Beranda Seputar Kesehatan Kesehatan Reproduksi & HIV MENENTUKAN RISIKO HIV INDIVIDU MELALUI SKRINING

MENENTUKAN RISIKO HIV INDIVIDU MELALUI SKRINING

399
5

Risiko Terhadap HIV pada individu bagi mereka yang berperilaku buruk dapat dilihat pada proses skrining, yang dilaporkan sendiri oleh klien tanpa ada tanda gejala klinis. Risiko perilaku termasuk penggunaan narkoba suntikan atau hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang bisa mennyebabkan risiko tinggi tertular HIV. Tanda dan gejala yang terjadi termaksuk pada Infeksi Menular Seksual ini dapat memungkinkan risiko infeksi HIV semangkin tinggi. Skema yang dilakukan dalam menentukan penyebaran risiko HIV bisa dilihat dalam sebuah pendekatan melalui proses konseling oleh seorang atau lebih konselor dalam mencari sebuah data berkaitan informasi terkait perilaku yang menyebabkan HIV.

Seorang tenaga kesehatan yang telah mendapatkan sebuah pelatian khusus berkaitan dengan hal ini, lebih mengutama kerahasiaan dalam mengkaji sebuah kasus yang terjadi agar terjalinnya sebuah komunikasi efektif dianatara pasien dan penyedia jasa VCT. Dalam melakukan sebuah penentuan pada orang yang risiko terjadinya HIV adalah memalui skrinning, hal ini akan menekan terjadinya perluasan atau penyebaran kasus HIV. Proses yang dilakukan dengan melakukan pendekatan yang efektif pada mereka yang berperilaku berisiko seperti mereka yang melakukan hubungan seksual tidak pada satu pasangan yang tidak menggunakan kondom secara konsistenten.

VCT harus disediakan dalam pengaturan berbasis komunitas dan penjangkauan serta klinis pengaturan. Jika VCT tidak tersedia, dapat diakses, atau diterima, orang di peningkatan risiko mungkin tidak memanfaatkannya. Memperluas cakupan VCT sebagai pengaturan dapat dilakukan melalui kemitraan dengan penyedia layanan berbasis komunitas dan penggunaan tes cepat. Untuk memastikan VCT efektif yang responsif terhadap klien yang memiliki risiko besar terjangkit HIV, penyedia harus mengembangkan dan menerapkan protokol jaminan kualitas tertulis dan prosedur khusus untuk layanan yang disediakan dalam kegiatan kerjanya.

Memastikan privasi dan kerahasiaan klien selama proses VCT adalah hal yang penting, tetapi bisa menghadirkan tantangan unik di beberapa lingkungan tertentu. Sifat kerahasian dalam perilaku individu bisa dengan lugas akan diraih dengan melakukan memberikan keperacayaan kepada klien bahwa inforsi yang petugas dapatkan dari klien bersifat rahasia dan dapat dipercaya. Dalam kaitannya ini pun ada beberapa strategi yang biasa dilakukan dalam mendapatkan informasi yaitu Penggunaan ruangan dalam proses konseling dilakukan sangat rahasia artinya dalam ruangan tersebut hanya terdapat seorang klien dan biasanya satu atau 2 petugas terkait, Melakukan pendekatan peningkatan pengetahuan terhadap infeksi HIV, Tidak pernah menyalahkan pengalaman klien dimasa lalu, Dan seorang petugas harus bisa dapat dipercaya dengan mengedepakan jalinan komunikasi efektif terhadap klien