Beranda Seputar Kesehatan Kesehatan Reproduksi & HIV MEMAHAMI MASA REMAJA

MEMAHAMI MASA REMAJA

310
11

Penulis #Eko Budi Santoso

Berdasarkan Undang-undang No. 40 tahun 2009 menyatakan bahwa yang berusia 16-30 tahun ‘masuk dalam usia tumbuh dan berkembang atau bisa disebut dengan pemuda. Menurut data dari Surve Sosial ekonomi Nasional mengungkapkan bahwa perkiraan nangkap pemuda sebanyak 64,19% juta jiwa. Dengan proyeksi pemuda laki-laki lebih banyak dari perempuan,  berdasarkan lanjutan bahwa pemuda terkonsentrasi di pulau jawa sebanyak 55,28%. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyaknya pemuda di Indonesia kemungkinan bisa berdampak hal yang positif bagi perkembangan Indonesia di masa depan, namun kita perlu lebih menaruh sikap kepada remaja sebagai penerus bangsa dengan memberikan kesadaran akan cita-cita dikemudian hari. Problematika yang sering terjadi dikalangan remaja sebagai bagian dari kehancuran remaja tersebut dengan tidak mengawasi pergaulan remaja.

Pengaruh dari perkembangan zaman yang terjadi saat ini justru bisa mempengaruhi perilaku akan seksual semangkin tinggi dikalangan remaja. Menurut penelitian dari Eko Budi Santoso di salah satu kabupaten yang mengambil sempel terbatas dikalangan remaja akhir dengan tingkatan usia 17-21 tahun, didaptkan dari 750 responden yang dilakukan penelitian didapatkan sekitar 150 responden remaja telah melakukan hubungan seksual baik dilakukan sekali maupun secara aktif. Hal ini bisa kita lihat betapa mirisnya pergaulan dikalanagan remaja yang akan menghalangi cita-cita mereka dan bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit infeksi menularseksual.

Masa remaja adalah masa yang memiliki keingintahuan sangat besar. Remaja memiliki dominan dalam menentukan sikap dalam mengambil keputusan, namun sikap yang diambil oleh remaja justru akan membuat mereka sukses atau tidak berhasil. Sikap teman sebayapun perlu kita waspadai berdasarkan penelitian Eko Budi Santoso yang menunjukan bahwa sikap teman sebaya justru lebih besar mempengaruhi sikap remaja tersebut dengan kata lain remaja memiliki sikap terbuka akan informasi yang didapatkan terutama seksualitas.

Keinginan para remaja sangat besar akan pengetahuan yang lebih, remaja lebih memilih mencari sesuatu yang belum pernah mereka ketahui selama kehidupannya. Rassa penasaran remaja terhadap akan seksual sangat besar karena rasa ingin dan mencoba sangat kuat. Kekawatiran kita sebagai insan yang ingin membawa remaja kejalan keilmuan yang benar dan memberikan kesan pengetahuan yang tepat akan seksualitas begitu susah ditambah lagi dengan modaaktivasi internet kita mudah diakses terutama konten berkaitan dengan seksualitas. Bisa kita melihat beberapa tahun terakhir banyaknya para remaja tidak lagi malu dalam mengeksplorasi keinginannya. Budaya pacaran dikalangan remaja bisa menyebabkan mengaplikasikan ekspresi mereka terhadap lawan jenis dalam bentuk perilaku yang cenderung kearah lebih intim.

Dengan demikian, remaja dianggap sebagai kelompok yang mempunyai risiko secara seksual maupun kesehatan reproduksi, karena rasa keingintahuannya yang besar dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Dimana halitu kadang tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kedewasaan yang cukup serta pengalaman yang terbatas. Kematangan seks yang lebih cepat dengan dibarengi makin lamanya usia untuk menikah menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah remaja yang melakukan hubungan seks pranikah. Sebagai dampaknya, aktifitas seksual yang mendekati hubungan kelamin cukup tinggi. Hal ini tentu dapat menimbulkan beberapa konsekuensi seperti kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi, terinfeksi penyakit menular seksual bahkan HIV/AIDS.

Para remaja justru lebih senang jika mereka selalu bergaul dengan memiliki visi dan misi yang sama dan lebih condong mendengarkan ungkapan atau ucapan dari teman sebaya dibandingkan dengan ucapan orang yang lebih memiliki sebuah pengalaman kehidupan. Bahaya yang diambil oleh remaja tidak lepas dari peran serta teman sebaya melainkan dari keluarga yang mungkin masih kurang rasa sayang yang diberikan kepada remaja. Hal itu pun akan berdampak pada keputusan yang diambil dalam memberikan rasa bahagia dalam kehidupannya.

Kita sebagai insan yang lebih matang harus memberikan edukasi kepada mereka dalam mengambil sebuah keputusan dengan memberikan pembelajaran yang berharga demi kelangsungan kehidupan mereka. Dengan melakukan pendekatan secara aktif atau mungkin dengan membangun suatu wadah seperti perkumpulan pararemaja yang memberikan efek positif dalam berekspresi. Pemahaman kita akan remaja harus lebih sensitive dan bukan mendahulukan akan emosi semata, karena remaja masih memiliki sikap atau nalar yang belum baik dalam mengambi lkeputusan.

Remaja masak ini adalah remaja yang aktif di dunia digital berbeda dengan remaja sebelumnya, dizaman kontemporer ini apapun bisa diakses dari konten berbau positif hingga negative, pemberian pemahaman terhadap remaja justru harus bersifat ketegasan namun tidak mengesampingkan rasa kasih sayang.

Referensi

Santoso, EB. 2017. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Teman Sebaya Dengan Perilaku Seks Berisiko HIV dan IMS Pada Remaja Di Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Info Kesehatan. Surabaya : STIKes Surabaya. //stikes-surabaya.e-journal.id/infokes/article/view/4/3

Badan Pusat Statistik. 2019. Statistik Pemuda Indonesia 2019. Badan Pusat Statistik. Jakarta