Beranda Seputar Kesehatan Public Health MEDIKAL SOSIOLOGI DALAM GENDER

MEDIKAL SOSIOLOGI DALAM GENDER

396
26

Peran dan hubungan gender dibangun secara sosial dan karenanya berubah seiring waktu dan lintas masyarakat. Selama beberapa tahun terakhir dikotomi sederhana tentang seks biologis telah dipertanyakan, seperti dikotomi gender budaya pria atau wanita. Perbedaan antara maskulinitas dan feminitas semakin diakui sebagai dimensi yang berkelanjutan, dengan masing-masing individu memiliki atribut maskulin dan feminin dalam berbagai tingkatan. . Analisis berdasarkan gender tentang pola sosial kesehatan perlu mempertimbangkan konteks hubungan sosial dan ekonomi yang lebih luas antara perempuan dan laki-laki, dan mengenali dampak ketidaksetaraan gender dalam kekuasaan dan sumber daya ekonomi pada kesehatan baik perempuan maupun laki-laki. Penting juga untuk mempertimbangkan pentingnya keragaman (atau ketidaksetaraan) di antara masing-masing gender. Sejak tahun 1970-an, telah menjadi kebijaksanaan yang diterima bahwa ‘perempuan menjadi lebih sakit tetapi laki-laki mati lebih cepat’. Perempuan di sebagian besar masyarakat Barat hidup lebih lama daripada laki-laki, tetapi memiliki tingkat kesakitan yang lebih tinggi. Ini dibahas oleh Nathanson (1975) sebagai ‘kontradiksi’ yang membutuhkan penjelasan. Beberapa penjelasannya terkait dengan peran gender, misalnya, bahwa wanita lebih cenderung morbiditas dari pada pria, dan wanita lebih sering mengalami kesakitan dari pada pria.

Perkembangan dinamika beberapa tahun terakhir belakanan dapat dikasi dan dirumuskan pada Negara berkembang adanya sedikit perbedaan melihat dari gender wanita lebih tinggi angka mortalitas ketimbang pria, dengan melihat semangkin banyaknya angka kematian dikarenakan status social mereka rendah dan lebih cenderung terkena penyakit gizi buruk, akses pelayanan kesehatan dan kelahiran yang buruk atau tidak terjangkau hingga kematian ibu dan anak semangkin meningkat. Namun berbeda dengan di belahan barat yang memiliki angka mortalitas justru lebih banyak terjadi pada kaum pria ketimbang wanita, dikarnakan semangkin banyaknya tinggakatan stress berkaitan dengan pencari nafkah. Hingga tahun ini bisa kita melihat dengan semangkin majunya pusat peradaban dunia mendorong pusat kesehatan segera mengambil inisiatif dalam menekan angka mortalitas.