB)

    Pencegahan HIV
    Primer : Upaya agar orang yang sehat tetap sehat dan mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
    Jenis- jenis pencegahannya yaitu:
    1. Melalui seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    Sekunder: melakukan sebuah pencegahan melalui aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV dibagi 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik
    Tersier: ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapan melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.

    Pencegahan NAPZA
    Primer: suatu pencegahan untuk memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang berpotensi
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    2. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik tentang bahaya narkoba
    3. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya narkoba (memberikan edukasi/penyuluhan kepada remaja awal-akhir)
    Sekunder: melakukan pencegahan kepada seseorang yang menggunakan narkoba secara coba-coba. Bisa dibantu oleh masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti menyalahgunakan narkoba
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah (door to door)
    4. Pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill : keterampilam berkomunikasi, monolak tekanan orang lain, keterampilan mengambil keputusan dg baik
    Tersier: adanya keikutsertaan pecandu narkoba dan mantan pengguna narkoba melalui peer group/teman sebaya. Pendekatan tersebut diharapkan individu yanv masih menggunakan narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba lagi.
    Kegiataan yang dilakukan yaitu
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak kembali menggunakan narkoba. Jadi sikap masyarakat yang mendukung untuk teap bersosialisasi dengan mereka

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pencegahannya yaitu:
    1. Program informasi yang kuat terhadap bahaya yang terjadi akibat narkoba
    2. Program pendidikan efektif dengan melihat seberapa tingkat pemahaman mengenai narkoba
    3. Program penyediaan pilihan ynag bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial

  67. PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA DI tinjau dari primary prevention,secondary prevention,dan tertiary prevention”
    1.Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan(skill)dan pengetahuan(knowledge)dengan cara atau metode yang sesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
    2. Penyebaran pengetahuan melalui pendikan formal dan non formal
    3. Upaya peningkatan pengetahuannya dengan cara komunikasi,informasi,dan edukasi.
    4. Upaya untuk menghambat penyebaran HIV antara lain:
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi.
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom.
    4. Meningkatkan kesediaan darah yang aman.
    5. Menungkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi infeksi menular seksua.
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama(universal)dan berkelanjutan.
    5. Pencegahan HIV AIDS
    1.) Pencegahan Primer
    Merupakan upaya untuk mencegah orang sehat menjadi sakit,seperti penyakit oportunistik,depresi dan tingkat kekebalan tubuh yang rendah.
    -Upaya dan sikap tanggung jawab terhadap orang lain untuk mencegah penularan HIV AIDS diantaranya:
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah.
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada ibunya.
    2.) Pencegahan Skunder
    Untuk mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi,harga diri,dukungan teman sebaya dan pengakuan hak.
    -Infeksi HIV AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara fogresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian.
    – Pengobatan HIV AIDS dibagi dalam 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi oportunistik.
    3.) Pencegahan Tersier
    Adalah dukungan berupa psikosional agar penderita dapat melakukan aktivitas sepertti semula misalnya:
    a. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan persaannya.
    b. Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah.
    c. Menerima perasaan marah,sedih,atau emosi dan reaksi lainnya.
    d. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah,dapat mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain.
    e. Memberikan perawatan paliatif.

    6. Pencegahan NAPZA
    1.) Primary Prevention
    a. Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalahgunaan narkoba.
    b. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba.
    c. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik dan bahaya narkoba.
    d. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba.
    2.) Secondary Prevention
    Adalah pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalahgunaan narkoba secara coba-coba.
    – Upaya pencegahannya antara lain:
    1. Deteksi diri anak yang menyalahgunaan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill,antara lain tentang keterampilan berkomunikasi,keterampilan menulak tekanan orang lain dan keterampilan mengambil keputusan dengan baik.
    3.) Tertiary Prevention
    Merupakan Pencegahan bagi Orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah menjadi mantan pengguna narkoba.
    – Upaya pencegahannya antara lain:
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya.
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
    -Faktor yang berasal dari luar individu seperti keluarga yang tidak sakinah,lingkungan sekolah yang tidak memadai,lingkungan masyarakat dan nilai obat zat.
    – Langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:
    1. Program informasi
    2. Program pendidikan efektif
    3. Program penyediaan pilihan yang bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial.

  68. Nama: Lailatun Ni’mah
    NIM: 181141019
    Mata Kuliah: HIV/AIDS

    Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba, Ditinjau dari Primary prevention, Secondary prevention, Tetiary Prevention

    Upaya pencegahan adalah melakukan pendekatan kepada kelompok/masyarakat tertentu untuk melakukan sebuah penyuluhan yang mengedepankan tentang pengetahuan dengan pendekatan KIE (komunikasi, informasi, edukasi)

    Upaya untuk menghambat penyebaran HIV
    1. Meningkatkan pelaksanaan komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi IMS
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan
    Untuk menghambat prevalensi HIV/penyebaran HIV kita harus mengedepankan beberapa program salah satunya adalah komunikasi. Bagaimana caranya kita melakukan komunikasi efektif kepada kelompok beresiko tinggi. Bagaimana caranya kita mengurangi kerentanan tersebut.

    Pencegahan HIV
    Primer : Upaya agar orang yang sehat tetap sehat dan mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
    Jenis- jenis pencegahannya yaitu:
    1. Melalui seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya
    Sekunder: melakukan sebuah pencegahan melalui aspek kemanusiaan
    Pengobatan HIV dibagi menjadi 2 kelompok
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik
    Tersier: ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapan melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.

    Pencegahan NAPZA
    Primer: suatu pencegahan untuk memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang berpotensi
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Penyuluhan tentang dampak narkoba
    2. Pemberian berbagai iklan/sumber media elektronik tentang bahaya narkoba
    3. Pemberian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya narkoba (memberikan edukasi/penyuluhan kepada remaja awal-akhir)
    Sekunder: melakukan pencegahan kepada seseorang yang menggunakan narkoba secara coba-coba. Bisa dibantu oleh masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti menyalahgunakan narkoba
    Kegiatan yang dilakukan yaitu
    1. Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah (door to door)
    4. Pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill : keterampilam berkomunikasi, monolak tekanan orang lain, keterampilan mengambil keputusan dg baik
    Tersier: adanya keikutsertaan pecandu narkoba dan mantan pengguna narkoba melalui peer group/teman sebaya. Pendekatan tersebut diharapkan individu yanv masih menggunakan narkoba untuk berhenti menggunakan narkoba lagi.
    Kegiataan yang dilakukan yaitu
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna narkoba agar mereka tidak kembali menggunakan narkoba.

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Pencegahannya yaitu:
    1. Program informasi yang kuat terhadap bahaya yang terjadi akibat narkoba
    2. Program pendidikan efektif dengan melihat seberapa tingkat pemahaman mengenai narkoba
    3. Program penyediaan pilihan ynag bermakna
    4. Pengenalan diri dan intervensi dini
    5. Program pelatihan keterampilan psikososial

  69. Nama: Restu Baitumah Eka Wardani
    NIM: 181141031
    Matkul: HIV/AIDS

    Pencegahan hiv aids dan narkoba primer skunder tresler
    Upaya pencegahan dgn meningkatkan keterampilan,pengetahuan degn cara sesuai kepercayaan dan budaya setempat.upaya peningkatan pengetahuan selama ini di kenal (KIE)

    1.Pencegahan primer: pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat dan orang sakit tetap sakit.pencegahan primerr merupakan hal paling penting terutama dalam hal merubah prilaku seseorang.

    2.pencegahan sekunder: mencakup aspek kesehatan dan kemanusian prilaku yang aman untuk diri kita sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan dan tingkat informasi,harga diri,dukungan temam sebaya,pengakuan hak

    3.pencegahan tresler:ODHA perlu di berikan dukungan berupa dukungan pesikososial agar penderita dapat melakukan aktifitas seperti semula/seoptimal mungkin

    4.pencegahan napza:
    -primary prevention
    -secundary prevention
    -teretiary prevention

    Faktor yang berasal dari lingkungan dari individu seperti kluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak mewadahi lingkungan masyarakat

  70. Nama : M. Lukman Sasongko
    Nim : 181141021
    Mata kuliah : Keperawatan HIV & AIDS

    PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA
    Upaya pencegahan adalah dengan meningkatkan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge) dengan cara/metode yangsesuai dengan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat. Upaya peningkatan pengetahuan selama ini dikenal dengan istilah KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)

    Upaya yang selama ini dilakukan untuk menghambat penyebaran HIV adalah
    1. Meningkatkan pelaksanaan Komunikasi
    2. Mengurangi kerentanan
    3. Meningkatkan penggunaan kondom
    4. Meningkatkan sediaan darah yang aman
    5. Meningkatkan upaya untuk menurunkan prevalensi Infeksi Menular Seksual
    6. Meningkatkan tindakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
    7. Meningkatkan upaya penanggulangan secara bersama-sama (universal) dan berkelanjutan.

    Pencegahan HIV/AIDS
    Pencegahan Primer
    Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling penting, terutama dalam merubah perilaku.
    Jenis pencegahan ini adalah :
    1. Melalui hubungan seksual
    2. Melalui darah
    3. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya

    Pencegahan Sekunder
    Pencegahan sekunder mencakup aspek kesehatan dan kemanusiaan perilaku yang aman untuk diri mereka sendiri dan orang lain tergantung pada kecukupan tingkat informasi, harga diri, dukungan teman sebaya, dan pengakuan hak Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif sehingga muncul berbagai infeksi oportunistik yang akhirnya dapat berakhir pada kematian. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yang efektif. schingen pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam dua kelompok sebagai berikut:
    1. Pengobatan suportif
    2. Pengobatan infeksi opurtunistik

    Pencegahan Tersier
    ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula seoptimal mungkin. Misalnya
    1. Memperbolehkannya untuk membicarakan hal-hal tertentu dan mengungkapkan perasaannya Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang indah Menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya.

    Pencegahan NAPZA
    Primary Prevention
    Pencegahan ini dilakukan memberikan peningkatan pemahaman kepada komponen masyarakat yang dapat berpotensi sebagai pencegahan penyalagunaan narkoba. Kegiatan yang kemungkinan dapat dilakukan antara lain:
    1. Penyuluhan tentang dampak dari narkoba
    2. Pemberian berbagai macam iklan atau sumber media elektronik akan bahaya narkoba
    3. Pemebrian pendidikan akan pengetahuan dampak dan bahaya dari narkoba

    Secondary Prevention
    Dalam melakukan tindakan pencegahan yang dilakukan pada saat individu melakukan penyalagunaan narkoba secara coba-coba. Dan dibantu oleh berbagai komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar bisa berhenti dari penyalagunaan narkoba pada individu tertentu. Kegiatan yang dialakukan dalam upaya tersebut adalah:
    1. Deteksi dini anak yang menyalagunakan narkoba
    2. Konseling
    3. Bimbingan social melalui kunjungan rumah
    4. Melakukan pemberian informasi melalui media dengan harapan pengembangan individu
    5. Life skill antara lain tentang ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan menolak tekanan orang lain dan ketrampilan mengambil keputusan dengan baik.

    Tertiary Prevention
    Pencegahan ini dilakukan kepada orang yang sedang menggunakan narkoba dan yang pernah atau mantan pengguna narkoba, serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhenti dari penyalahgunaan narkoba dan membantu bekas korban naroba untuk dapat menghindari Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
    1. Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta kelompok lingkungannya
    2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.

    Faktor yang berasal dari luar individu seperti lingkungan keluarga yang tidak sakinah, lingkungan sekolah yang tidak memadai, lingkungan masyarakat dan nilai obat-zat.Ada beberapa langkah pencegahan dan penanggulangannya antara lain:
    1. Program Informasi
    2. Program Pendidikan Efektif
    3. Program Penyediaan Pilihan Yang Bermakna
    Pengenalan Diri dan Intervensi Dini
    5. Program Pelatihan Ketrampilan Psikososial

  71. Ada tiga pencegahan hiv/aids yaitu:
    1.Pencegahan pertama (primer)
    Pencegahan primer ini pencegahan tahap awal. Dan sasarannya orang yang sehat dan rentan. Dengan tujuan merubah perilaku. Disini menghindari orang dari orang yang sehat menjadi sakit. Atau menjaga seseorang yang sehat tetap sehat. Pencegahan disini penting untuk menjaga kualitas hidup orang yang terkena dampak infeksi ulang, depresi. Kekebalan tubuh menurun.
    2. Pencegahan kedua (secunder)
    Pencegahan sekunder ini mencangkup aspek sehat dan kemampuan perilaku yang aman untuk diri sendiri. Sasaran pencegahan ini untuk orang yang sudah mengidap HIV/AIDS untuk mencegah kematian akibat menurunnya sistem imun yang progresif dan muncul berbagai infeksi oporturnistik.
    3. Pencegahan ketiga (tersier)
    Pencegahan ini sasarannya odha yang perlu dukungan psikososial agar melakukan aktivitas seperti semula / seoptimal mungkin. Seperti membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya.

    Pencegahan NAPZA yaitu:
    1. Primer prevention ( pencegahan pertama)
    Pencegahan disini sasarannya masyarakat yang sehat dan rentan terkena penyalahgunaan NAPZA. Pencegahan disini menanamkan perilaku yang sehat. Dengan pemberian pengetahuan, pemahaman dan pendidikan tentang dampak narkoba, dan penyalahgunaan NAPZA. Dengan cara penyuluhan, iklan dll.
    2. Pencegahan sekunder
    Sasarannya orang yang menggunakan narkoba atau penyalahgunaan narkoba secara coba coba. Agar dapat berhenti menyalahgunakan narkoba lagi. Disini perlu melakukan deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkoba. Konseling, bimbingan sosial melalui kunjungan rumah. Dengan bantuan masyarakat keluarga dan orang sekitar.
    3. Pencegahan tersier
    Pencegahan ini sasarannya adalah mantan pengguna narkoba, dan serta komponen masyarakat yang berpotensi dapat membantu agar berhentu dari oenyalahgynaan narkoba dan mantan pengguna narkoba menghindari lagi penyalahgunaan narkoba.

  72. Nama : Havivah
    Nim : 191141026
    Mata kuliah : promosi kesehatan
    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Didalam factor pelaksanaaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan terdapat 5 upaya promosi kesehatan yaitu :
    1. kebijakan berwawasan kesehatan
    2. lingkungan yang mendukung
    3. reorientasi pelayanan kesehatan
    4. keterampilan individu
    5. gerakan masyarakat
    Ada 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku dalam mempengaruhi promosi kesehatan yaitu :
    1. promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (Pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    2. promosi kesehatan dan faktor faktor enabling ( Asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    3. promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah :
    1. Operasional agar melakukan langkah positif dalam melakukan Pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri.
    Faktor yang mempengaruhi promosi kesehatan dinyatakan oleh Green dan reuter bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan kebijakan politik, peraturan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok atau komunitas

  73. Nama : ANANDA FATYA SETIANINGRUM
    NIM : 191141007
    Mata kuliah : Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan

    Kesimpulan tentang faktor mempengaruhi promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan.
    Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan, peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu kelompok, atau komunitas. Promosi kesehatan mempengaruhi 3 factor penyebab yaitu factor predisposisi, factor enablimg, dan factor reinforcing, dari ke 3 factor tersebut dapat terbentuk perilaku yang baik dalam sebuah promosi kesehatan. Tujuan dari promosi kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan dan juga meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatanya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri, akan tetapi bukan hanya mengubah perilaku melainkan juga mengupayakan perubahan lingkungan. Promosi kesehatan juga memiliki kebijakan-kebijakan yang digunakan saat kita melakukan promosi kesehatan baik itu kebijakan nasional maupun kebijakan internasional.

  74. Nama : Muhammad Shofiyul Umam
    Nim : 191141045
    Semester : 2A (dua)
    Prodi : S1-Ilmu Keperawatan

    Promosi kesehatan merupakan gabungan dari berbagai upaya atau kegiatan yang tidak hanya pendidikan kesehatan, tetapi juga penetapan kebijakan. Pengorganisasian, perilaku kesehatan yang bedasarkan pada kultur atau budaya setempat.
    Pada masa itu, istilah yang cukup terkenal hanyalah Penyuluhan Kesehatan, selain itu muncul pula istilah istilah popular lain seperti KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), Social Marketing (Pemasaran Sosial) dan Mobilitas Sosial.
    Piagam tersebut merumuskan upaya promosi kesehatan mencakup 5 butir.
    Kebijakan Berwawasan Kesehatan
    Lingkungan yang mendukung
    Reorientasi Pelayanan Kesehatan
    Keterampilan Individu
    Gerakan Masyarakat
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut Green dalam yaitu
    Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    Promosi kesehatan dalam facktor-faktor enabling
    Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing
    Faktor dari teori preset and proset:
    Predisposing, meliputi pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat atau nilai dan norma, self efficacy
    Reinforcing, meliputi dukungan
    Enabling, meliputi akses pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat

  75. Nama ​​: ROSITA SOARES
    NIM​​: 191141059
    Mata Kuliah​: PROMKES

    ❖ KESIMPULAN DARI FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN ;
    ➢ Pelaksanaan Promosi Kesehatan
    Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri. Promosi kesehatan juga merupakan revitalisasi pendidikan kesehatan pada masa lalu, di mana dalam konsep promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat dalam hal pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan saja, melainkan juga upaya bagaimana mampu menjembatani adanya perubahan perilaku seseorang.
    Promosi kesehatan ini memiliki beberapa tujuan berupa tujuan program, tujuan pendidikan, tujuan perilaku. Serta sasarannya adalah Sasaran primer (pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat), sasaran sekunder(mempengaruhi sasaran primer), sasaran tersier (para pembuat kebijakan public). Jenis promosi kesehatan meliputi pemberdayaan massyarakat, pemgembangan kemitraan, upaya advokasi, pembinaan suasana, pemgembangan SDM, pengembangan IPTEK,pengembangan media dan sarana, dan pengembangan infrastruktur.
    Dalam pelaksanaan penyuluhan kesehatan banyak faktor-faktor yang berperan penting atas keberhasilan tersebut. Faktor yang mempengaruhi suatu proses pendidikan adalah metode yang digunakan, materi atau pesannya,pendidik atau petugas yang melakukannya dan alat-alat bantu atau media yang digunakan untuk menyampaikan pesan disamping faktor masukannya sendiri.Agar dicapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor tersebut harus bekerja sama secara harmonis.

    ➢ Pendidikan Kesehatan
    Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang kesehatan. Merupakan suatu kegiatan untuk membantu individu,kelompok, atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan atau perilakunya,untuk mencapai kesehatan secara optimal. Peran pendidikan kesehatan mencakup:Peran pendidikan kesehatan dalam faktor lingkungan,. peran pendidikan kesehatan dalam faktor perilaku, peran pendidikan kesehatan dalam pelayanan kesehatan, peran pendidikan kesehatan dalam faktor hereditas.
    Tujuan pendidikan kesehatan merupakan domain yang akan dituju dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan memiliki beberapa tujuan antara lain pertama, tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalammembina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat, serta peran aktifdalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yag optimal.
    Pentingnya pendidikan kesehatan menunjukan bahawa Hal tersebut jelasdan bisa dibuktikan. Dengan kesadaran pentingnya akan kesehatan ini diharapkanterbentuknya karakter-karakter pemuda yang tangguh secara otaknya maupunsecara fisiknya. Akhirnya dengan keseriusan sekolah dan guru pada pendidikankesehatan, diharapkan terbentuk peserta didik yang bukan hanya memilikikecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual saja, tetapi juga memiliki ragayang sehat dan kuat

  76. Nama: Tharisa berljana salsabilla putri
    Nim: 191141067
    Mata kuliah: Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan.

    Kesimpulan dari materi hari ini adalah
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam pendidikan kesehatan. Ada pun faktor yang mempengaruhi pelaksaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan harus adanya kombinasi dalam berbagi macam seperti upaya pendidikan, kebijakan (politik) dan sebagainya untuk meningkatkan kesejahteraan di bidang kesehatan yang optimal.

  77. Nama : Priska Arlinda P. P
    NIM : 191141049
    Mata kuliah : Promkes
    Semester : 2A

    Kesimpulan
    Dalam promosi Kesehatan tidak lepas mencangkup 5 butir piagam, diantaranya :
    1. Kebijakan berwawasan Kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan Kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    Dalam bagian piagam tersebut adalah bagian integral yang harus dilakukan dalam sebuah promosi Kesehatan.
    Promosi Kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku Green, yaitu :
    1. Promosi Kesehatan dalam fakor-faktor predisposisi (pengetahuan, sikap)
    2. Promosi Kesehatan dalam factor -faktor enabling ( akses pelayanan, sarana dan prasarana)
    3. Promosi Kesehatan dalam factor reinforcing ( dukungan )
    Yang diharapkan dari 3 faktor diatas adalah dapat merubah perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebuah Kesehatan yang berkesinambungan.
    Tujuan Pendidikan Kesehatan adalah
    1. Agar melakukan Langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien (eksistensi dengan cara pendekatan lebih baik kepada masyarakat)
    3. Agar mempelajari apa yang dilakukannya secara mendiri
    Green dan Kreuter harus ada kombinasi antara upaya Pendidikan, peraturan yang harus sinkron untuk mendapat Kesehatan yang elebih optimal.

  78. Nama : Alfi Putri Pramitasari
    Nim : 191141005
    Mata Kuliah : Pendidikan Kesehatan dan Promosi Kesehatan

    Rangkuman materi “Faktor-faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan”
    Piagam yang merumuskan promosi kesehatan :

    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    3 faktor penyebab terbentuknya perilaku dalam promosi kesehatan
    1. Promosi kesehatan dalam faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat/nilai norma, self eficacy).
    2. Promosi kesehatan dalam faktor enabling (akses pelayanan, sasaran dan prasarana, peraturan sebagai pengikat).
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan).
    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
    Green dan Kreuter mengatakan bahwa “Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok, atau komunitas”
    Dibutuhkan kesinkronan agar mencapai derajat kesehatan yg baik, dan kesejahteraan kesehatan di masyarakat.

    Terimakasih pak, materinya bisa memudahkan kami untuk melakukan promosi kesehatan dengan tetap memperhatikan faktor yang mempengaruhinya, agar bisa berjalan dengan baik

  79. Nama : Syafira Himairoh
    NIM : 191141065
    Semester : 2A
    Mata Kuliah : Pendidikan kesehatan dan Promosi kesehatan

    Kesimpulan dari materi hari ini yaitu
    Promosi Kesehatan mempunyai 3 faktor guna menentukan terbentuknya perilaku yang diharapkan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebagai kesehatan yang bekesinambungan sakit. Faktor-faktor tersebut antara lain :
    A. Predisposing =
    – Pengetahuan : (semakin tinggi pengetahuan seseorang maka diharapkan semakin baik status kesehatan orang tersebut)
    – Sikap : (terbentuknya sikap ini apabila sudah mendapat pengetahuan yang baik)
    – Tingkat Sosial Ekonomi : (pendapatan/status sosial yang semakin tinggi maka semakin baik standar kesehatannya)
    – Self Efficicy : ( tingkat kepercayaan yang besar akan menjadi lebih baik)
    B. Reinforcing =
    – Dukungan : baik dari teman sebaya maupun keluarga/kelompok/masyarakat. Dari dukungan tersebut bisa menyebabkan perubahan perilaku yang lebih baik.
    C. Enabling =
    – Akses Pelayanan : (akses pelayanan yang baik akan membuat kita menjadi lebih baik)
    – Sarana dan Prasarana : (lengkap/tidaknya sarana dan prasarana menjadi pertimbangan akan kesehatan)
    – Peraturan sebagai pengikat

    Adapun tujuan dari pendidikan kesehatan itu sendiri antara lain :
    1. Agar melakukan langkah positif terhadap pencegahan penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik eksistensi perubahan sistem dan cara memanfaatkan dengan efektif
    3. Agar mampu mempelajari apa yang didapat secara mandiri (dipraktekkan secara langaung sendiri)

  80. NAMA ​​: FETSHIE ARIESTA FANNY
    NIM ​​​: 191141023
    MATA KULIAH ​: PROMKES

    ✓ KESIMPULAN
    PROMOSI KESEHATAN yaitu upaya pendidikan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses-proses pembelajaran supaya dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat yang kondisi hidupnya sesuai dengan suku dan budaya yang ada disekitarnya. Dan kondisi tersebut didukung oleh banyak pihak yang berwawasan terutama pada bidang kesehatan.

    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku, yaitu :
    1. Promosi kesehatan dalam faktor Predisposisi, yang berisi : Pengetahuan, Sikap, Tingkat sosial ekonomi, Adat istiadat atau nilai dan norma, Self efficacy.
    2. Promosi kesehatan dalam faktor Enabling, berisi : Akses pelayanan, Sarana dan prasarana, Peraturan sebagai pengikat.
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing, berisi : Dukungan.

    Dan tujuan dari pendidikan kesehatan tersebut yaitu untuk merubah perilaku individu atau kelompok dalam bidang kesehatan.

  81. Nama : wancuk oktyonok
    Nim : 191141077
    Prodi : s1 ilmu keperawatan
    Kesimpulan
    Factor2 yang mempengaruhi promosi kesehatan bisa di bilang berhasil jika hubungan komunikasi interpersonal atau kelompok dapat berjalan dengan efektif dan pasein merubah tingkah laku dari prilaku buruk ke prilaku baik dalam kesehatan bersinanjungan. Factor terbentuknya prilaku tersebut yaitu “
    1. faktor predisposisi
    2. factor enabling
    3. factor reinforcing
    Tindakan kita dalam pendidikan kesehatan adalah
    1. Agar Melakukan langka positif dengan pencegahan penyakit
    2. Agar Memiliki pengertian yang lebih baik
    3. Agar Bisa melakukan perawatan mandiri
    Faktor2 yang dapat mempengaruhi menurut green
    Predisposing
    -pengetauan
    -sikap
    -tingkat social ekonomi
    Dll
    Reinforcing
    -dukungan
    Enabling
    -akses
    -saranan dan pasarana
    -peraturan sebagai pengikat

  82. Nama : Delaviasanny Tubulau Cunha
    Nim : 191141013
    Prodi : Ilmu Keperawatan
    Semester : 2 A
    Mata Kuliah : Pendidikan Kesehatan dan Promosi Kesehatan
    Tugas
    FAKTOR MEMENGARUHI PELKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN
    -Promosi Kesehatan terdiri dari piagam yang merumuskan upaya kesehatan dan piagam tersebut mencakup 5 butir yaitu:
    Kebijakan berwawasan kesehatan
    Lingkungan yang mendukung
    Reorientasi promosi kesehatan
    Keterampilan individu
    Gerakan masyarakat
    -Dalam teori Green promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku , ketiga faktor tersebut yaitu:
    Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing.
    Fakto-faktor tersebut menentukan terbentuknya perilaku yang diharapkan perilaku yang buruk menjadi perilaku baik.
    -Tujuan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.

  83. Nama : wancuk oktyonok
    Nim : 191141077
    Prodi : s1 ilmu keperawatan
    Kesimpulan
    Factor2 yang mempengaruhi promosi kesehatan bisa di bilang berhasil jika hubungan komunikasi interpersonal atau kelompok dapat berjalan dengan efektif dan pasein merubah tingkah laku dari prilaku buruk ke prilaku baik dalam kesehatan bersinanjungan. Factor terbentuknya prilaku tersebut yaitu “
    1. faktor predisposisi
    2. factor enabling
    3. factor reinforcing
    Tindakan kita dalam pendidikan kesehatan adalah
    1. Agar Melakukan langka positif dengan pencegahan penyakit
    2. Agar Memiliki pengertian yang lebih baik
    3. Agar Bisa melakukan perawatan mandiri
    Faktor2 yang dapat mempengaruhi menurut green
    Predisposing
    -pengetauan
    -sikap
    -tingkat social ekonomi
    Dll
    Reinforcing
    -dukungan
    Enabling
    -akses
    -saranan dan pasarana
    -peraturan sebagai pengikat

  84. Nama:agustien Sri kastrina sela
    Nim:191141003
    Mata kulia: pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan

    Kesimpulan dari materi hari ini adalah pendidikan merubaha individuayau masyarakat dati bidang kesehatan ,pendidikan kesehatan adalah layanan kesehatan yang mengajarkan masyarakat untuk bebas dari sakit
    Dalam melakukan promosi kesehatan kita harus meyankin masyarak dalamperubahan dan pemahaman tentang kesehatan

  85. NAMA : RATIH ARUM ARDANA JUNIARTOKO
    NIM : 1911041051
    MATA KULIAH : PROMKES
    FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN
    •Piagam rumusan promosi kesehatan mencakup 5 butir yaitu :
    1. Kebijakan Berwawasan Kesehatan
    2. Lingkungan yang Mendukung
    3. Reorientasi Pelayanan Kesehatan
    4. Keterampilan Individu
    5. Gerakan Masyarakat
    •Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor pengebab terbentuknya perilaku tersebut (Green) dalam yaitu promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi,enabling,reinforcing
    •Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu :
    1. Predisposing
    -Pengetahuan,Sikap,Tingkat sosial ekonomi, Adat istiadat/nilai dan norma,Self efficacy
    2. Enabling
    -Akses pelayanan,Sarana dan prasarana,Peraturan sebagai pengikat
    3. Reinforcing
    -Dukungan

  86. Nama: Farahiyah Mazayah Ischak
    Nim:191141021
    Kelas:keperawatan A
    Semester:02 (Dua)
    Tugas:kesimpulan dari tayangan youtube mengenai Faktor yang mempengarui pelaksanaan yang. mempengarui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Kesimpulan:
    Piagam yang merumuskan promosi kesehatan ada 5
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    Promosi kesehatan mempunyai 3 faktor untuk mengubah perilaku buruk menjadi perilaku baik bagi kesehatan:
    1. Faktor predispensi>meliputi:pengetahuan,sikap,tingkat sosial ekonomi,adat istiadat dan norma,self eficacy
    2. Faktor enabling7>meliputi:akses pelayanan,saranan dan prasarana,peraturan sebagai pengikat
    3. Faktor reinforcing>meliputi:dukungan
    Tujuan dari promkes untuk mengubah individu/masyarakat dalam bidang kesehatan secara opetasional agar terhindar dari penyakit,memberikan informasi dan pengertian agar masyarakat bisa beeprilaku Mandiri dalam menangani atau mencegah penyakit untuk meningkatkan kesejahteraan yang lebih optimal

  87. Nama: Siti Aisyah
    Nim: 191141063
    Faktor mempengaruhi pelaksanaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut dalam yaitu
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi (pengetahuan sikap tingkat sosial ekonomi, adat-istiadat atau nilai dan norma self-efficacy)
    2. Promosi kesehatan dalam faktor faktor enabling ( asas pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat)
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (dukungan)
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
    Tujuan promkes dan pendidikan kesehatan sama yaitu mengubah suatu individu atau masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan, serta menjadikan masyarakat lebih berpengetahuan, dan melaksanakan pengubahan kesehatan secara mandiri menuju ketingkat yang lebih baik lagi bagi kesehatan.

  88. Nama: Mega Pratama Surya Ningsih
    NIM : 191141043
    Mata kuliah : pendidikan kesehatan dan promkes
    Kesimpulan dari materinya adalah Didalam faktor pelaksanaaan promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan , terdapat lima upaya promosi kesehatan yaitu : 1.kebijakan berwawasan kesehatan 2.lingkungan yang mendukung ,3.reorientasi pelayanan kesehatan , 4.keterampilan individu , 5. gerakan masyarakat . Pelaksanaan Promkes dan pendidikan kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku green yaitu promosi kesehatan dalam faktor” predisposisi , promosi kesehatan dan faktor faktor enabling , promosi kesehatan dalam faktor reinforcing . ada tiga faktor dalam preset dan proset yaitu predisposing , reinforcing dan enabling .
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan . Dan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah : 1 . Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit 2 . Agar memiliki pengertian yang yang lebih baik tentang ekstensi perubahan sistem dan cara memanfaatkan dengan efektif dan efisien . 3 . Agar mempelajari apa yang dapat dilakukan secara mandiri

  89. Nama: Diah Mita Widiani
    Nim: 191141017
    Mata Kuliah: Promkes

    KESIMPULAN:
    Dalam promkes tidak lepas dari piagam kesehatan yang merumuskan promosi kesehatan yang meliputi 5 butir:
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    Promkes mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku menurut teori l Green dengan pendekatan pressed and prosed:
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing
    Contoh faktor dari teori preset and proset:
    1. Predisposing, meliputi pengetahuan, sikap, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat atau nilai dan norma, self efficacy
    2. Reinforcing, meliputi dukungan
    3. Enabling, meliputi akses pelayanan, sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat

  90. NAMA : Annisa Reyhanita Ningsih
    NIM : 19141009
    MATA KULIAH : Promosi Kesehatan
    KELAS : 2A

    Kesimpulan
    Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya upaya pendidikan kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan kondisi kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok, atau komunitas. Keimpulannya promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk lebih mengetahui cara menolong dirinya sendiri dan mengembangkannya agar semua masyarakat mengerti dan berwawasan luas tentang kesehatan itu sendiri. Dan promosi kesehatan bisa di lakukan lewat mana saja bisa secara langsung dan tidak langsung.

  91. Nama:Riski Aprelliani
    Nim:191141053
    Mata Kuliah:Promkes(promosi kesehatan)

    Faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan
    Penyuluhan Kesehatan Mempunyai istilah lain yaitu KIE (Komunikasi,Informasi dan Edukasi), Social Marketing (Pemasaran Sosial) dan Mobilasi Sosial.
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
    Faktor yang mempengaruhi:
    Green dan Kreuter menyatakan bahwa “Harus adanya kombinasi anatara berbagai macam pendidikan karna untuk mencapai derajat yang baik”, Diperlukan juga kesinkronan untuk meningkatkan kesejahteraan dimasadepan.

  92. Nama : Imelda Putri bernanda
    Nim: 191141033
    Semester 2A

    Jadi promosi kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran untuk bersama agar mereka dapat menolong dirinya sendiri saat menggambarkan kegiatan yang bersinabungan daya masyarakat dengan kondisi budaya setempat dengan di dukung kebijakan publik yg berawasan kesehatan
    Pada masa itu istilah yg cukup terkenal hanyalah penyuluhan KIE (Komunikasi informasi dan edukasi) sosial marketing pemasran sosial, dan mobilisasi sosial
    Perogam tesbt merumuskan upaya promosi kesehatan merupakan
    1. Berkewajiban berwawsan kesehatn
    2.lingkungan yg mendukung
    3.reonitas pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

  93. NAMA : RIZKI RIDHA ALIEF YANA
    NIM : 191141055
    MATA KULIAH : PROMKES

    FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI DAN PENDIDIKAN KESEHATAN
    • Piagam rumusan kesehatan mencakup 5 butir yaitu :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat
    • Promosi kesehatan dipengaruhi 3 faktor terbentukya perilaku tersebut green dalam yaitu :
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    3. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing
    • Tujuan secara operasional pendidikan kesehatan adalah :
    1. Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahaan system dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien
    3. Agar mempelajari apa yang dapat dilakukannya secara mandiri.
    • Faktor yang memengaruhi menurut Green dan Kauter adalah :
    “ Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan, peraturan dan organisasi.
    • 3 Faktor teori preset dan proset
    1. prediposing
    2. Reinforcing
    3. Enabling

    Terimakasih 🙏

  94. Nama : I Gusti Putu Bagus Surya Saputra
    Nim : 191141031
    Matkul : Promosi Kesehatan
    Resume : Faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan
     Pada masa itu istilah yang terkenal yaitu Penyuluhan kesehatan, tetapi ada pula yang lain seperti KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi), Sosial Marketing dan Mobilitas Sosial.

     Adapun 5 piagam promosi kesehatan tersebut mencakup 5 butir :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yg mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehtan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

     Promosi kesehtan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya sebuah sikap menurut GREEN yaitu :
    1. Promkes dalam faktor predisposisi
    2. Promkes dalam faktor enabling
    3. Promkes dalam faktor reinforcing

     Tujuan prndidikan kesehatan adalah untuk mengubah sikap masyarakat dalam bidang kesehatan. Secara oprasional tujuannya adalah :
    1. Melakukan langkah psitif dalam mencegah penyakit
    2. Agar memiliki pengetahuan lebih tentang ektensi agar berjalan dengan baik
    3. Agar mempelajari apa yang di lakukan dengan mandiri

     Menurut GREEN dan KREUTER menyatakan bahwa promosi kesehtan adalah suatu kombinasi pendidikan, kebijakan, hokum, dan organisasi mengenai kesehtan seseorang.

    Predisposing :
    Kesehtan , sikap, tingkat social dan ekonomi, adat, self efficacy
    Reinforcing :
    Dukungan
    Enabling :
    Akses pelayanan, Sarana dan prasarana, peraturan sebagai pengikat

  95. Nama : Intan permatasari
    Nim : 191141035
    Semester : 2A
    Kesimpulan :
    Untuk melaksanakan suatu promosi kesehatan,ada lima upaya yaitu : kebijakan berwawasan kesehatan,lingkungan yang mendukung,reorientasi pelayanan kesehatan,ketrampilan individu dan gerakan masyarakat.
    Dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan kesehatan ada 3 faktor yang mempengaruhi terbentuknya Prilaku Green yaitu Predisposisi,enabling dan reinforcing.Ketiga faktor ini menentukan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik dalam sebuah kesehatan yg berkesinambungan selanjutnya.
    Tujuan melakukan pendidikan kesehatan agar masyarkat dapat mengubah perilaku,sehingga dapat melakukan suatu pencegahan terhadap suatu penyakit.

  96. Nama:Lailatul mafruhah
    Nim:191141037
    Semester:2A
    Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi social budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk dan masyarakat mampu merubah perilaku yang baik menuju hidup bersih dan sehat.

  97. Nama : Ayu Afrillia Oviana
    Nim : 191141011
    Semester : 2A
    FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN
    Piagam yg merumuskan upaya kesehatan mencakup 5 butir
    Kebijakan Berwawasan Kesehatan
    Lingkugan yg Mendukung
    Reorientasi Pelayanan Kesehatan
    Keterampilan Individu
    Gerakan Masyarakat
    Teori el-green dengan pendekatan preset dan proset
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab perilaku tersebut:
    Promosi kesehatan dalam factor predisposisi
    Promoi kesehatan dalam factor enabling
    Promosi kesehatan dalam factor reinforcing
    Ketiga factor ini menentukan terbentuknya perilaku yg diharapkan dari perilaku buruk ke perilaku baik akan sebuah kesehatan yg berkesinambungan selanjutnya
    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Secara opersional tujuan pendidikan kesehatan adalah:
    Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    Agar memiliki pengertian yg lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara memanfaatkan dengan efektif dan efisien
    Agar mempelajari apa yg dapat dilakukan secara mandiri
    Factor yg mempengaruhi
    Diambil dari Green dan kauter menyatakan bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yg menguntungkan kesehatan individu,kelompok, atau komunitas”.
    Untuk mencapai derajat kesehatan yg baik diperlukan kesinkronan antara semuanya
    Berikut yg dapat mempengaruhi perilaku manusia
    Predisposing
    Pengetahuan, karena semakin tinggi pengetahuan seseorang maka emakin baik pula status kesehatannya
    Sikap, terbentuk apabila sudah mendapat pengetahuan.
    Tingkat social ekonimi, berbicara tentang pendapatan dalam keuarga maka semakin tinggi pendapatan tersebut diharapkan semakin baik pula standar kesehatannya
    Adat istiadat atau nilai dan norma, sebuah kesehatan itu tidak lepas dari campur tanagn kebiasaan mayarakat dan itu perlu di garis bawahi bahwasanya kesehatan itu sangat mudah kita raih apabila kita melakukan pendekatan yg lebih kominikasi efektif pada tokoh masyarakat dan adat istiadat setempat mengenai kesehatan
    Self efficacy, kita melihat seberapa besar kepercayaan dan keyakinan pada masyarakat tersebut tentang kesehatan yg lebih baik
    Reinforcing
    Dukungan, dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:
    Dukungan teman sebaya
    Dukungan keluarga
    Dukungan masyarakat, dll
    Dari dukungan” tersebut dapat menyebabkan peningkatan kesehatan dengan baik
    Enabling
    Akes pelayanan
    Sarana dan prasarana
    Peraturan sebagai pengikat

  98. Nama : Adonia Silpa Marion Drunyi
    Nim : 191141001
    Mata kuliah : PROMKES

    Kesimpulan dari ” FAKTOR MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN”

    Piagram tersebut merumuskan upaya promosi mencakup 5 :
    1. Kebijakan berwawasan kesehatan
    2. Lingkungan yang mendukung
    3. Reorientasi pelayanan kesehatan
    4. Keterampilan individu
    5. Gerakan masyarakat

    Tiga faktor penyebab terbentuknya perilaku Green tersebut.
    1. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi.
    2. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling.
    3. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor Reinforching.

    Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah
    1. Langkah positif untuk pencegahan penyakit.
    2. Pengertian yang baik tentang eksistensi perubahan sistem dengan cara efektif dan efisien.
    3. Pelajari secara mandiri.

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
    ” Green dan kreuter ” menyatakan bahwa harus adanya kombinasi antara berbagai macam untuk mencapai suatu derajat kesehatan yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan derajat yang lebih optimal.

    # Predisposing
    – Pengetahuan (Respon)
    – Sikap (Sikap yang belum tercapai)
    – Tingkat sosial ekonomi (Pendapatan)
    – Adat istiadat / Nilai dan Norma ( campur tangan/ pendekatan dan komunikasi efektif)
    – Self Efficacy (Tingkat kepercayaan dan keyakinan)

    # Reinforching
    – Dukungan (Peningkatan perilaku)

    # Enabling
    – Akses pelayanan (Status kesehatan)
    – Saranan dan prasarana (Perlengkapan)
    – Peraturan sebagai pengikat (Keberhasilan promosi kesehatan dan Pemahaman dari promosi kesehatan)

  99. Nama : Lelyana Nur IndahSari (191141039)
    Prodi : S1 Ilmu Keperawatan
    Semester : 2A
    Mata Kuliah : Promkes

    “Kesimpulan fakor yang mempengaruhi pelaksanaan promkes dan pendidikan kesehatan”
    Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu , kelompok/komunitas.
    Faktornya ada tiga yaitu
    1.presdisposing
    2. Enabling
    3. Reinforcing
    Dari ketiga faktor diatas tersebut menentukan terbentuknya yang diharapkan dari perilaku yang baik dalam sebuah kesehatan yang saling berkesinambungan.
    Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan mandiri keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran yang didalamnya perawat sebagai perawat pendidik. Tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan.

  100. NAMA : Nur Aini
    NIM : 191141047
    MATA KULIAH : PROMKES

    KESIMPULAN
    Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor dalam terbentuknya perilaku tersebut dr teori Green :
    Predisposisi
    Enabling
    Reinforcing.
    Faktor Yang Mempengaruhi menurut Green dan Kreuter menyatakan bahwa” Promosi kesehatan adalah kombinasi upaya –upaya pendidikan,kebijakan(politik),peraturan,dan organisasi unyuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan Individu,Kelompok,atau Komonitas”
    Tujuan Pendidikan Kesehatan yaitu:
    Agar Melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit.
    Agar mmeiliki pengertian yg lebih aik tentang eksistensi perubahan system dan cara memanfaatkannya dengan efektif dan efisien.
    Agar mempelajari apa yang dapat dilakukannya secara mandiri.

  101. KESIMPULAN PROMOSI KESEHATAN
    TENTANG FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PEMDIDIKAN KESEHATAN

    NAMA : DESI ROHMAH
    NIM : 191141015
    MATA KULYAH : PROMKES

    Istilah yang cukup terkenal hanyalah penyuluhan kesehatan selain itu muncul istilah istilah popular lain seperti KIE (komunikasi , informasi dan edukasi) piagam tersebut mencangkup upaya promosi kesehatan mencangkup 5 butir : kebijakan berwawasan kesehatan ,lingkungan yang mendukung,reoroentasi pelyanan kesehatan, keterampialm individu,gerakan masyarakat, promoso kesehtan juga mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku terrsebut green dalam yaitu : promosi kesehatn dalam factor factor predis posisi, promosi kesehatan dalm factor factor enabling, dan promosi klesehatan dalam factor reinforcing.
    tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. secara operasional tujuan pendidikan kesehatn adalah agar melakukan langkah positif da;am melakukan prncegahan terhadap penyakit.
    factor yang mempengaruhi dari green dan kreater bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi upaya upaya pendidikan kebijakan (politik),peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan kegiatan dan dan kondisi kondisi hiidupyang menguntungkan kondisi indifidu ,kelompok atau komunitas.
    ada 3 contoh yang pertama( PREDISPOSING) yang bias menpengaruhi perubahan manusia dari perilaku yang buruk di harap kan menjadi perilaku yang baik kita harusmelihat dari pengetahuan,sikap,tingkah laku,adat istiadat /nilai dan norma dan sie,yang kedua (REINFORCING)seperti dukungan di bagi banyak bagian yaitu dukungan teman sebaya yang kedua yaitu dukungan keluarga dukungan masuarakat dll itu bias mempengaruhi sebuah kesehatan bias menyebabkan perilaku perilaku yang lebih baik, yang ke tiga dalah (ENABLING) akses pelayanan kesehatan,sarana dan prasarana,peraturan sebagai pengikat.

  102. Nama: Firda Sabrina
    Nim: 191141025
    Mata Kuliah: pendidikan kesehatan dan promkes
    Judul artikel: Faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan

    Kesimpulan yang telah saya dapat setelah membaca mengenai artikel ini. Bahwa promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya perilaku tersebut Green dalam yaitu:
    1) Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
    2) Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling
    3) Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing
    Dimana, ketiga faktor ini menentukan terbentuknya perilaku yang diharapkan dari perilaku buruk menjadi perilaku baik akan sebuah kesehatan yang berkesinambung berikutnya.
    Menurut Green dan Kreuter menyatakan bahwa “promosi kesehatan adalah kombinasi upaya- upaya pendidikan , kebijakan (politik), peraturan dan organisasi untuk mendukung kegiatan- kegiatan dan kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok ataupun komunitas”.
    Tujuan dari pendididikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Secara operasional tujuan pendidikan kesehatan adalah:
    1. Agar melakukan langkah positif dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit
    2. Agar memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahan system dan cara
    3. Agar mempelajari apa yang dilakukannya secara mandiri

  103. NAMA : ROSA YULITA
    NIM : 191141058
    Mata Kuliah : Pendidikan kesehatan dan Promkes.
    KESIMPULAN.
    Jadi kesimpulannya adalah Transtheoritical model ( *perubahan perilaku*) dalam artian kita bisa melihat bahwa sanya Transtheoritical model merupakan teori perubahan perilaku yang di dasari dengan pengambilan keputusan individu sehingga dapat di katakan bahwa yang terjadi di segaja atau di sebut dengan adanya niat untuk melakukan sebuah perubahan. TTM tau stages of change menjadi pendekatan di sebuah teori ini membentuk konstruk atau bagian-bagian terpenting maupun satu kesatuan yang di integrasi atau memiliki berkesinambungan antara kongkrit a b c dan d.
    Sedangkan dalam membangun sebuah perilaku berdasarkan TTM yaitu ada 4.
    1. Stanges of change
    2. Processes of change
    3. Decisional Balance
    4. Self – efficacy
    Dan yang paling penting adalah experience dan behavioral, sedangkan Decisional Balance adalah keputusan antara keuntungan dan kerugian di dalam mereka mengambil sebuah perilaku tersebut sedangkan Self – efficacy merupakan kesadaran mereka, kepercayaan diri mereka.
    Jadi kesimpulannya Seperti itu bapak, Terimakasih.

  104. TRANSTHEORETICAL MODEL
    Model-model perubahan perilaku (behavior change models) lainya hanya berfokus pada
    dimensi (social-atau bilogis). Transtheoretical Model mengintegrasikan dan memasukkan segala
    konsep utama dari teori lainya. Sehingga membentuk satu teori perubahan (theory of change) yang
    komprehensif dapat di aplikasikan pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi.
    Transtheoretical Model (TTM)
    Transtheoretical Model adalah model perubahan perilaku yang integrative (integrative model
    of behavior change). Model ini mendeskripsikan individu memodifikasi perilaku negative atau
    menemukan perilaku positif. Konstruk sentral / inti dari model ini adalah Stage of Change.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM
     Stages of Change
     Precontemplation (Belum berniat) Waktu 6 minggu / 6 bulan ke depan
     Contemplation (Sudah berniat melakukan) Proses 6 bulan.
     Preparation (Sudah melakukan perubahan kecil) Waktu 1 bulan
     Action (Perilaku lama di gantikan oleh perilaku baru) Waktu 6 bulan terakhir
     Maintenance (Perilaku baru menjadi terbiasa) Waktu yang lama.
     Relapse (Kekambuhan / kembali perilaku kebiasaan lama)
     Termination (Sudah bena-benar tidak kembali lagi kebiasaan lama.
     Processes of Change
     Experience :
    a. Consciousness Raising
    b. Emotional Arousal
    c. Environmental Reevaluation
    d. Social Liberation
    e. Self Reevaluation
     Behavioral
    a. Environment Control
    b. Helping Relationalships
    c. Countering Conditioning
    d. Reward
    e. Commitment
    Decisional Balance
    Pengambilan keputusan dikonseptualisasikan sebagai “Neraca” untukl mengomparasi
    keuntungan dan kerugian perubahan perilaku. Dua komponen keseimbangan putusan, pro dan
    kontra telah menjadi konstruksi kritis dalam model transtheoretical. Individu mengalami
    perubahan dengan cara yang kritis.
     Self-Efficacy
    Tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga
    perilaku mereka dalam situasi yang memicu kambuh.Kambuh sering terjadi ketika godaan
    mengalahkan perasaan, dan self-efficacy menjaga perubahan perilaku yang di inginkan.

  105. Transtheoretical model adalah suatu model yang integratif tentang perubahan perilaku. Kunci membangun dari teori lainnya yang terintegrasi. Model ini menjelaskan bagaimana orang-orang memodifikasi suatu perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif. Sehingga dapat membentuk suatu teori perubahan yang komprehensif, serta dapat diaplikasikan pada perilaku, populasi, dan situasi yang bervariasi.
    Tahapan transtheoretical :
    1. Precontemplation adalah tahap di mana orang tidak berniat untuk mengambil tindakan di masa mendatang.
    2. Contemplation adalah tahap di mana orang berniat untuk berubah dalam enam bulan ke depan. Mereka lebih sadar akan pro perubahan tetapi juga sadar akan kontra.
    3. Preparation adalah tahap di mana orang berniat untuk mengambil tindakan dalam waktu dekat.
    4. Action adalah tahap di mana orang telah membuat modifikasi terbuka khusus dalam gaya-hidup mereka dalam enam bulan terakhir. Karena tindakan yang diamati, perubahan perilaku sering telah disamakan dengan tindakan.
    5. Maintenance adalah tahap di mana orang bekerja untuk mencegah kambuh tetapi mereka tidak berlaku proses perubahan sesering yang dilakukan orang dalam tindakan.
    Didalam transtheoretical terdapat 2 proses yaitu : Experience dan behavioral
    _Experience_
    1. Consciousness Raising (Peningkatan Kesadaran) mengumpulkan suatu informasi agar suatu menjadi lebih baik.
    2. Emotional araousal awalnya menghasilkan sebuah ekspresi perasaan suatu masalah untuk mencari sebuah solusi
    3. Environmental Reevaluation (Evaluasi Lingkungan kembali) memadukan penilaian afektif dan kognitif tentang sesuatu perilaku orang lain yang menjadi panutan.
    4. Social Liberation (Pembebasan sosial) membutuhkan peningkatan kesempatan sosial atau alternatif khususnya bagi orang-orang yang relatif tertindas.
    5. Self-reevaluation (Evaluasi Diri kembali) menggabungkan penilaian kognitif dan afektif dari citra diri seseorang dengan dan tanpa kebiasaan tidak sehat tertentu, seperti citra seseorang sebagai pasif atau orang yang aktif.
    _Behavioral_
    1. Enviroment control menghilangkan isyarat untuk kebiasaan yang tidak sehat dan menambah anjuran alternatif kesehatan.
    2. Helping Relationships (Hubungan bantuan) menggabungkan kepedulian, kepercayaan, keterbukaan dan penerimaan serta dukungan untuk perubahan perilaku sehat.
    3. Counter Conditioning (Kondisi kontra) memerlukan pembelajaran perilaku sehat yang dapat menggantikan masalah perilaku.
    4. Reward menyediakan konsekuensi untuk mengambil langkah-langkah dalam arah tertentu.
    5. Self-liberation (Pembebasan Diri) adalah baik kepercayaan bahwa seseorang dapat mengubah dan komitmen dan komitmen ulangt untuk bertindak berdasarkan keyakinan itu.

  106. Jadi kesimpulan dari transtheoretical model yaitu transtheoretical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dan teori lainnya. Sehingga dapat membentuk satu teori perubahan (theory of change) yang komperhensif serta dapat diaplikasin pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi. Kenapa nama modelnya transt heoretical? Karena kita bisa melihat bahwa transtheoretical model merupakan perubahan perilaku yang didasarkan pada pengambilan keputusan individu sehingga dapat dikatakan perubahan perilaku yang disengaja atau disebut adannya sebuah niat untuk melakukan sebuah perubahan.
    Transtheoretical model (TTM) merupakan model perubahan perilaku yang integrative (integrative model of behavior change). Model ini mendeskripsikan bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif. Konstruks sentral atau inti dari model ini adalah stage of change. Jadi, pendekatan yang berkesinambungan antara konstruks A, B, C dan D.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan transteoretical model itu ada 4, yaitu :
    1. Stages of change, yaitu perubahan seseuatu yang memeiliki konstruksi didalamnya saling berkesinambungan apabila mereka didalam melakukan sebuah perilaku perubahan dari buruk menjadi baik kemudian balik lagi ke perilaku buruk, maka akan menjadi relapase.
    – Precontemplation (blum ada niat untuk belum mengambil tindakan atau perubahan).
    – Contemplation (sudah memiliki sebuah niat).
    – Preparation (tahap dimana seseorang sudah mulai melakukan perubahan kecil tatapi belum meninggalkan perilaku lama pada tahap ini sudah siap untuk memulai tindakan untuk merubah perilaku dalam waktu 1 bulan).
    – Action (tahap ini seseorang sudah melakukan perubahan perilaku dan bekerja keras untuk umpan baliknya).
    – Maintenance (ditandai dengan seseorang telah meninggalkan perilaku dan sudah sebuah kebiasaan dan dilakukan dengan waktu yang relatif lama. Dalam tahapan ini ada 2 hal yg paling penting yaitu relapase dan termination. Relapase atau kekambuhan, misalnya kembalinya perilaku seseorang pada saat lama. Termination atau optimal recovery sudah tidak benar-benar melakukan hal buruk).
    3. Processes of change, disini ada 2 bagian yaitu eksperience dan behavioral.
    – Eksperience ini meliputi
    1. Consciousness raising
    2. Emotional arousal
    3. Environmental revaluation
    4. Sosial liberation
    5. Self revaluation
    – behavior meliputi
    1. Environment control
    2. Helping relationship
    3. Countering conditioning
    4. Reward
    5. Commitment
    3. Decisional balance, sebuah pengambilan keputusan antara keuntungan dan kerugian di dalam mereka mengambil sebuah perubahan perilaku dengan dua komponen keseimbangan putusan, pro dan kontra, telah menjadi konstruksi kritis dalam model transteoretical.
    4. Self-Eficacy adalah kesadaran, kepercayaan, ketahanan mereka ini bisa menjadi penyebab terjadinya relapase. Kekambuhan sering terjadi dalam situasi ketika godaan mengalahkan perasaan, dan self-Eficacy untuk menjaga perubahan perilaku yang diinginkan.

  107. Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integratif dengan konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu, dengan model stage of Change. Dalam model ini mendeskripsikan Bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM
    1. Stage of Change : Perubahan perilaku yang memiliki konstruksi yang berkesinambungan
    • Precontemplation (tidak berniat / belum melakukan perubahan)
    • Contemplation (sudah berniat melakukan perubahan)
    • Preparation (sudah mulai tindakan kecil)
    • Action (sudah benar melakukan tindakan perubahan perilaku dari lama ke baru)
    • Maintenance (sudah meninggalkan perilaku lama dan sudah menjadi kebiasaan)
    • Relapse (kembalinya perilaku seseorang pada kebiasaan lama) / Optimal recovery (sudah tidak lagi melakukan kebiasaan lama)
    2. Processes of Change
    • Experience :
    1. Conscious raising (Mengumpulkan informasi untuk menilai lebih baik)
    2. Emotional arousal (memberikan ekspresi suatu soal akan sebuah masalah)
    3. Environmental reevalation (adanya efek perilaku seseorang dari orang lain)
    4. Social liberation
    5. Self reevalation
    • Behavioral :
    1. Environmental control
    2. Helping Relationship
    3. Countering conditioning
    4. Reward
    5. Commitment (komitmen)
    3. Decisional balance
    Pengambilan keputusan sebagai “neraca” untuk keputusan dengan mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku
    4. Self-efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu yang diinginkan dalam perubahan perilaku dan menjaga perilaku dari situasi yang sering memicu kambuhnya perilaku yang lama

  108. Nama : Cindy Anggita Putri
    NIM : 191141012
    Mata kuliah : pendidikan kesehatan dan promkes
    Transtheoretical Model
    Kesimpulan :
    Transtheoretical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya. Sehingga dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan ( theory of change ) yang komprehensif serta dapat dipublikasikan pada perilaku populasi dan situasi bervariasi.
    Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integratif ( integratif model of behavior change). Model ini mendiskripsikan bagaimana individu memotivasi perilaku negatif / menemukan perilaku positif.
    Ada beberapa inti untuk membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM :
    1. Stanges of change :
    2.Processed of change : didalamnya terdapat experience dan behavior
    3. Decisional balance : pengambilan keputusan di konseptualisasikan sebagai neraca untuk keputusan yang mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku.
    4. Self- efficacy : mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi mereka yang sering memicu kambuh. Kambuh dapat terjadi apabila ketika mengalami godaan mengalahkan perasaan.

  109. Transtheoretical Model
    Kesimpulan :
    Transtheoretical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya. Sehingga dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan ( theory of change ) yang komprehensif serta dapat dipublikasikan pada perilaku populasi dan situasi bervariasi.
    Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integratif ( integratif model of behavior change). Model ini mendiskripsikan bagaimana individu memotivasi perilaku negatif / menemukan perilaku positif.
    Ada beberapa inti untuk membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM :
    1. Stanges of change :
    2.Processed of change : didalamnya terdapat experience dan behavior
    3. Decisional balance : pengambilan keputusan di konseptualisasikan sebagai neraca untuk keputusan yang mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku.
    4. Self- efficacy : mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi mereka yang sering memicu kambuh. Kambuh dapat terjadi apabila ketika mengalami godaan mengalahkan perasaan.
    Selain itu perubahan ini ada progressnya atau prosesnya yaitu:
    1. Precontemplation : dimana seseorang belum mempunai niat.
    2. Contemplation : dimana seseorang sudah memiliki niat untuk berubah tapi tidak diwaktu dekat.
    3. Preparation : seseorang sudah mulai menjalankan niatnya tapi belum konsisten.
    4. Action : sudah menjalankan niatnya tapi belum mencapai kurun waktu lama.
    5. Maintenance : telah rutin atau konsisten dalam menjalankan niatnya.
    Setalah tahap ke 5 ini bisa saja orang mengalami kekambuhan sehingga harus memulai ulang dari tahap awal.

  110. Transtheoritical Model
    Transtheoritical Model ( TTM )
    Transtheoritical Model Merupakan model perubahan perilaku yang intregrative (integrative of behavior change). Konstruk- konstruk utama teori lain diintregasikan menjadi satu.
    Inti Membangun Perubahan Perilaku Berdasarkan TTM
    *states of change
    *proses of change
    *decisional balance
    *self-efficacy

    Processes of Chanhe
    * Experience
    1. Consciousness Raising
    2. Emotional Arousal
    3. Environmental Reevaluatiom
    4. Social Liberation
    4. Self Reevaluation
    * Behavioral
    1. Environment Control
    2. Helping Relationship
    3. Countering Conditioning
    4. Reward
    5. Commitment

  111. Kesimpulan dari materi TRANSTHEORETICAL MODEL

    Dari materi yang telah disampaikan oleh bapak,dapat saya simpulkan bahwa
    Transtheoretical model dimana model yang mengintegrasikan dan memasukan segala konsep utama dari teori lainya,sehingga dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan(theory of change) yang komprensif sehingga dapat diaplikasikan pada perilaku,populasi dan situasi yang berfariasi.
    Maka dari itu pengertian transtheoretical model(TTM) merupakan model perubahan perilaku yang integrative.Model ini mendeskripsikan sebagaimana individu memodivikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif.
    Inti membangun perilaku berdasarkan TTM:
    – Stages of change
    – Processes of change
    – Decisional balance
    – Self efficary

    Terimakasih.

  112. Transtheoretical model

    Transtheoretical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya sehingga dapat membentuk suatu teori perubahan yang komprehensif dan dapat diaplikasikan pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi.

    Stage of change :
    1.Precontemplation : orang tidak berniat atau mengambil tindakan di waktu mendatang
    2. Contemplation : Orang sudah berniat untuk merubah perilakunya
    3. Preparation : tahap di mana seseorang sudah melakukan perubahan-perubahan kecil namun belum benar-benar meninggalkan perilaku lama.
    4. Action : tahap seseorang benar-benar sudah melakukan perubahan perilaku yang mana perilaku lama sudah mulai ditinggalkan.
    5. Maintenance : tahap dimana sudah memiliki perilaku baru yang lebih baik dibanding perilaku yang lama
    *Kemudian dia kembali lagi (Relapse)
    • Experience :
    1. Conscious raising (Mengumpulkan informasi untuk menilai lebih baik)
    2. Emotional arousal (memberikan ekspresi suatu soal akan sebuah masalah)
    3. Environmental reevalation (adanya efek perilaku seseorang dari orang lain)
    4. Social liberation
    5. Self reevalation
    • Behavioral :
    1. Environmental control
    2. Helping Relationship
    3. Countering conditioning
    4. Reward
    5. Commitment (komitmen)

  113. TRANSTHEORETICAL MODEL (TTM) merupakan model perubahan perilaku integrative (integrative model of behavior change). Model ini mendeskripsikan bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menentukan perilaku positif. Konstruk sentral atau inti model adalah stages of change.
    •Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM
    1.stages of change
    -precontemplation
    -conteplation
    -preparation
    -action
    -maintenance
    2.processes of change
    3.decisional balance
    Pengambilan keputusan dikonseptualisasikan sebagai “neraca” untuk keputusan mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku. Individu mengalami perubahan dengan cara yang kritis berdasarkan tahap perubahan (stage of change) dan keseimbangan putusan.
    4.self-Efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yg diinginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi yg sering memicu kambuh.
    Individu pada tahap persiapan aksi, ada perbedaan antara self-efficacy dan godaan individu, dan perubahan perilaku tercapai. Dalam situasi ketika godaan mengalahkan perasaan, dan self-efficacy untuk menjaga perubahan perilaku yg diinginkan.

  114. Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integratif . Dalam model ini mendeskripsikan Bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif dan menemukan perilaku positif. Inti model ini adalah stage of change (perubahan perilaku yang saling kesinambungan) meliputi ;
    • Precontemplation (tahap seseorang tidak berniat, belum berfikir melakukan perubahan)
    • Contemplation (tahap sudah berniat melakukan perubahan perilaku)
    • Preparation (tahap sudah mulai ada perubahan kecil namun belum meninggalkan kebiasaan lama)
    • Action (tahap sudah benar melakukan tindakan perubahan perilaku dg meninggalkan perilaku lama & bekerja keras sebagai umpan balik)
    • Maintenance (tahap sudah meninggalkan perilaku lama dan sudah menjadi kebiasaan)
    • Replase (perilaku seseorang kembali pada kebiasaan lamanya)
    . Termination (sudah tidak ada lagi kebiasaan buruk)

    2. Processes of Change
    • Experience :
    a. Consciousness raising (Mengumpulkan informasi dan memiliki keputusan yang benar)
    b. Emotional arousal (memberikan ekspresi akan sebuah masalah yaitu kesadaran)
    c. Environmental reevalation (adanya efek perilaku terhadap orang lain dan sebagai panutan yang positif)
    d. Social liberation
    e. Self reevalation
    • Behavioral :
    a. Environmental control
    b. Helping Relationship
    c. Countering conditioning
    d. Reward
    e. Commitment (komitmen)

    3. Decisional balance
    Pengambilan keputusan untuk keputusan dengan mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku

    4. Self-efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu yang diinginkan dalam perubahan perilaku dan menjaga perilaku dari situasi yang sering memicu kambuhnya perilaku yang lama.

  115. Transtheoretical model merupakan teori perubahan perilaku yang didasarkan pada pengambilan keputusan individu sehingga dapat dikatakan perubahan perilaku yang terjadi adalah disengaja. Transtheoritical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya yang akhirnya dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan ( theory of Change ) yang komprehensif serta dapat diaplikasikan pada perilaku, populasi,dan situasi yang bervariasi. model ini mendeskripsikan Bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif. Ada Empat Inti dalam membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM yaitu stage of Change, processes of Change, decisional balance, and self-efficacy.

  116. Kesimpulan:
    The Transtheoretical Model dan Consciousness Raising mempunyai implikasi umum untuk semua aspek dari implementasi dan pengembangan intervensi. Kita akan dengan singkat menguraikan bagaimana berdampak pada di lima area : perekrutan, ingatan, kemajuan, proses, dan hasil.

    Transtheoretical Model adalah suatu model yang sesuai untuk perekrutan dari suatu keseluruhan populasi. Intervensi yang tradisional sering berasumsi bahwa individu adalah siap untuk suatu perubahan perilaku segera dan yang permanen. Strategi perekrutan cerminkan asumsi dan, sebagai hasilnya, itu hanya suatu proporsi yang sangat kecil dari populasi mengambil bagian. Di kontras, Transtheoretical Model tidak membuat apapun asumsi tentang bagaimana individu siap adalah untuk ubah. Untuk mengenali individu yang berbeda itu akan berada di langkah-langkah yang berbeda dan intervensi sesuai itu harus dikembangkan untuk semua orang. Sebagai hasilnya, daftar biaya pengiriman barang-barang keikutsertaan yang sangat tinggi telah dicapai.

    Transtheoretical Model dapat memudahkan suatu analisa dari mekanisme mediational itu. Intervensi adalah nampaknya akan secara diferensial efektif dengan membangun dan hubungan yang tergambar jelas, model dapat memudahkan suatu analisa proses dan pemandu peningkatan dan modifikasi dari intervensi itu.

    Transtheoretical Model dapat mendukung suatu penilaian yang lebih sesuai tentang hasil. Intervensi harus dievaluasi dalam hal dari dampak mereka, yaitu perekrutan menilai kemanjuran. Intervensi yang didasarkan pada Transtheoretical Model mempunyai potensi untuk mempunyai kedua-duanya adalah suatu kemanjuran yang tinggi dan suatu tingkat tarif perekrutan yang tinggi, dengan begitu secara dramatis meningkatkan potensi yang berdampak pada di keseluruhan populasi dari individu dengan resiko kesehatan yang tingkah laku.

  117. TRANSTHEORETICAL MODEL
    Model-model perubahan perilaku (behavior change models) lainya hanya berfokus pada dimensi (social-atau bilogis). Transtheoretical Model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainya. Sehingga membentuk satu teori perubahan (theory of change) yang komprehensif dapat di aplikasikan pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi. Inipun merupakan salah satu alasan mengapa nama modelnya adalah transt heoritical.
    Transtheorical model (TTM)
    Transtheoretical Model adalah model perubahan perilaku yang integrative (integrative model of behavior change). Konstruk konstruk utama teori lain di integrasikan menjadi satu.Model ini mendeskripsikan individu memodifikasi perilaku negative atau menemukan perilaku positif. Konstruk sentral / inti dari model ini adalah Stage of Change.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM
    1. Stages of Change
    a. Precontemplation (Belum berniat)
    b. Contemplation (Sudah berniat melakukan)
    C. Preparation (Sudah melakukan perubahan kecil)
    d. Action (Perilaku lama di gantikan oleh perilaku baru)
    e. Maintenance (Perilaku baru menjadi terbiasa) Waktu yang lama.
    f. Relapse (Kekambuhan / kembali perilaku kebiasaan lama)
    g. Termination (Sudah bena-benar tidak kembali lagi kebiasaan lama.
    2. Processes of Change
    Experience :
    a. Consciousness Raising
    b. Emotional Arousal
    c. Environmental Reevaluation d. Social Liberation
    e. Self Reevaluation
    Behavioral :
    a. Environment Control
    b. Helping Relationalships c. Countering Conditioning d. Reward
    e. Commitment

    3. Decisional Balance
    adalah Pengambilan keputusan dikonseptualisasikan sebagai “Neraca” untukl mengomparasi
    keuntungan dan kerugian perubahan perilaku. Dua komponen keseimbangan putusan, pro dan kontra telah menjadi konstruksi kritis dalam model transtheoretical. Individu mengalami perubahan dengan cara yang kritis berdasarkan tahap perubahan (Dyah e of change) dan keseimbangan putusan
    4. Self-Efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga
    perilaku mereka dalam situasi yang memicu kambuh. Hal ini juga di ukur dengan kemungkinan individu merasa tergoda untuk kembali ke perilaku bermasalah mereka dalam situasi beresiko tinggi. Individu dalam tahap persiapan aksi, ada perbedaan antara self efficacy dan godaan individu, dan perubahan perilaku tercapai.Kambuh sering terjadi dalam situasi ketika godaan mengalahkan perasaan, dan self-efficacy menjaga perubahan perilaku yang di inginkan.

  118. Kesimpulan :
    Transtheoretical model adalah suatu model yang integratif tentang perubahan perilaku. Kunci membangun dari teori lainnya yang terintegrasi. Model ini menjelaskan bagaimana orang-orang memodifikasi suatu perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif. Sehingga dapat membentuk suatu teori perubahan yang komprehensif, serta dapat diaplikasikan pada perilaku, populasi, dan situasi yang bervariasi.
    Tahapan transtheoretical :
    1. Precontemplation adalah tahap di mana orang tidak berniat untuk mengambil tindakan di masa mendatang.
    2. Contemplation adalah tahap di mana orang berniat untuk berubah dalam enam bulan ke depan. Mereka lebih sadar akan pro perubahan tetapi juga sadar akan kontra.
    3. Preparation adalah tahap di mana orang berniat untuk mengambil tindakan dalam waktu dekat.
    4. Action adalah tahap di mana orang telah membuat modifikasi terbuka khusus dalam gaya-hidup mereka dalam enam bulan terakhir. Karena tindakan yang diamati, perubahan perilaku sering telah disamakan dengan tindakan.
    5. Maintenance adalah tahap di mana orang bekerja untuk mencegah kambuh tetapi mereka tidak berlaku proses perubahan sesering yang dilakukan orang dalam tindakan.
    Didalam transtheoretical terdapat 2 proses yaitu : Experience dan behavioral
    _Experience_
    1. Consciousness Raising (Peningkatan Kesadaran) mengumpulkan suatu informasi agar suatu menjadi lebih baik.
    2. Emotional araousal awalnya menghasilkan sebuah ekspresi perasaan suatu masalah untuk mencari sebuah solusi
    3. Environmental Reevaluation (Evaluasi Lingkungan kembali) memadukan penilaian afektif dan kognitif tentang sesuatu perilaku orang lain yang menjadi panutan.
    4. Social Liberation (Pembebasan sosial) membutuhkan peningkatan kesempatan sosial atau alternatif khususnya bagi orang-orang yang relatif tertindas.
    5. Self-reevaluation (Evaluasi Diri kembali) menggabungkan penilaian kognitif dan afektif dari citra diri seseorang dengan dan tanpa kebiasaan tidak sehat tertentu, seperti citra seseorang sebagai pasif atau orang yang aktif.
    _Behavioral_
    1. Enviroment control menghilangkan isyarat untuk kebiasaan yang tidak sehat dan menambah anjuran alternatif kesehatan.
    2. Helping Relationships (Hubungan bantuan) menggabungkan kepedulian, kepercayaan, keterbukaan dan penerimaan serta dukungan untuk perubahan perilaku sehat.
    3. Counter Conditioning (Kondisi kontra) memerlukan pembelajaran perilaku sehat yang dapat menggantikan masalah perilaku.
    4. Reward menyediakan konsekuensi untuk mengambil langkah-langkah dalam arah tertentu.
    5. Self-liberation (Pembebasan Diri) adalah baik kepercayaan bahwa seseorang dapat mengubah dan komitmen dan komitmen ulangt untuk bertindak berdasarkan keyakinan itu.

  119. TRANSTHEORETICAL MODEL
    Model-model perubahan perilaku (behavior change models) lainnya hanya berfokus pada dimensi-dimensi (hanya sosial atau biologis) tertentu dari perubahan, Transtheoritical Model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya.
    Transtheoritical Model merupakan model perubahan perilaku yang integrative (integrative model of behavior change). Konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu. Model ini mendeskripsikan bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah Stages of ChangeInti
    Inti Membangun Berubahan Perilaku Berdasarkan TTM
    – Stages of Change
    – Processes of Change
    – Decisional Balance
    – Self-Efficacy

  120. TRANSTHEORITICAL MODEL
    Transtheoritical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya. Sehingga akhirnya dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan (theory of change) yang komprehensif serta dapat di aplikasikan pada perilaku, populasi, dan situasi yang bervariasi.
    Inti membangun perubahan perilaku beradasarkan Transtheoritical model:
    – Stages of change
    – Processes of change
    – Decisional balace: pengambilan keputusan di konseptualisasikan sebagai “neraca” untuk keputusan dengan mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku.
    – Self-Efficacy: mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang di inginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi yang sering memicu kambuh.

  121. Nama : Revinda Navy Febrianita
    Nim : 191141050
    Mata kuliah : TRANSTHEORITICAL MODEL
    Transtheoritical Model mengintegrasikan dan memasukan segala konsep utama dan teorilainnya. Sehingga dapat membentuk teori perubahan yang komprehensif dan dapat di aplikasikan pada perilaku,populasi, dam situasi yang bervariasi. Model ini mendeskripsikan bagaimana individu memodifikasi perilaku negative atau menemukan perilak positif. Kontruk central atau inti dari model ini adalah Stages Of Change.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan Transtheoritical Model ada 4 yaitu :
    Stage Of Change
    Precontemplation adalah tahap dimana orang belum mengambil tindakan di waktu mendatang
    Contemplation adalah tahap orang sudah berniat untuk melakukan perubahan
    Preparation adalah tahap seseorang sudah melakukan perubahan kecil namun belum meninggalkan perilaku lama
    Action adalah tahap ini sudah benar benar merubah perilaku. Dan melupakan perilaku lama
    Maintenance adalah seseorang sudah meninggalkan perilaku lama dan menjadi sebuah kebiasaan.
    Relapse adalah perubahan perilaku seseorang pada kebiasaan lama.
    Processes Of Change
    Experience:
    Behavior
    Descisional balance
    Dua komponen keseimbangan putusan,pro dan kontra, telah menjadi kontruksi kritis dalam model Transtheoritical .
    Self- Efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang di inginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi yang sering memicu kambuh. Individu pada tahap persiapan aksi,ada perbedaan antara Self-efficacy dan godaan individu, dan perubahan perilaku tercapai.

  122. Transtheorerical Model

    Transtheoretical model dimana model yang mengintegrasikan dan memasukan segala konsep utama dari teori lainya,sehingga dapat membentuk suatu atau satu teori perubahan yang komprensif sehingga dapat diaplikasikan pada perilaku,populasi dan situasi yang berfariasi.

    model(TTM) merupakan model perubahan perilaku yang integrative.Model ini mendeskripsikan sebagaimana individu memodivikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif.
    Inti membangun perilaku berdasarkan TTM:
    – Stages of change
    – Processes of change
    – Decisional balance
    – Self efficary

  123. Transtheoritical model adalah teori perubahan perilaku yang didasarkan pada pengambilan keputusan individu sehingga dapat dikatakan perubahan perilaku yang terjadi adalah sengaja.
    Transtheoretical Model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainya. Sehingga membentuk satu teori perubahan (theory of change) yang komprehensif dapat di aplikasikan pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi. Inipun merupakan salah satu alasan mengapa nama modelnya adalah transt heoritical.
    Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integratif (integratif model of behavior change). Model ini mendiskripsikan bagaimana individu memotivasi perilaku negatif / menemukan perilaku positif.
    Inti dalam membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM yaitu :
    – stage of Change
    – processes of Change
    – decisional balance
    – self-efficacy.

  124. Kesimpulan dari
    TRANSTHEORETICAL MODEL
    Model-model perubahan perilaku (behavior change models) lainnya hanya berfokus pada dimensi-dimensi (hanya sosial atau biologis) tertentu dari perubahan, Transtheoritical Model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya.
    Transtheorical model (TTM)
    Transtheoretical Model adalah model perubahan perilaku yang integrative (integrative model of behavior change).
    Konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu. Model ini mendeskripsikan bagaimana individu memodifikasi perilaku negatif atau menemukan perilaku positif. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah Stages of ChangeInti
    Inti Membangun Berubahan Perilaku Berdasarkan TTM yaitu :
    1.Stages of Change
    2.Processes of Change
    3. Decisional Balance
    4.Self-Efficacy

  125. Transtheoretical model adalah perubahan teori perilaku yang di dasari pada pengambilan keputusan individu. Jadi perubahan perilaku yang terjadi disengaja.
    Pendekatan didalam sebuah transtheoretical model itu adalah konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu saling berkesinambungan. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah stages of change. Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan transtheoretical model:
    1. Stage of change
    2. Processes of change
    3. Decisional balance
    4. Self efficacy
    -stages of change : sebuah perubahan perilaku yang memiliki konstruksi didalamnya saling berkesinambungan apabila mereka melakukan perilaku perubahan dari yang buruk menjadi baik kemudian balik lagi ke perilaku buruk maka mereka akan relapse
    -processes of change :
    •experience = 1. Consciousness raising
    2. Emotional arousal
    3. Environment reevaluation
    4. Social liberation
    5. Self reevaluation
    •behavioral = 1. Environment control
    2. Helping relationships
    3. Countering conditioning
    4. Reward
    5. Commitment
    -decisional balance : sebuah pengambilan keputusan antara keuntungan dan kerugian di dalam mengambil sebuah perubahan perilaku.
    -self efficacy : kesadaran, kepercayaan diri mereka jika terjadi kekambuhan tersebut, Apakah kembali atau tidak.

  126. Transtheoretical model adalah perubahan teori perilaku yang di dasari pada pengambilan keputusan individu. Jadi perubahan perilaku yang terjadi disengaja.
    Pendekatan didalam sebuah transtheoretical model itu adalah konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu saling berkesinambungan. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah stages of change.
    perilaku berdasarkan TTM :
    1. Stanges of change :
    2.Processed of change : didalamnya terdapat experience dan behavior
    3. Decisional balance : pengambilan keputusan di konseptualisasikan sebagai neraca untuk keputusan yang mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku.
    4. Self- efficacy : mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi mereka yang sering memicu kambuh. Kambuh dapat terjadi apabila ketika mengalami godaan mengalahkan perasaan.

  127. Transtheoretical model adalah perubahan teori perilaku yang di dasari pada pengambilan keputusan individu. Jadi perubahan perilaku yang terjadi disengaja.
    Pendekatan didalam sebuah transtheoretical model itu adalah konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu saling berkesinambungan. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah stages of change.
    perilaku berdasarkan TTM :
    1. Stanges of change :
    2.Processed of change : didalamnya terdapat experience dan behavior
    3. Decisional balance : pengambilan keputusan di konseptualisasikan sebagai neraca untuk keputusan yang mengkomparasi antara keuntungan dan kerugian perubahan perilaku.
    4. Self- efficacy : mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga perilaku mereka dalam situasi mereka yang sering memicu kambuh. Kambuh dapat terjadi apabila ketika mengalami godaan mengalahkan perasaa

  128. TRANSTHEORETICAL MODEL
    Model-model perubahan perilaku (behavior change model) lainnya hanya berfokus pada dimensi-dimensi (hanya sosial atau biologis) tertentu dari perubahan, Transtheoretical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya.
    Transtheoretical model TTV
    Transtheoretical model merupakan model perubahan perilaku yang integrative (integrative model of behavior change), konstruk-konstruk utama teori lain diintegrasikan menjadi satu. Konstruk sentral atau inti dari model ini adalah stages of change.
    Inti membangun perubahan perilaku berdasarkan TTM :
    1. Stages of change
    * Precontemplation
    * Contemplation
    * Preparation
    * Action
    * Maintenance
    2. Processes of change
    * Experience
    * Behavioral
    3. Decisional Balance
    Pengambilan keputusan dikonseptualisasikan sebagai “neraca” untuk keputusan dan kerugian perubahan perilaku individu mengalami perubahan dengan cara yang kritis berdasarkan tahap perubahan dan keseimbangan putusan.
    4. Self-efficacy
    Mencerminkan tingkat kepercayaan individu memiliki perubahan yang diinginkan dalam menjaga perilaku dalam situasi yang memicu kemampuan

  129. Viqi

    KESIMPULAN
    Transtheoritical model yaitu perubahan perilaku yang berfokus pada dimensi” pada soasial atau biologis tertentu dari perubahan dan Transtheoritical model mengintegrasikan dan memasukkan segala konsep utama dari teori lainnya, sehingga akhirnya dapat membentuk suatu perubahan yang komprehensif serta dapat di aplikasikan pada perilaku, populasi dan situasi yang bervariasi dan inipun merupakan salah satu alasan mengapa nama modelnya adalah Transtheoritical.
    Inti membangun sebuah perilaku berdasarkan TTM ada 4 yaitu
    1. Stages of change
    2. Processes of change
    3. Decisional balance
    4. Self – efficacy.
    Dan yang paling penting experien dan behavior.
    Terimakasih pak

  130. Vct adalah suatu proses konseling terhadap seseorang sehingga dapat memberikan informasi dan akhirnya orang tersebut dapat mengambil keputusan untuk melakukan tes HIV atau tidak tanpa adanya paksaan dari orang sekitar atau pihak lain dan merupakan keinginannya sendiri. Dan hasil tes sepenuhnya di rahasiakan dari pihak lain.

    Prinsip layanan vct ini sukarela dalam melakukan vct tanpa ada paksaan,Saling mempercayai (px dengan konselor), terjaminnya kinfidensialitas, mempertahankan relasi konselor klien yang efektif, testing( mengetahui dtatus hiv)

    Tahapan vct
    1.konseling pra testing ( mulai dari tahapan pendekatan, menjalin hubungan, mengindentifikasi, memberikan informasi, membuat perencanaan, membuat keputusan)
    2. Testing hiv
    (hasil jika non reaktif,yang harus di lakukan konselor memberikan info pd klien agar tidak berperilaku buru. Jika hasilnya reaktif maka konselor memberikan info apa sih yang di lakukan kedepannya seperti pemberian obat, treatment dll. )
    3. Konseling pasca-testing
    (tetap melakukan prndekatan menerima klien menhakin hubungan yang semakin erat dan sling percaya, perencanaan kegiatan kedepan, membacakan dan mengintegritas hasil dari tes, memberikan informasi, merahasiakan semua hasil tes dan konselor (konfidensial) )
    4. Pelayanan dukungan berkelanutan
    (ditujukan pada px yang positif klien dimana emosional pasti akan down, disini menbeikan dukungan berkelanjutan dan konselor berkelanjutan pd px yang positif)

    Model pelayanan vct
    1. Mobile vct (pengjangkauan dan keliling) seorang tenaga kesehatan berkeliling di lokasi dan melakukan vct apa ada yang reaktif dan aktif
    2. Statis vct( klinik vct tetap)
    Merupakan rencana kedepan yang tatanannya tetap dan dilakukan biasa di klinik puskesmas dll

  131. Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan suatu proses konseling pada individu sehingga individu mendapatkan informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak. Dan tes dilakukan atas dasar keinginan individu dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan VCT
    1. Tujuan umum VCT
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular dan menyebarkaninfeksi.
    2. Tujuan khusus
    a. meningkatkan jumlah ODHA untuk mengetahui status HIV pada dirinya
    b. meningkatkan proses layanan kesehatan dan mencegah infeksi lain pada ODHA
    c. meningkatkan kepatuhan minum ARV
    d. meningkatkan perilaku hidup sehat dan mengurangi faktor risiko penularan HIV dan IMS

    Peranan VCT
    1. Memberikan pelayanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama individu merupakan orang yang berisiko. Meliputi layanan dukungan, konseling, akses terapi suportif, terapi oportunistik, dan pemberian ARV
    2. Peran yang utama sebagai pemberi pertolongan bagi mereka yang telah mengidap HIV/AIDS, keluarga atau individu yang mencari pertolongan, serta individu yang berisiko tinggi HIV/AIDS

    Prinsip VCT
    1. Sukarela
    2. Saling mempercayai dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan hubungan konselor-klien yg efektif
    4. Testing

    Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Konseling pasca testing
    3. Pelayanan dukungan berkelanjutan

    Model VCT
    1. Mobile Voluntary Counseling and Testing (Penjangkauan dan keliling)
    2. Statis Voluntary Counseling and Testing (Klinik VCT tetap)

  132. Voluntary Counseling Testing
    ~Konseling adalah suatu proses yang terjadi antara individu yang memiliki masalah yang tidak dapat diatasi dengan petugas konselor. Petugas konseor yaitu seorang petugas yang memperoleh pengalaman yang profesional yang didapatkan dari pelatihan tertentu. Tugasya yaitu melakukan pendekatan kepada klien yang mengalami kesulitan.
    ~Menurut Gibson, Mitchell, dan basile ada 9 tujuan konseling:
    1. Perkembangan (melihat sisi perkembangan yang terjadi pasa pasien)
    2. Pencegahan (diupayakan mereka yang melakukan konseling di tenaga kesehatan atau konselor bisa mengetahui apa yang atau tidak boleh dilakukan terhadap perilaku yang bersiko)
    3. Perbaikan (sama halnya melakukan pencegahan, yaitu untuk merubah sebuat perilaku yang dimana perilaku tersebut beresiko menjadi tidak beresiko)
    4. Penyelidikan
    5. Penguatan
    6. Kognitif
    7. Psikologis
    ~Untuk mengetahui status kesehatan pada seseorang yang melakukan perilaku beresiko, kita langsung menuju ke sebuat ruangan untuk melakukan VCT (Voluntary Counseling and testing)
    ~Tujuan VCT
    Tujuan umum: memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    Tujuan khusus: 1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    ~Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    ~Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    ~Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    ~Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  133. ~ Kesimpulan
    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  134. #Kesimpulan

    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut: Pencegahan HIV, Pintu masuk menuju terapi dan perawatan.VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehatan masyt,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yg direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  135. Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang individu dengan individu lainnya yang memiliki masalah dan tidak dapat mengatasinya. Konseling dilakukan oleh seseorang yang telah profesional yang pastinya telah mempunyai bekal serta pengalaman dalam menghadapi suatu permasalahan. Dengan begitu, konselor dapat membantu memecahkan permasalahan yang sedang dialami pasien.
    Menurut ahli, ada 9 tujuan dr konseling tsb:
    1. Tujuan perkembangan
    Dlm tujuan ini dipantau perkembangan² apa saja yang muncul pd pasien setelah melakukan konseling
    2. Tujuan pencegahan
    Dg adanya kegiatan konseling tsb diharapkan pasien mampu melakukan pencegahan hal hal yg seharusnya tidak boleh dilakukan karena tentunya akan merugikan.
    3. Tujuan perbaikan
    Setelah melakukan konseling tentunya mendapatkan solusi dan kemudian dapat mencapai tahap perbaikan
    4. Tujuan penyelidikan
    Dengan konseling pasien dalam melakukan penyelidikan yang dibantu dengan konselor sebenrnya hal apa sih yang melatarbelakangi terjadi nya suatu masalah yang sedang dialami si pasien.
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis

    Voluntary Counseling and testing (VCT)
    Suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tsb mendapat informasi dn dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak. Yang jika hasilnya keluar pun sepenuhnya akan menjadi rahasia pribadi. Dan akan dirhaasiakan oleh pihak konselor. Jadi disini lebih ke terjaga lah keamanan informasinya. Harus ada rasa kepercayaan antara konselor dengan pasien.

    Adapun Tujuan VCT:
    1. Meningkatkan ODHA dalam perilaku hidup yang sehat dan mengurangi faktor resiko penularan HiV
    2. Meningkatkan kepatuhan untuk minum obat antiretroviral
    3. Meningkatkan proses pelayanan dan mencegah terjadinya infeksi lain pada ODHA

    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

  136. Konseling yaitu hubungan yang terjadi antara individu yang mengalami masalah dengan seseorang yg profesional yg telah memperoleh pelatihan untuk membantu klien memecahkan masalah, sedangkan VCT sendiri yaitu konseling terhadap individu yg merasa beresiko untuk memperoleh informasi dan memutuskan untuk tes HIV, dan ini merupakan keinginan individu sendiri tanpa paksaan dan hasil tes bersifat dirahasiakan.

    Tujuan VCT yaitu untuk memberikan informasi kepada klien terkait status kesehatannya dengan pendekatan promkes untuk merubah perilaku dan mengurangi resiko tertular serta menyebarkan infeksi. Tujuan khususnya meningkatkan jumlah odha mengetahui status hiv, meningkatkan proses layanan kesehatan dan mengurangi infeksi lain pada odha, meningkatkan kepatuhan minum obat antiretrovial dan meningkatkan odha dalam berperilaku hidup sehat.
    Peranan vct untuk memberikan layanan kepada penderita hiv positif atau negatif termasuk layanan dukungan dan pemberian obat.

    Prinsip VCT adalah sukarela dalam melakasanakan vct, ikatan emosional (BHSP), mempertahankan relasi antara konselor klien yg efektif dan testing untuk mengetahui status HIV.

    Tahapan VCT :
    1. Konseling pra testing (persiapan klien, memberikan pengetahuan thd klien tentang HIV/AIDS)
    2. testing (non reaktif / reaktif / intermediate)
    jika hasil reaktif dapat memberikan dukungan, pengobatan, dan menjelasakan hasil pada klien
    Jika hasil non reaktif dan intermediate dapat diberikan penjelasan tentang hasil tes dan perubahan perilaku
    3. Konseling pasca testing (menjelaskan hasil tes dan menilai emosional klien)
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk status px HIV positif memberikan dukungan emosional , alternatif pengobatan dan penanganan manajemen kasus)

    Model pelayanan VCT
    1. Mobile vct (melakukan layanan dan konseling vct dengan berkeliling misal: konselor keliling di lokalisasi dan melakukan tes pengecekan vct disana)
    2. Statis vct (layanan konseling yang bertetap misalnya : puskesmas, rumah sakit dan klinik)

  137. Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah
    suatu proses konseling terhadap suatu individu
    sehingga individu tersebut memperoleh
    informasi dan dapat memutuskan untuk
    melakukan tes HIV atau tidak, dimana
    keputusan yang diambil oleh individu tersebut
    merupakan keinginan dari dalam dirinya
    sendiri tanpa paksaan dan hasil tes
    sepenuhnya dirahasiakan dari pihak lain. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    fungsi VCT sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang .

  138. Voluntary Conseling and Testing

    Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan antara seseorang dengan seseorang yakni individu yang mengalami masalah yang tidak dapat diatasi hanya petugas kesehatan yang profesional dan sudah melakukan pelatihan yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut.

    Menurut Gibson dan Mitchel dan Basite ada 9 tujuan konseling
    1. Tujuan perkembangan : melihat perkembangan pada pasien tersebut.
    2. Tujuan pecegahan : diutamakan agar mereka konseling di petugas kesehatan apa yang harus mereka lakukan dan tidak.
    3. Tujuan perbaikan : Untuk melakukan perbaikan dari resiko menjadi tidak beresiko.
    4. Tujuan penyelidikan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan psikologis
    8. Tujuan fisiologis

    VCT adalah suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tersebut memperoleh informasi supaya dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak dimana keputusan yang diambil adalah keinginan sendiri dan hasil tes sangat dirahasiakan.

    Tujuan VCT
    Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan melakukan promosi kesehatan dalam perubahan perilaku mengurangi resiko tertular dana penyebaran infeksi.
    Tujuan khusus
    1. Meningkatan jumlah ODHA mengetahui status HIV/ Aids pada pirinya dan ssgera di diagnosa selanjutnya.
    2. Meningkatkan layanan kesehatan dan mencehah infeksi lain pada ODHA.
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat agar tidak terjadi resistensi atau efektivitas obat.
    4. Meningkatkan perilaku sehat dan mengurangu faktor resiko IMS

    Peranan VCT
    Layanan Coluntary Conseling and Testing
    Dilakukan berdasarakan kebutuhan dengan meemberikan layanan HIV /Aids positif maupun negatif selama individu ada resiko serta layanan dukungan, konseling, pemberian pengobatan
    VCT bersifat sukarela namun memiliki fungsi utama yakni memberikan pertolongan pada mereka yang terkena HIV/Aids, keluarga atau individu yang lelah akan status resiko oada dirinya.

    Prinsip VCT
    1. Sukarela dalam melaksanakan Voluntary Conseling and Testing
    2. Saking mempercayai dan tetrjamin konfidenlitas.
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor efektif
    4. Testing: meruapakan bagian terpenting untuk status HIV pada pasien kita

    Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    Menerima pasien
    Memabngun kepercayaan
    Eksplorasi
    Identifikasi
    Memberikan informasi
    Membuat perencanaan
    Membuat keputusan
    2. Testing HIV
    a. Reaktif: memberikan informasi kedeoan terapi selanjutnya, dukungan selanjutnya untuk tes positif.
    b.non reaktif: memberikan informasi perilaku baik.
    c. Intermediate : bagian terpenting atau penetua dalam HIV / Aids
    3. Koseling pasca testing
    Menerima pasien
    Mengembangkan hubungan
    Mengembangkan tindakan
    Membaca hasil tes
    Integraai hasil tes
    Memberikan informasi
    Konfidenlitas
    4. Pelayanan dukungan
    Pelayanan ini diberikan setelah lanjutan apabila pasien positif
    a. Konseling lanjutan: menekan terhadap dukungan emosiy karena pasien mudah down)
    b. Kelompok dukungan Voluntary Conseling and Testing : ketika mereka positif mereka memberikan alternatif hungan vct
    c. Layanan penanganan managemen kasus

    Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling): petugas kesehatan loyalitas dan melakukan pengecekan
    2. Statis VCT (klinik VCT)
    Kedepan memberika alternatif kedeoan seperti di puskesmas rumah sakit atau pelayanan kesehatan lain.

  139. Voluntary Counselling and Testing

    Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah
    suatu proses konseling terhadap suatu individu
    sehingga individu tersebut memperoleh
    informasi dan dapat memutuskan untuk
    melakukan tes HIV atau tidak, dimana
    keputusan yang diambil oleh individu tersebut
    merupakan keinginan dari dalam dirinya
    sendiri tanpa paksaan dan hasil tes
    sepenuhnya dirahasiakan dari pihak lain
    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi Penyakit Kronis.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  140. Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang petugas profesional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya.

    Menurut Gibson,Mitchel dan Basile ada sembilan tujuan dari konseling

    1. Tujuan perkembangan
    2. Tujuan pencegahan
    3. Tujuan perbaikan
    4. Tujuan penyelidikan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis

    Voluntary counseling and testing (VCT) adalah suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tersebut memperoleh informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak, di mana keputusan yang di ambil oleh individu tersebut merupakan keinginan dari dalam dirinya sendiri tanpa paksaan badan hasil tes sepenuhnya dirahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan dari voluntary counseling and testing

    Tujuan umur : memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan melakukan sebuah promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular infeksi dan menyebar kan infeksi.

    Tujuan khusus :
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya dan dapat dengan segera mengetahui diagnosis.

    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan dan mencegah terjadinya infeksi lain pada ODHA.

    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral, memberikan rasa tanggung jawab kepada ODHA sehingga tidak adanya resistensi dan efektivitas obat

    4. Meningkatkan ODHA dalam perilaku hidup sehat dan mengurangi faktor penularan HIV dan IMS

    Peran voluntary counseling and testing
    1. Layanan voluntary counseling and testing dilakukan berdasarkan berbuah kebutuhan dengan memberikan layanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama individu mengalami perilaku beresiko termasuk layanan dukungan konseling,akses terapi suportif, terapi oportunistik dan pemberian bobat antiretroviral

    2. Meskipun voluntary counseling and testing bersifat sukarela namun memiliki peran yang utama sebagai bagian memberikan pertolongan vbagi mereka yang telah mengidap infeksi HIV atau Aids dan keluarga atau individu yang mencari pertolongan yanng merasa lelah akan status nya.

    Adapun prinsip dari voluntary counseling and testing :
    1. Sukarela dalam melaksanakan voluntary counseling and testing
    2. Saling mempercayai dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselator klien yang efektif
    4. Testing

    Tahapan dari Voluntary counseling and testing :
    1. Konseling pra testing
    -menerima klien
    -membangun rapport atau menjalin hubungan ekplorasi
    -identifikasi
    -memberikan informasi
    -membuat perencanaan
    -membuat keputusan

    2. Konseling pasca-testing
    – menerima klien
    – mengembangkan hubungan
    – perencanaan kegiatan
    – membacakan hasil tes
    – integritas tes
    – memberikan informasi
    – konfidensialitas

    3. Pelayanan dukungan berkelanjutan
    – konseling lanjutan
    – kelompok dukungan VCT
    – pelayanan penanganan manajemen kasus

  141. Vct adalah suatu proses konseling terhadap seseorang sehingga dapat memberikan informasi dan akhirnya orang tersebut dapat mengambil keputusan untuk melakukan tes HIV atau tidak tanpa adanya paksaan dari orang sekitar atau pihak lain dan merupakan keinginannya sendiri. Dan hasil tes sepenuhnya di rahasiakan dari pihak lain.

    Tahapan vct
    1.konseling pra testing ( mulai dari tahapan pendekatan, menjalin hubungan, mengindentifikasi, memberikan informasi, membuat perencanaan, membuat keputusan)
    2. Testing hiv
    (hasil jika non reaktif,yang harus di lakukan konselor memberikan info pd klien agar tidak berperilaku buru. Jika hasilnya reaktif maka konselor memberikan info apa sih yang di lakukan kedepannya seperti pemberian obat, treatment dll. )
    3. Konseling pasca-testing
    (tetap melakukan prndekatan menerima klien menhakin hubungan yang semakin erat dan sling percaya, perencanaan kegiatan kedepan, membacakan dan mengintegritas hasil dari tes, memberikan informasi, merahasiakan semua hasil tes dan konselor (konfidensial) )
    4. Pelayanan dukungan berkelanutan
    (ditujukan pada px yang positif klien dimana emosional pasti akan down, disini menbeikan dukungan berkelanjutan dan konselor berkelanjutan pd px yang positif)

    Model pelayanan vct
    1. Mobile vct (pengjangkauan dan keliling) seorang tenaga kesehatan berkeliling di lokasi dan melakukan vct apa ada yang reaktif dan aktif
    2. Statis vct( klinik vct tetap)
    Merupakan rencana kedepan yang tatanannya tetap dan dilakukan biasa di klinik puskesmas dll

  142. Voluntary Counseling Testing

    Konseling -> suatu proses yg terjadi antara individu dengan individu dimana individu tersebut mengalami yg tidak dapat diatasinya.
    Petugas profesional yg telah memperoleh pengalaman dapat membantu individu tersebut untuk menyelesaikan kesulitannya.

    Voluntary Counseling and Testing (VCT)
    Merupakan suatu proses konseling pada individu sehingga individu mendapat informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak. Dan tes dilakukan atas dasar keinginan individu sepenuhnya dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan VCT
    Tujuan umum VCT
    -> memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular dan menyebarkaninfeksi.
    Tujuan khusus
    -> meningkatkan jumlah ODHA untuk mengetahui status HIV pada dirinya
    -> meningkatkan proses layanan kesehatan dan mencegah infeksi lain pada ODHA
    -> meningkatkan kepatuhan minum ARV
    -> meningkatkan perilaku hidup sehat dan mengurangi faktor risiko penularan HIV dan IMS

    Peranan VCT
    1. Memberikan pelayanan kepada penderita HIV baik + ataupun – selama individu merupakan orang yang berisiko. Pelayanannya meliputi layanan dukungan, konseling, akses terapi suportif, terapi oportunistik, dan pemberian ARV
    2. Peran yang utama sebagai pemberi pertolongan bagi mereka yang telah mengidap HIV/AIDS, keluarga atau individu yang mencari pertolongan yang lelah akan statusnya serta individu yang berisiko tinggi HIV/AIDS

    Prinsip VCT
    1. Sukarela
    2. Saling mempercayai dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan hubungan konselor-klien yg efektif
    4. Testing

    Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Konseling pasca testing
    3. Pelayanan dukungan berkelanjutan

    Model VCT
    1. Penjangkauan dan keliling
    2. Klinik VCT tetap

  143. Kesimpulan
    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  144. Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan suatu upaya dini yang dilakukan untuk mengetahui status HIV seseorang. Pendeteksian secara dini tersebut akan memberikan banyak manfaat yang antara lain mendapat kesempatan bagi penderita yang terinfeksi HIV untuk melindungi diri dan pasangannya, bahkan bisa melibatkan dirinya dalam upaya penanggulangan HIV/ AIDS. Pelaksanaan program VCT tersebut juga dapat memberikan beberapa manfaat yaitu antara lain perencanaan dan promosi perubahan perilaku, pelayanan pencegahan infeksi HIV dari ibu ke bayi, memfasilitasi akses pelayanan sosial, memfasilitasi pelayanan medis, memfasilitasi kegiatan sebaya dan dukungan, normalisasi HIV/ AIDS dan mengurangi stigma, perencanaan dan perawatan untuk masa depan, serta menerima keadaan terinfeksi HIV dan penyelesaiannya.
    Memiliki Peranan :
    – Layanan Voluntary Counseling and Testing dilakukan berdasarkan sebuah kebutuhan dengan memberikan layanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama individu mengalami perilaku berisiko, termaksuk layanan dukungan, konseling, akses terapi suportif, terapi oportunistik dan pemberian obat antiretroviral
    – Meskipun Voluntary Counseling and Testing bersifat sukarela namun memiliki peran yang utama sebagai bagian memberikan pertolongan bagi mereka tang telah mengidap infeksi HIV/AIDS dan keluarga atau individu yanga mencari pertolongan yang merasa lelah akan statusnya serta individu yang tidak mencari pertolongan namun berisiko tinggi HIV/AIDS.
    Tahapan:
    – Konseling Pra-testing
    – Testing HIV
    – Konseling Pasca-testing
    – Pelayanan Dukungan Berkelanjutan
    Model pelayanan:
    – Mobile Voluntary Counseling and Testing (Penjangkauan dan Keliling)
    – Statis Voluntary Counseling and Testing (Klinik VCT tetap)

    • voluntary counseling testing (vct) adalah suatu proses yg terjadi dlm hubungan seseorang dgn seseorang individu yg mengalami masalah yg tdk dapat diatasi
      menurut gibson tujuan conseling :
      – tujuan perkembangan
      – tujuan perencanaan
      – tujuan perbaikan
      – tujuan penyelidikan
      – tujuan penguatan
      – tujuan kognitif
      – tujuan fisiologis
      – tujuan psikologis
      VCT : suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tsb memperoleh informasi dan dpt memutuskan utk melakukan tes hiv
      tujuan vct :
      – memberikan pelayanan kesehatan dgn pendekatan melakukan sebuah promkes dlm perubahan perilaku yg mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebarkan infeksi
      tujuan khusus vct
      – meningkatkan jumlah odha mengetahui pd dirinya dan dapat dgn secara mengetahui diagnosa
      – meningkatkan proses layanan kesehatan dgn mencegah terjadinya infeksi lain pd odha
      – meningkatkan kepatuhan minum obat
      peran vct
      – dilakukan berdasarkan kebutuhan dgn memberikan layanan kpd penderita hiv positif maupun negatif selama individu mengalami beresiko
      – vct bersifat sukarela, namun memiliki peran yg utama sbg bagian memberikan pertolongan mereka yg telah mengidap hiv/aids
      prinsip pelayanan vct
      – sukarela dlm melaksanakan vct
      – saling mempercayai dan terjamin konfidensitas
      – mempertahankan relasi hub klien yg efektif
      testing
      konseling pra-testing
      – menerima klien
      – membangun rpport/ menjalani hub eksplorasi
      – identifikasi
      – memberikan informasi
      – membuat perencanaan. – membuat keputusan
      tahap vct
      1) testing hiv
      2) non realatif
      3) realatif
      4) internmendiete
      konseling pasca testing : – menerima klien mengembangkan hub perencanaan kegiatan
      – perencanaan kegiatan
      – memberikan informasi konfidensialitas
      pelayanan dilakukan berkelanjutan
      – konseling lanjut
      – kelompok dukungan vct
      – pelayanan penanganan manajemen kesus
      model pembelajaran vct
      – penjangkauan
      – klinik vct tetap

  145. VCT
    ~Konseling adalah suatu proses yang terjadi antara individu yang memiliki masalah yang tidak dapat diatasi dengan petugas konselor. Petugas konseor yaitu seorang petugas yang memperoleh pengalaman yang profesional yang didapatkan dari pelatihan tertentu. Tugasya yaitu melakukan pendekatan kepada klien yang mengalami kesulitan.
    ~Menurut Gibson, Mitchell, dan basile ada 9 tujuan konseling:
    1. Perkembangan (melihat sisi perkembangan yang terjadi pasa pasien)
    2. Pencegahan (diupayakan mereka yang melakukan konseling di tenaga kesehatan atau konselor bisa mengetahui apa yang atau tidak boleh dilakukan terhadap perilaku yang bersiko)
    3. Perbaikan (sama halnya melakukan pencegahan, yaitu untuk merubah sebuat perilaku yang dimana perilaku tersebut beresiko menjadi tidak beresiko)
    4. Penyelidikan
    5. Penguatan
    6. Kognitif
    7. Psikologis
    ~Untuk mengetahui status kesehatan pada seseorang yang melakukan perilaku beresiko, kita langsung menuju ke sebuat ruangan untuk melakukan VCT (Voluntary Counseling and testing)
    ~Tujuan VCT
    Tujuan umum: memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    Tujuan khusus: 1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    ~Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    ~Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    ~Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    ~Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  146. Matkul : HIV & AIDS

    *Vacuntary Counseling Testing*

    A. Kesimpulan

    Konseling
    Adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan orang lain yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasi, dengan seseorang petugas profesional yang memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu klien agar mencegah kesulitan

    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  147. Voluntary Counseling Testing
    *Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya (melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami kesulitan)
    *Tujuan dari konseling :
    1. Tujuan perkembangan
    Upaya yang dilakukan dengan cara melihat perkembangan yang terjadi
    2. Tujuan pencegahan
    Upaya agar mereka yang melakukan konseling ditenaga kesehatan/konselor bisa melakukan dan tidak melakukan terhadap perilaku yang beresiko
    3. Tujuan Perbaikan
    Upaya yang dilakukan untuk perbaikan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
    4. Tujuan penyelidikan
    Upaya yang dilakukan untuk menguji kelayakan tujuan dengan cara memeriksa pilhan-pilihan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    *VCT (Voluntary Counseling and Testing)
    Konseling antara individu dan petugas kesehatan supaya dapat memutuskan melakukan tes HIV atau tidak,serta keputusan yang diambil harus merupakan keinginan individu itu sendiri dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain
    *Tujuan VCT
    a. Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    b. Tujuan khusus
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    *Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    *Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    *Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    *Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  148. Kesimpulan

    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela HIV. Konseling HIV/AIDS merupakan komunikasi yang bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan dengan HIV/AIDS. Tujuannya untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai. fungsi VCT yaitu:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehatan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  149. Volontary counseling testing

    – counseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat di atasinya,dgn petugas profesional yang di peroleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitanya

    – tujuan counseling
    Perkembangan,pencegahan,perbaikan,penyelidikan,penguatan,kognitif,fisiologis,pesikologis.

    VCT adalah suatu proses konseling terhadap individu sehingga individu memperoleh informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak, dimana keputusan yang di ambil oleh individu tersebut merupakan keinginan dalam dirinya sendiri tanpa paksaan dan hasil tes sepenuhnya di rahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan umum VCT
    Memberikan pelayanan kesehatan tentang pendekatan melakuka sebuah promosi kesehatan dlam perubahan prilaku yang menggurangi resiko teraatur infeksi dan menyebarkan infeksi.

    Tujuan khusus VCT
    Meningkatkan proses pelayanan kesehatan dan dan mencegah terjadinya infeksi lain pada ODHA

    Prinsip pelayanan VCT
    1.Suka rela dlam melakukan pelayanan vct,
    2.selalu mempercayain dan terjamin konfedensialitas,
    3.mempertahankan reaksi hubungan konselokelir yang efektif,
    4.testing.

    Tahapan VCT.
    1.Konseling pra testing,
    2.menerima klien,
    3.membangun raport untuk menjalin hubungan,
    4.explorasi,
    5.identifikasi,
    6.memberikan informasi,
    7.membuat perencanaan,
    8.membuat keputusan.

    Tahap VCT dan testing
    Pelayanan Dukungan Berkelanjutan.
    1.Konseling lanjut
    2.Kompok dukungan vct
    3.Pelayanan penanganan mejenemn khusus

    Model pelahanan vct and testing.
    1.Penjagkauan dan kliling
    2.Klinik vct tetap

  150. Konseling yaitu hubungan yang terjadi antara individu yang mengalami masalah dengan seseorang yg profesional yg telah memperoleh pelatihan untuk membantu klien memecahkan masalah, sedangkan VCT sendiri yaitu konseling terhadap individu yg merasa beresiko untuk memperoleh informasi dan memutuskan untuk tes HIV, dan ini merupakan keinginan individu sendiri tanpa paksaan dan hasil tes bersifat dirahasiakan.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut: Pencegahan HIV, Pintu masuk menuju terapi dan perawatan.VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehatan masyt,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

    Tujuan VCT
    1. Tujuan umum VCT
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular dan menyebarkaninfeksi.
    2. Tujuan khusus
    a. meningkatkan jumlah ODHA untuk mengetahui status HIV pada dirinya
    b. meningkatkan proses layanan kesehatan dan mencegah infeksi lain pada ODHA
    c. meningkatkan kepatuhan minum ARV
    d. meningkatkan perilaku hidup sehat dan mengurangi faktor risiko penularan HIV dan IMS

    Peranan VCT
    1. Memberikan pelayanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama individu merupakan orang yang berisiko. Meliputi layanan dukungan, konseling, akses terapi suportif, terapi oportunistik, dan pemberian ARV
    2. Peran yang utama sebagai pemberi pertolongan bagi mereka yang telah mengidap HIV/AIDS, keluarga atau individu yang mencari pertolongan, serta individu yang berisiko tinggi HIV/AIDS

    Prinsip VCT
    1. Sukarela
    2. Saling mempercayai dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan hubungan konselor-klien yg efektif
    4. Testing

    Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Konseling pasca testing
    3. Pelayanan dukungan berkelanjutan

    Model VCT
    1. Mobile Voluntary Counseling and Testing (Penjangkauan dan keliling)
    2. Statis Voluntary Counseling and Testing (Klinik VCT tetap)

  151. Konseling adalah proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan sesorang seperti individu yang mengalami suatu masalah yang tak dapat diatasi , dengan bantuan seorang petugas profesional yang telah memikiki pengalaman dan pelatihan yang bertugas untuk memberikan pendekatan kepada klien untuk memcahkan masalah yang dihadapinya
    (Gibson,mithcel,dan basile)
    Tujuan ada 8
    1. Tujuan perkembangan
    2. Tujuan pencegahan (Upaya untuk para konseling ditenaga kesehatan bisa mengetahui apa saja yang mreka lakukan atau tidak lakukan agar tidak beresiko)
    3. Tujuan perbaikan (perbaikan perilaku beresiko menjadi tak beresiko )
    4. Tujuan penyelidikan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis.
    8. Tujuan psikologis

    Vct(voluntary counseling and testing)
    Proses konseling dimana individu mendapat informasi dan dapat memutuskan Untuk tes hiv atau tidak dan keputusan yang diambil individu tersebut merupakan suatu keinginan dari diri sendiri tanoa paksaan dan hasil tes dirahasiakan sepenuhnya dari pihak lain
    Tujuan umum
    Memberikan pelayanan dengan pendekatan promkes dalam oerubahan perilaku untuk mengurangi penularan infeksi dan oenyabaran infeksi
    Tujuan khusus
    Meningkatkan jumlah odha mengetahui status hiv dalam dirinya dan mengetahui diagnosis
    Meningkatakan layanan kesehatan dan mencegah oenyebaran infeksi
    Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral dan memberi rasa tanggung jawab pada odha
    Meningkatkan oerilaku hidup sehat dan mengurangi faktor resiko hiv dan ims
    Peran vct
    Dilkaukan berdasarkan kebutuhan dan memberi layanan pada penderita positifi/negatif hiv selama individu melakukan perilaku beresiko seperti konseling pelayanan dukungan ,akses terapi supportif ,terapi oportunistik dan pemberian obat anti retroviral
    Vct bersifat suka rela namun memiliki peran utama sebagai penolongan lertama unyuk mreka mengidap Infeksi hiv
    Sukarela dalam melakukan vctsaling memoercayai dan terjamin konfidensialitas
    Mempertahankan hubungan konselor dg klien yang efektif
    Testing
    Tahap vct
    a. Konseling pra testing
    Menerima klien
    Eksplorasi
    Identifikasi
    Menjalin hubungan
    Memberi informasi
    Buat Perencanan
    Buat keputusan
    b. Testing hiv
    Non reaktif
    Reaktif
    Intermediate
    Yang dilakuakn konselor yaitu memberikan informasi klien agar tidak berperilaku buruk atau beresiko Seperti pemberian dukungan
    c. Konseling pasca testing
    Menerima klien
    Mengembangkan hubungan
    Perencanaan kegiatan
    Pembacaan hasil tes
    Integritas hasil tes
    Memberi informas dan konfidensialitas
    d. Pelayanan dukungan berkelanjutan
    Konseling lanjutan
    Klompok dukungan vct
    Pelayanan penanganan manjemen kasus
    Model pelayanan
    Mobile vct (penjangkauan dan keliling)
    Status vct (klinik vct tetap)

  152. Voluntary Counseling Testing
    *Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya (melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami kesulitan)
    *Tujuan dari konseling :
    1. Tujuan perkembangan
    Upaya yang dilakukan dengan cara melihat perkembangan yang terjadi
    2. Tujuan pencegahan
    Upaya agar mereka yang melakukan konseling ditenaga kesehatan/konselor bisa melakukan dan tidak melakukan terhadap perilaku yang beresiko
    3. Tujuan Perbaikan
    Upaya yang dilakukan untuk perbaikan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
    4. Tujuan penyelidikan
    Upaya yang dilakukan untuk menguji kelayakan tujuan dengan cara memeriksa pilhan-pilihan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    *VCT (Voluntary Counseling and Testing)
    Konseling antara individu dan petugas kesehatan supaya dapat memutuskan melakukan tes HIV atau tidak,serta keputusan yang diambil harus merupakan keinginan individu itu sendiri dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain
    *Tujuan VCT
    a. Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    b. Tujuan khusus
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    *Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    *Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    *Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling setelah testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    *Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  153. Voluntary Counseling Testing
    A. Konseling yaitu suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya (melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami kesulitan)
    B. Tujuan dari konseling :
    1. Tujuan perkembangan
    Upaya yang dilakukan dengan cara melihat perkembangan yang terjadi
    2. Tujuan pencegahan
    Upaya agar mereka yang melakukan konseling ditenaga kesehatan/konselor bisa melakukan dan tidak melakukan terhadap perilaku yang beresiko
    3. Tujuan Perbaikan
    Upaya yang dilakukan untuk perbaikan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
    4. Tujuan penyelidikan
    Upaya yang dilakukan untuk menguji kelayakan tujuan dengan cara memeriksa pilhan-pilihan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    C.VCT (Voluntary Counseling and Testing)
    Konseling antara individu dan petugas kesehatan supaya dapat memutuskan melakukan tes HIV atau tidak,serta keputusan yang diambil harus merupakan keinginan individu itu sendiri dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain
    D.Tujuan VCT
    a. Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    b. Tujuan khusus
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    E.Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    F.Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    G. Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    H. Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  154. Volontary counseling testing

    – counseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat di atasinya,dgn petugas profesional yang di peroleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitanya

    – tujuan counseling
    Perkembangan,pencegahan,perbaikan,penyelidikan,penguatan,kognitif,fisiologis,pesikologis.

    VCT adalah suatu proses konseling terhadap individu sehingga individu memperoleh informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak, dimana keputusan yang di ambil oleh individu tersebut merupakan keinginan dalam dirinya sendiri tanpa paksaan dan hasil tes sepenuhnya di rahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan umum VCT
    Memberikan pelayanan kesehatan tentang pendekatan melakuka sebuah promosi kesehatan dlam perubahan prilaku yang menggurangi resiko teraatur infeksi dan menyebarkan infeksi.

    Tujuan khusus VCT
    Meningkatkan proses pelayanan kesehatan dan dan mencegah terjadinya infeksi lain pada ODHA

    Prinsip pelayanan VCT
    1.Suka rela dlam melakukan pelayanan vct,
    2.selalu mempercayain dan terjamin konfedensialitas,
    3.mempertahankan reaksi hubungan konselokelir yang efektif,
    4.testing.

    Tahapan VCT.
    1.Konseling pra testing,
    2.menerima klien,
    3.membangun raport untuk menjalin hubungan,
    4.explorasi,
    5.identifikasi,
    6.memberikan informasi,
    7.membuat perencanaan,
    8.membuat keputusan.

    Tahap VCT dan testing
    Pelayanan Dukungan Berkelanjutan.
    1.Konseling lanjut
    2.Kompok dukungan vct
    3.Pelayanan penanganan mejenemn khusus

    Model pelahanan vct and testing.
    1.Penjagkauan dan kliling
    2.Klinik vct tetap

  155. Voluntary Counseling and Testing (VCT)

    Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang petugas profesional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitanya.

    Menurut Gibson, Mitchell dan Basile ada sembilan tujuan dari konseling
    • Tujuan perkembangan
    • Tujuan pencegahan
    • Tujuan perbaikan
    • Tujuan penyelidikan
    • Tujuan penguatan
    • Tujuan kognitif
    • Tujuan fisiologis
    • Tujuan psikologis

    Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tersebut memperoleh informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak, dimana keputusan yang diambil oleh individu tersebut merupakan keinginan dari dalam dirinya sendiri tanpa paksaan dan hasil tes sepenuhnya dirahasiakan dari pihak lain.

    Tujuan Voluntary Counseling and Testing
    Tujuan Khusus VCT
    • Meningkatkan jumlah ODHA mengetahaui status HIV pada dirinya dan dapat dengan segera mengetahui diagnosis.
    • Meningkatkan proses layanan kesehatan dan mencegah terjadinya infeksi lain pada ODHA.
    • Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral,
    • memberikan rasa tanggung jawab kepada ODHA sehingga tidak adanya resistensi dan efektifitas obat
    • Meningkatkan ODHA dalap perilaku hidup yang sehat dan mengurangi factor risiko penularan HIV dan IMS.
    Tujuan umum VCT
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan melakukan sebuah promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular infeksi dan menyebarkan infeksi

    Peranan Voluntary Counseling and Testing
    Layanan Voluntary Counseling and Testing dilakukan berdasarkan sebuah kebutuhan dengan memberikan layanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama individu mengalami perilaku berisiko, termaksuk layanan dukungan, konseling, akses terapi suportif, terapi oportunistik dan pemberian obat antiretroviral Meskipun Voluntary Counseling and Testing bersifat sukarela namun memiliki peran yang utama sebagai bagian memberikan pertolongan bagi mereka tang telah mengidap infeksi HIV/AIDS dan keluarga atau individu yang mencari pertolongan yang merasa lelah akan statusnya serta individu yang tidak mencari pertolongan namun berisiko tinggi HIV/AIDS.

    Prinsip Pelayanan Voluntary Counseling and Testing
    • Sukarela dalam melaksanakan Voluntary Counseling and Testing
    • Saling mempercayai dan terjamin konfidensialitas
    • Mempertahan kan relasi hubungan konselor- klien yang efektif
    • Testing

    Tahapan Voluntary Counseling and Testing
    Konseling Pra-testing
    • Menerima Klien
    • Membangun Rapport atau Menjalin hubungan
    • Eksplorasi
    • Identifikasi
    • Memberikan Informasi
    • Membuat Perencanaan
    • Membuat keputusan
    Testing HIV
    • Non Reaktif
    • Reaktif
    • Intermediate
    Konseling Pasca-testing
    • Menerima Klien
    • Mengembangkan Hubungan
    • Perencanaan Kegiatan
    • Membacakan Hasil Tes
    • Integritas Hasil Tes
    • Memberikan Informasi
    • Konfidensialitas
    Pelayanan Dukungan Berkelanjutan
    • Konseling lanjutan
    • Kelompok dukungan VCT
    • Pelayanan Penanganan Manajemen Kasus

    Model Pelayanan Voluntary Counseling and Testing
    • Mobile Voluntary Counseling and Testing (Penjangkauan dan Keliling)
    • Statis Voluntary Counseling and Testing (Klinik VCT tetap)

  156. Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya (melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami kesulitan)
    *Tujuan dari konseling :
    1. Tujuan perkembangan
    Upaya yang dilakukan dengan cara melihat perkembangan yang terjadi
    2. Tujuan pencegahan
    Upaya agar mereka yang melakukan konseling ditenaga kesehatan/konselor bisa melakukan dan tidak melakukan terhadap perilaku yang beresiko
    3. Tujuan Perbaikan
    Upaya yang dilakukan untuk perbaikan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
    4. Tujuan penyelidikan
    Upaya yang dilakukan untuk menguji kelayakan tujuan dengan cara memeriksa pilhan-pilihan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    *VCT (Voluntary Counseling and Testing)
    Konseling antara individu dan petugas kesehatan supaya dapat memutuskan melakukan tes HIV atau tidak,serta keputusan yang diambil harus merupakan keinginan individu itu sendiri dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain
    *Tujuan VCT
    a. Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    b. Tujuan khusus
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    *Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    *Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    *Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    *Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  157. Kesimpulannya adalah :
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    _CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    _ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    _HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.

  158. Vacuntary Counseling Testing

    Konseling
    Adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan orang lain yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasi, dengan seseorang petugas profesional yang memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu klien agar mencegah kesulitan

    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.
    Prinsip VCT
    1. Sukarela dalam melaksanakan Voluntary Conseling and Testing
    2. Saking mempercayai dan tetrjamin konfidenlitas.
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor efektif
    4. Testing: meruapakan bagian terpenting untuk status HIV pada pasien kita

  159. Koseling adalah : suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorng yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat di atasinya,dengan seorag petugas profesion yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya
    tujuan dari konseling yaitu :
    -Tujuan perkembangan
    -Tujuan pencegahan
    -Tujuan perbaikan
    -Tujuan penyelidikan
    -Tujuan penguatan
    -Tujuan kognitif
    -Tujuan fisologis
    -Tujuan psikologis
    selain itu Model Pelayanan Konseling dan
    Testing HIVIAIDS Sukarela

    Pelayanan VCT dapat
    dikembangkan diberbagai layanan
    terkait yang dibutuhkan, misalnya
    klinik IMS, klinik TB, ART dan
    sebagainya. Lokasi layanan VCT
    hendaknya perlu petunjuk atau tanda
    yang jelas hingga mudah diakses dan
    mudah diketahui oleh klien VCT.
    Nama klinik cukup mudah di
    mengerti sesuai dengan etika dan
    budaya setempat dimana pemberian
    nama tidak mengundang stigma dan
    diskriminasi

  160. Konseling
    Adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan orang lain yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasi, dengan seseorang petugas profesional yang memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu klien agar mencegah kesulitan

    -VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    – Voluntary Counseling and
    Testing (VCT) adalah suatu bagian dalam pemeriksaan test HIV dilakukan dengan
    prakonseling, sukarela dan confidency dan memiliki informed consent.
    -VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    – Peranan Voluntary Counseling and Testing
    Layanan Voluntary Counseling and Testing dilakukan berdasarkan sebuah kebutuhan
    dengan memberikan layanan kepada penderita HIV positif maupun negatif selama
    individu mengalami perilaku berisiko, termaksuk layanan dukungan, konseling, akses
    terapi suportif, terapi oportunistik dan pemberian obat antiretroviral
    -Model VCT
    1. Mobile Voluntary Counseling and Testing (Penjangkauan dan keliling)
    2. Statis Voluntary Counseling and Testing (Klinik VCT tetap).
    – Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1.Pencegahan HIV.
    2.Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3.VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yg direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.
    Perawatan paliatif adalah
    perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  161. Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan sesorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan sorang petugas prefesional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar kluen memecahkan kesulitannya. Menurut Gibson, Mitchell dan Basile ada sembilan tujuan dari konseling yaitu :
    1. Tujuan perkembangan
    2. Tujuan pencegahan
    3. Tujuan perbaikan
    4. Tujuan penyelidikam
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    Voluntary Counselling and Testing adalah suatu proses konseling terhadap suatu individu sehingga individu tersebut memperoleh informasi dan dapat memutuskan untuk melakukan tes HIV atau tidak, dimana keputusan yang diambil oleh individu tersebut merupakan keinginan dari dalam dirinya sendiri tanpa paksaan dan hasil tes sepenuhnya dirahasiakan dari pihak lain.
    Tujuan Voluntary Counselling and Testing Ada dua yaitu :
    1. Tujuan umum Voluntary Counselling and Testing
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekantan melakukan sebuah promosi kesehatan dalam perubahan perilaku yang mengurangi risiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi.
    2. Tujuan khusus Voluntary Counselling and Testing
    – meningkatkan jumlah ODHA
    – Meningkatkan proses layanan kesehatan
    – Meningkatkan keptuhan minum obat antiretroviral
    – Meningkatkan ODHA dalam perilaku hidup sehat
    Prinsip layanan vct ini sukarela dalam melakukan vct tanpa ada paksaan,Saling mempercayai (px dengan konselor), terjaminnya kinfidensialitas, mempertahankan relasi konselor klien yang efektif, testing( mengetahui dtatus hiv)

    Tahapan vct yaitu :
    1. Konseling pra testing
    Mulai dari tahapan pendekatan, menjalin hubungan, mengindentifikasi, memberikan informasi, membuat perencanaan, membuat keputusan.
    2. Testing hiv
    Hasil jika non reaktif,yang harus di lakukan konselor memberikan info pd klien agar tidak berperilaku buru. Jika hasilnya reaktif maka konselor memberikan info apa sih yang di lakukan kedepannya seperti pemberian obat, treatment dll.
    3. Konseling pasca-testing
    Tetap melakukan prndekatan menerima klien menhakin hubungan yang semakin erat dan sling percaya, perencanaan kegiatan kedepan, membacakan dan mengintegritas hasil dari tes, memberikan informasi, merahasiakan semua hasil tes dan konselor (konfidensial).
    4. Pelayanan dukungan berkelanutan
    Ditujukan pada px yang positif klien dimana emosional pasti akan down, disini menbeikan dukungan berkelanjutan dan konselor berkelanjutan pd px yang positif.

    Model pelayanan vct yaitu :
    1. Mobile vct (pengjangkauan dan keliling)
    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS. VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) yang berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.
    Perawatan paliatif adalah perawatan penunjang yang berpusat pada kenyamanan pasien, meringankan penderitaan serta meningkatkan mutu hidupnya.

  162. Voluntary Counseling Testing (VCT)
    ~Konseling adalah suatu proses yang terjadi antara individu yang memiliki masalah yang tidak dapat diatasi dengan petugas konselor. Petugas konseor yaitu seorang petugas yang memperoleh pengalaman yang profesional yang didapatkan dari pelatihan tertentu. Tugasya yaitu melakukan pendekatan kepada klien yang mengalami kesulitan.
    ~Menurut Gibson, Mitchell, dan basile ada 9 tujuan konseling:
    1. Perkembangan (melihat sisi perkembangan yang terjadi pasa pasien)
    2. Pencegahan (diupayakan mereka yang melakukan konseling di tenaga kesehatan atau konselor bisa mengetahui apa yang atau tidak boleh dilakukan terhadap perilaku yang bersiko)
    3. Perbaikan (sama halnya melakukan pencegahan, yaitu untuk merubah sebuat perilaku yang dimana perilaku tersebut beresiko menjadi tidak beresiko)
    4. Penyelidikan
    5. Penguatan
    6. Kognitif
    7. Psikologis
    ~Untuk mengetahui status kesehatan pada seseorang yang melakukan perilaku beresiko, kita langsung menuju ke sebuat ruangan untuk melakukan VCT (Voluntary Counseling and testing)
    ~Tujuan VCT
    Tujuan umum: memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    Tujuan khusus: 1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    ~Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    ~Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    ~Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    ~Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  163. Voluntary Counseling Testing
    *Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang dengan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya,dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien memecahkan kesulitannya (melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami kesulitan)
    *Tujuan dari konseling :
    1. Tujuan perkembangan
    Upaya yang dilakukan dengan cara melihat perkembangan yang terjadi
    2. Tujuan pencegahan
    Upaya agar mereka yang melakukan konseling ditenaga kesehatan/konselor bisa melakukan dan tidak melakukan terhadap perilaku yang beresiko
    3. Tujuan Perbaikan
    Upaya yang dilakukan untuk perbaikan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko
    4. Tujuan penyelidikan
    Upaya yang dilakukan untuk menguji kelayakan tujuan dengan cara memeriksa pilhan-pilihan
    5. Tujuan penguatan
    6. Tujuan kognitif
    7. Tujuan fisiologis
    8. Tujuan psikologis
    *VCT (Voluntary Counseling and Testing)
    Konseling antara individu dan petugas kesehatan supaya dapat memutuskan melakukan tes HIV atau tidak,serta keputusan yang diambil harus merupakan keinginan individu itu sendiri dan hasil tes dirahasiakan dari pihak lain
    *Tujuan VCT
    a. Tujuan umum
    Memberikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan dengan melakukan promosi kesehatab dalam merubah perilaku yang mengurangi resiko tertular infeksi dan menyebabkan infeksi
    b. Tujuan khusus
    1. Meningkatkan jumlah ODHA mengetahui status HIV pada dirinya
    2. Meningkatkan proses layanan kesehatan
    3. Meningkatkan kepatuhan minum obat antiretroviral
    4. Meningkatkan ODHA dalan perilaku hidup sehat dan mengurangi resiko penularan HIV dan IMS
    *Peran VCT
    1. Meberikan informasi kepada klien tentang statusnya
    2. Memberikan pertolongan bagi mereka yang sudah mengidap HIV/AIDS
    *Prinsip pelayanan VCT
    1. Sukarela (tidak ada paksaan)
    2. Saling percaya dan terjamin konfidensialitas
    3. Mempertahankan relasi hubungan konselor yang efektif (ketika melakukan VCT, maka hubungan konselor dengan pasien tidak ada dilema ataupun tidak ada unsur yang mengikat di dalamnya)
    4. Testing (untuk mengetahui status HIV)
    *Tahapan VCT
    1. Konseling pra testing
    2. Testing HIV
    a. Hasil non reaktif: memberikan informasi kepada pasien agar tidak berperilaku buruk
    b. Reaktif: meberikan informasi apa saja yang harus dilakukan kedepannya
    c. Intermediate
    3. Konseling pasca testing
    4. Pelayanan dukungan berkelanjutan (untuk klien dengan +HIV)
    *Model VCT
    1. Mobile VCT (penjangkauan dan keliling)
    2. Status VCT (klinik VCT tetap)

  164. Kesimpulannya
    VCT (Voluntary Counselling and Testing ) diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan kepada ODHA dengan menggunakan obat anti HIV (ARV=AntiRetroviral) berfungsi mengubah HIV dari penyakit yang mematikan menjadi ‘’Penyakit Kronis’’.
    HAART adalah singkatan dari Highly Activ ART, yaitu terapi anti retroviral sangat aktiv yang direkomendasikan pada semua pasien stadium IV tanpa memperdulikan jumlah CD4 mereka,dan direkomendasikan pada pasien stadium I,II,III, dengan jumlah CD4 dibawah 200 sel/mm3.

  165. VCT (Voluntary Counselling and Testing )
    diartikan sebagai Konselling dan Tes Sukarela (KTS) HIV. Konseling HIV dan AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia antara klien dan konselor yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan HIV dan AIDS.
    VCT bertujuan untuk membantu setiap orang agar mendapatkan akses kesemua layanan informasi, edukasi, terapi atau dukungan psiko sosial, sehingga kebutuhan akan informasi akurat dan tepat dan dicapai.
    Adapun fungsi VCT adalah sebagai berikut:
    1. Pencegahan HIV.
    2. Pintu masuk menuju terapi dan perawatan
    3. VCT dilakukan sebagai penghormatan atas hak asasi manusia dari sisi kesehtan masyarakat,kerena infeksi HIV mempunyai dampak serius bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
    CST (Care, Support, and Treatment) yaitu perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA yang merupakan program lanjutan dari VCT. CST bertujuan agar ODHA dapat hidup lebih lama secara positif, berkualitas dan memiliki aktifitas social dan ekonomi yang normal seperti anggota masyarakat lainnya.
    ART (Anti Retroviral Therapy) yaitu terapi yang diberikan ke