Beranda Seputar Kesehatan Public Health MEDIKAL SOSIOLOGI DALAM GENDER

MEDIKAL SOSIOLOGI DALAM GENDER

300
26

Peran dan hubungan gender dibangun secara sosial dan karenanya berubah seiring waktu dan lintas masyarakat. Selama beberapa tahun terakhir dikotomi sederhana tentang seks biologis telah dipertanyakan, seperti dikotomi gender budaya pria atau wanita. Perbedaan antara maskulinitas dan feminitas semakin diakui sebagai dimensi yang berkelanjutan, dengan masing-masing individu memiliki atribut maskulin dan feminin dalam berbagai tingkatan. . Analisis berdasarkan gender tentang pola sosial kesehatan perlu mempertimbangkan konteks hubungan sosial dan ekonomi yang lebih luas antara perempuan dan laki-laki, dan mengenali dampak ketidaksetaraan gender dalam kekuasaan dan sumber daya ekonomi pada kesehatan baik perempuan maupun laki-laki. Penting juga untuk mempertimbangkan pentingnya keragaman (atau ketidaksetaraan) di antara masing-masing gender. Sejak tahun 1970-an, telah menjadi kebijaksanaan yang diterima bahwa ‘perempuan menjadi lebih sakit tetapi laki-laki mati lebih cepat’. Perempuan di sebagian besar masyarakat Barat hidup lebih lama daripada laki-laki, tetapi memiliki tingkat kesakitan yang lebih tinggi. Ini dibahas oleh Nathanson (1975) sebagai ‘kontradiksi’ yang membutuhkan penjelasan. Beberapa penjelasannya terkait dengan peran gender, misalnya, bahwa wanita lebih cenderung morbiditas dari pada pria, dan wanita lebih sering mengalami kesakitan dari pada pria.

Perkembangan dinamika beberapa tahun terakhir belakanan dapat dikasi dan dirumuskan pada Negara berkembang adanya sedikit perbedaan melihat dari gender wanita lebih tinggi angka mortalitas ketimbang pria, dengan melihat semangkin banyaknya angka kematian dikarenakan status social mereka rendah dan lebih cenderung terkena penyakit gizi buruk, akses pelayanan kesehatan dan kelahiran yang buruk atau tidak terjangkau hingga kematian ibu dan anak semangkin meningkat. Namun berbeda dengan di belahan barat yang memiliki angka mortalitas justru lebih banyak terjadi pada kaum pria ketimbang wanita, dikarnakan semangkin banyaknya tinggakatan stress berkaitan dengan pencari nafkah. Hingga tahun ini bisa kita melihat dengan semangkin majunya pusat peradaban dunia mendorong pusat kesehatan segera mengambil inisiatif dalam menekan angka mortalitas.

26 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah dapat ilmu walau terhalang wabah ini sangat bermanfaat ilmunya pak, selalu semangat dalam menulis artikel ini, sangat membantu kami terima kasih pak🙏

  2. Terima kasih atas artikelnya pak semoga bermanfaat..
    Gara gara Corona yang awalnya saya jarang baca artikel, sekarang jadi sering deh hehe

  3. Alhamdulillah tambah ilmu baru selama karantina. Terima kasih ilmunya dan semoga ilmunya bermanfaat pak

  4. Terima kasih bapak atas artikel yg di berikan, sangat bermanfaat bagi saya dan teman” yg lain, semoga kedepannya bapak berkarya terus dan banyak ilmu yg bisa saya dapat dari bapak 🙏🏻

  5. dalam teori health belief modek
    1. perceived susceptibility yaitu melibatkan persepsi dari masyarakat untuk memelihara/memiliki perilaku hidup sehat tentang keyakinan sesorang itu sendiri dalam hal tertularnya penyakit. dalam kasus ini wanita lebih sering sakit dari pada laki-laki tetapi laki-laki lebih dulu meninggal dari pada perempuan
    2. perceived severity
    yang satu ini adalah keseriusan dalam penularan penyakit dan membiarkan penyakitnya tidak di obati. misalkan dalam kasus diatas bahwa wanita mudah sakit tetapi lebih lama hidupnya dari laki-laki atau bisa disebut umur panjang dan membiarkan penyakit itu sendiri tanpa di obati dan untuk laki-laki akan mudah meninggal dan tidak gampang sakit seakan-akan mereka mengabaikan kesehatannya
    3. perceied benefits
    dalam persepsi ini seseorang tentang efektifitas berbagai tindakan yang tersedia untuk mengurangi ancaman penyakit. jadi setelah para wanita merasakan setelah di beri edukasi bahwa sebuah penyakit harus segera di sembuhkan jika tidak maka akan berdampak parah pada diri sendiri bahkan bisa sampai kematian. misal tentang gizi buruk dan untuk laki-laki kita beri edukasi bahwa semua manusia bisa mudah terkena penyakit jika mereka tidak bisa menjaga kesehatannya
    4. perceived barriers
    yang ini merujuk kepada melakukan hambatan untuk melakukan tindakan kesehatan . misalkan banyak kaum wanita dan anak-anak yang hidup di negara berkembang banyak yang meninggal karena masalah ekonomi dan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. untuk kaum laki-laki mungkin karena faktor adalah tulang punggung keluarga jadi mereka tidak bisa menjaga kesehatannya

    dalam faktor ini dalam teori HBM saya menyimppulkan
    bahwa :
    1. jadi kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa waita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki da tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki , nah dari situ lah engapa wanita leih lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki.
    2. dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri
    3. jika prilaku mereka sudah menunjukan hasil positif tetapi ada hambatan untuk merubah prilaku itu sendiri, misalnya dari segi ekonomi maka perlu keperdulian antara masyrakat lain dan pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu proses perubahan prilaku tersebut dalam hal perbaikan gizi buru yang mereka alami

    • Menurut saya kasus di atas menurut terori hbm menjadikan atau merubah sikap seseorang agar orang tersebut lebih peduli dengan sekitar atau dirinya sendiri. Di dalam kasus tersebut di sebutkan angka kematian wanita lebih tinggi di banding pria di negara berkembang di karenakan seorang perempuan tersebut memiliki beban kebutuhan yg tinggi di bandingan seorang pria yg notabennyabhanya bisa meminta dan tidak melakukan apa” di bandingkan seorang wanita yg memiliki kegigihan dan semangat juang. Sedangkan di negara maju angka kematian pria lebih tinggi dari perempuan di karenakan pria lebih banyak tuntutan pekerjaan karena wanita di anjurkan menjadi ibu rumah tangga sebagai pelayanan di rumah. Kepedulian terhadap kesehatan sangatlah kurang di karenakan dampak ekonomi sangat minim yg mengakibatkan seseorang memaksakan dirinya untuk bekerja walaupun badannya sudah lelah maka dari itu suatu dorongan harus ad dan hambatan di dalam dorongan pasti ada maka mereka harus lebih peduli atas kesehatan mereka dan percaya bahwa pasti akan terkena sebuah penyakit maka dari itu mereka harus merubah sikap ke positif jangan terlalu memaksakan kehendak.

  6. 1. jadi kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa waita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki da tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki , nah dari situ lah engapa wanita leih lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki.
    2. dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri
    3. jika prilaku mereka sudah menunjukan hasil positif tetapi ada hambatan untuk merubah prilaku itu sendiri, misalnya dari segi ekonomi maka perlu keperdulian antara masyrakat lain dan pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu proses perubahan prilaku tersebut dalam hal perbaikan gizi buru yang mereka alami.

  7. Theory health belief models adalah model psikologies yang digunakan Untuk mencoba dan memprediksi perilaku kesehatan dengan berfokus pada persepsi dan kepercayaan individu terhadap suatu penyakitdan strategi apa yang dapat dilakukan untuk menanngulanginya
    Model ini terdiri dari6 yaitu ;
    1. Perceived susceptibility
    Persepsi kerentanan, ini mengacu pada persepsi subjektif seseorang tentang risiko tertular penyakit . saya menganalisis tentang arkel tersebut wanita lebih sering motilitas / kesakitan daripada laki- laki karena wanita tersebut wanita karier untuk menghidupi keluarganya . dan lakilebih cepat meninggal dari pada wanita dikarenakan laki laki mudah despresi untuk dituntut ekonomi keluarga nya dan pada usia remaja juaga rasa ingin tahu mencoba aktivitas ektrem dan diantaranya juga salah pilih teman akibatnya pergaulan bebas biasaya pada usia 15-35 thn
    2. Perceived severity
    Keparahan yang dirasakan, ini merujuk pada perasaan seseorang tentang keseriusan tertular suatu penyakit atau penyakit (atau membiarkan penyakit atau penyakit itu tidak diobati).
    Saya menganalis dari artikel tersebut karena mengikuti pergaulan bebas atau salah teman menjadi seks biologis . dan kematian ibu dan anak meningkat karean usia nya blm mencukupi
    3. Perceived benefits
    Tindakan yang diambil seseorang dalam mencegah (atau menyembuhkan) penyakit atau penyakit bergantung pada pertimbangan dan evaluasi dari kedua kerentanan yang dirasakan dan manfaat yang dirasakan, sehingga orang tersebut akan menerima tindakan kesehatan yang direkomendasikan jika dianggap bermanfaat jadi saya menganalis artikel tersebut seseorang harus di tuntut GERMAS CERDIK dan menguatkan iman pada dirinya sendiri dengan cara penyuluhan lewat kader dan petugas puskesma atau faskes adalah salah satu upaya upaya bersama masyarakat
    4. Perceived barriers
    Hambatan yang dirasakan, merujuk pada perasaan seseorang tentang hambatan untuk melakukan tindakan kesehatan yang disarankan. jadi saya menganalis artikel tersebut kedua gender karena dituntut melanjutnya kehidupan ke masa depan
    5. Cue to action
    Isyarat untuk bertindak, adalah stimulus yang diperlukan untuk memicu proses pengambilan keputusan untuk menerima tindakan kesehatan yang direkomendasikan. Jadi saya menganalisi artikel tersebut kedua gender tersebut mudah strees jadi ptmnya meyerang karena hidup sehat yang tidak teratur
    6. Self-efficacy
    Self-efficacy, mengacu pada tingkat kepercayaan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil melakukan suatu perilaku .jadi saya menganalisis artikel tersebut menerapkan hidup sehat selama kita berkesempatan kehidupan sehingga kemudian hari kita dapat menjadi kemenangan kita semua dan sudah fasih sehat tanpa perlu edukasi diomeli dan teguri . mari kita tetap berkerja samauntuk menyelamaiti jiwa jiwa kita . ciayo…!!

  8. Kaitan tulisan di atas dengan dengan aspek HBM adalaha yang pertama kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa wanita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki dan tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki dari situ lah mengapa wanita lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki dan dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri jika perilaku mereka sudah menunjukan hasil positif tetapi ada hambatan untuk merubah prilaku itu sendiri, misalnya dari segi ekonomi maka perlu keperdulian antara masyrakat lain dan pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu proses perubahan prilaku tersebut dalam hal perbaikan gizi buruk yang mereka alami jadi saya menganalisis artikel tersebut menerapkan hidup sehat selama kita ada kesempatan untuk hidup sehingga dikemudian hari kita dapat menjadi kemenangan kita semua dan sudah fasih sehat tanpa perlu edukasi diomeli dan teguri.

  9. NSO

    LINTAS KESEHATANPUBLIC HEALTH

    MEDIKAL SOSIOLOGI DALAM GENDER

    Byadmin@alsanso.com

    May 31, 2020

     

    22

    148

    Peran dan hubungan gender dibangun secara sosial dan karenanya berubah seiring waktu dan lintas masyarakat. Selama beberapa tahun terakhir dikotomi sederhana tentang seks biologis telah dipertanyakan, seperti dikotomi gender budaya pria atau wanita. Perbedaan antara maskulinitas dan feminitas semakin diakui sebagai dimensi yang berkelanjutan, dengan masing-masing individu memiliki atribut maskulin dan feminin dalam berbagai tingkatan. . Analisis berdasarkan gender tentang pola sosial kesehatan perlu mempertimbangkan konteks hubungan sosial dan ekonomi yang lebih luas antara perempuan dan laki-laki, dan mengenali dampak ketidaksetaraan gender dalam kekuasaan dan sumber daya ekonomi pada kesehatan baik perempuan maupun laki-laki. Penting juga untuk mempertimbangkan pentingnya keragaman (atau ketidaksetaraan) di antara masing-masing gender. Sejak tahun 1970-an, telah menjadi kebijaksanaan yang diterima bahwa ‘perempuan menjadi lebih sakit tetapi laki-laki mati lebih cepat’. Perempuan di sebagian besar masyarakat Barat hidup lebih lama daripada laki-laki, tetapi memiliki tingkat kesakitan yang lebih tinggi. Ini dibahas oleh Nathanson (1975) sebagai ‘kontradiksi’ yang membutuhkan penjelasan. Beberapa penjelasannya terkait dengan peran gender, misalnya, bahwa wanita lebih cenderung morbiditas dari pada pria, dan wanita lebih sering mengalami kesakitan dari pada pria.

    Perkembangan dinamika beberapa tahun terakhir belakanan dapat dikasi dan dirumuskan pada Negara berkembang adanya sedikit perbedaan melihat dari gender wanita lebih tinggi angka mortalitas ketimbang pria, dengan melihat semangkin banyaknya angka kematian dikarenakan status social mereka rendah dan lebih cenderung terkena penyakit gizi buruk, akses pelayanan kesehatan dan kelahiran yang buruk atau tidak terjangkau hingga kematian ibu dan anak semangkin meningkat. Namun berbeda dengan di belahan barat yang memiliki angka mortalitas justru lebih banyak terjadi pada kaum pria ketimbang wanita, dikarnakan semangkin banyaknya tinggakatan stress berkaitan dengan pencari nafkah. Hingga tahun ini bisa kita melihat dengan semangkin majunya pusat peradaban dunia mendorong pusat kesehatan segera mengambil inisiatif dalam menekan angka mortalitas.

    1

    2

    TAGS#gender#medikal#sosiologi

    Previous articleETNIK DALAM KESEHATAN

    Next articleDUKUNGAN SOSIAL DAN JARINGAN SOSIAL: Sintesis Dan Tinjauan

    – Advertisement –

    More articles

    SEPUTAR TENTANG PREVENTION OF MOTHER-TO-CHILD TRANSMISSION

    June 7, 2020

    SALAH SATU PENYEBAB KEHAMILAN PADA REMAJA

    June 6, 2020

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KELUARGA

    June 6, 2020

    22 COMMENTS

    Mega Putri AuliyaJune 8, 2020 At 12:20 am

    Terimakasih pak, artikelnya sangat bermanfaat

    Reply

    Indri Yani Okta BriantiJune 8, 2020 At 12:20 am

    Alhamdulillah dapat ilmu walau terhalang wabah ini sangat bermanfaat ilmunya pak, selalu semangat dalam menulis artikel ini, sangat membantu kami terima kasih pak

    Reply

    Mahfudhotul JannahJune 8, 2020 At 12:35 am

    Terima kasih pak, artikelnya sangat bermanfaat dan membantu sekali

    Reply

    Rahma shavira ardanaJune 8, 2020 At 12:55 am

    Terimakasih pak artikelnya sangat bermanfaat sekali dan dapat membantu pembelajaran

    Reply

    Riandani fadilah saeJune 8, 2020 At 1:03 am

    Terima kasih pak artikelnya bermanfaat untuk menambah pengetahuan

    Reply

    Alda Prahtitis Apitya SandraJune 8, 2020 At 1:28 am

    Terimakasih pak, sangat bermanfaat sekali. Sukses selalu 

    Reply

    Andi Sugistino PrayogaJune 8, 2020 At 1:39 am

    Terima kasih atas artikelnya pak semoga bermanfaat..
    Gara gara Corona yang awalnya saya jarang baca artikel, sekarang jadi sering deh hehe

    Reply

    Lailatul mafruhahJune 16, 2020 At 7:23 am

    Alhamdulillah dapat menambah wawasan terimakasih pak eko artikelnya sukses selalu pak

    Reply

    Tharisa berliana salsabilla putri June 16, 2020 At 7:35 am

    Alhamdulillah tambah ilmu baru selama karantina. Terima kasih ilmunya dan semoga ilmunya bermanfaat pak

    Reply

    Lelyana Nur IndahSariJune 16, 2020 At 7:36 am

    Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat sekali pak

    Reply

    Firda Sabrina June 16, 2020 At 8:08 am

    Terimakasih pak.. Atas artikelnya sangat bermanfaat di bacanya sambil tiduran hehe

    Reply

    I Gusti Putu Bagus Surya Saputra June 16, 2020 At 8:12 am

    Terima kasih bapak atas artikel yg di berikan, sangat bermanfaat bagi saya dan teman” yg lain, semoga kedepannya bapak berkarya terus dan banyak ilmu yg bisa saya dapat dari bapak 

    Reply

    wancuk oktyonokJune 16, 2020 At 8:25 am

    dalam teori health belief modek
    1. perceived susceptibility yaitu melibatkan persepsi dari masyarakat untuk memelihara/memiliki perilaku hidup sehat tentang keyakinan sesorang itu sendiri dalam hal tertularnya penyakit. dalam kasus ini wanita lebih sering sakit dari pada laki-laki tetapi laki-laki lebih dulu meninggal dari pada perempuan
    2. perceived severity
    yang satu ini adalah keseriusan dalam penularan penyakit dan membiarkan penyakitnya tidak di obati. misalkan dalam kasus diatas bahwa wanita mudah sakit tetapi lebih lama hidupnya dari laki-laki atau bisa disebut umur panjang dan membiarkan penyakit itu sendiri tanpa di obati dan untuk laki-laki akan mudah meninggal dan tidak gampang sakit seakan-akan mereka mengabaikan kesehatannya
    3. perceied benefits
    dalam persepsi ini seseorang tentang efektifitas berbagai tindakan yang tersedia untuk mengurangi ancaman penyakit. jadi setelah para wanita merasakan setelah di beri edukasi bahwa sebuah penyakit harus segera di sembuhkan jika tidak maka akan berdampak parah pada diri sendiri bahkan bisa sampai kematian. misal tentang gizi buruk dan untuk laki-laki kita beri edukasi bahwa semua manusia bisa mudah terkena penyakit jika mereka tidak bisa menjaga kesehatannya
    4. perceived barriers
    yang ini merujuk kepada melakukan hambatan untuk melakukan tindakan kesehatan . misalkan banyak kaum wanita dan anak-anak yang hidup di negara berkembang banyak yang meninggal karena masalah ekonomi dan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. untuk kaum laki-laki mungkin karena faktor adalah tulang punggung keluarga jadi mereka tidak bisa menjaga kesehatannya

    dalam faktor ini dalam teori HBM saya menyimppulkan
    bahwa :
    1. jadi kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa waita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki da tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki , nah dari situ lah engapa wanita leih lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki.
    2. dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri
    3. jika prilaku mereka sudah menunjukan hasil positif tetapi ada hambatan untuk merubah prilaku itu sendiri, misalnya dari segi ekonomi maka perlu keperdulian antara masyrakat lain dan pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu proses perubahan prilaku tersebut dalam hal perbaikan gizi buru yang mereka alami

    Reply

    I Gusti Putu Bagus Surya Saputra June 16, 2020 At 8:37 am

    Menurut saya kasus di atas menurut terori hbm menjadikan atau merubah sikap seseorang agar orang tersebut lebih peduli dengan sekitar atau dirinya sendiri. Di dalam kasus tersebut di sebutkan angka kematian wanita lebih tinggi di banding pria di negara berkembang di karenakan seorang perempuan tersebut memiliki beban kebutuhan yg tinggi di bandingan seorang pria yg notabennyabhanya bisa meminta dan tidak melakukan apa” di bandingkan seorang wanita yg memiliki kegigihan dan semangat juang. Sedangkan di negara maju angka kematian pria lebih tinggi dari perempuan di karenakan pria lebih banyak tuntutan pekerjaan karena wanita di anjurkan menjadi ibu rumah tangga sebagai pelayanan di rumah. Kepedulian terhadap kesehatan sangatlah kurang di karenakan dampak ekonomi sangat minim yg mengakibatkan seseorang memaksakan dirinya untuk bekerja walaupun badannya sudah lelah maka dari itu suatu dorongan harus ad dan hambatan di dalam dorongan pasti ada maka mereka harus lebih peduli atas kesehatan mereka dan percaya bahwa pasti akan terkena sebuah penyakit maka dari itu mereka harus merubah sikap ke positif jangan terlalu memaksakan kehendak.

    Reply

    Priska Arlinda Permata PutriJune 16, 2020 At 10:38 am

    Terimakasih Pak atas materinya, sangat bermanfaat.

    Reply

    Agustien Sri kastrina selanJune 16, 2020 At 11:03 am

    Trimakasi pak atas materinya sangat bermanfaat

    Reply

    Muhammad Shofiyul UmamJune 16, 2020 At 11:32 am

    Terimakasih banyak pak sangat membantu semoga bisa bermanfaat di kemudian hari

    Reply

    Lelyana Nur IndahSariJune 16, 2020 At 1:02 pm

    1. jadi kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa waita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki da tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki , nah dari situ lah engapa wanita leih lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki.
    2. dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri
    3. jika prilaku mereka sudah menunjukan hasil positif tetapi ada hambatan untuk merubah prilaku itu sendiri, misalnya dari segi ekonomi maka perlu keperdulian antara masyrakat lain dan pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu proses perubahan prilaku tersebut dalam hal perbaikan gizi buru yang mereka alami.

    Reply

    Farahiyah mazayah ischakJune 16, 2020 At 3:04 pm

    Terimakasih artikelnya pak sangat bermanfaat, sukses selalu pak

    Reply

    diana putri puspitasariJune 16, 2020 At 4:11 pm

    Theory health belief models adalah model psikologies yang digunakan Untuk mencoba dan memprediksi perilaku kesehatan dengan berfokus pada persepsi dan kepercayaan individu terhadap suatu penyakitdan strategi apa yang dapat dilakukan untuk menanngulanginya
    Model ini terdiri dari6 yaitu ;
    1. Perceived susceptibility
    Persepsi kerentanan, ini mengacu pada persepsi subjektif seseorang tentang risiko tertular penyakit . saya menganalisis tentang arkel tersebut wanita lebih sering motilitas / kesakitan daripada laki- laki karena wanita tersebut wanita karier untuk menghidupi keluarganya . dan lakilebih cepat meninggal dari pada wanita dikarenakan laki laki mudah despresi untuk dituntut ekonomi keluarga nya dan pada usia remaja juaga rasa ingin tahu mencoba aktivitas ektrem dan diantaranya juga salah pilih teman akibatnya pergaulan bebas biasaya pada usia 15-35 thn
    2. Perceived severity
    Keparahan yang dirasakan, ini merujuk pada perasaan seseorang tentang keseriusan tertular suatu penyakit atau penyakit (atau membiarkan penyakit atau penyakit itu tidak diobati).
    Saya menganalis dari artikel tersebut karena mengikuti pergaulan bebas atau salah teman menjadi seks biologis . dan kematian ibu dan anak meningkat karean usia nya blm mencukupi
    3. Perceived benefits
    Tindakan yang diambil seseorang dalam mencegah (atau menyembuhkan) penyakit atau penyakit bergantung pada pertimbangan dan evaluasi dari kedua kerentanan yang dirasakan dan manfaat yang dirasakan, sehingga orang tersebut akan menerima tindakan kesehatan yang direkomendasikan jika dianggap bermanfaat jadi saya menganalis artikel tersebut seseorang harus di tuntut GERMAS CERDIK dan menguatkan iman pada dirinya sendiri dengan cara penyuluhan lewat kader dan petugas puskesma atau faskes adalah salah satu upaya upaya bersama masyarakat
    4. Perceived barriers
    Hambatan yang dirasakan, merujuk pada perasaan seseorang tentang hambatan untuk melakukan tindakan kesehatan yang disarankan. jadi saya menganalis artikel tersebut kedua gender karena dituntut melanjutnya kehidupan ke masa depan
    5. Cue to action
    Isyarat untuk bertindak, adalah stimulus yang diperlukan untuk memicu proses pengambilan keputusan untuk menerima tindakan kesehatan yang direkomendasikan. Jadi saya menganalisi artikel tersebut kedua gender tersebut mudah strees jadi ptmnya meyerang karena hidup sehat yang tidak teratur
    6. Self-efficacy
    Self-efficacy, mengacu pada tingkat kepercayaan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil melakukan suatu perilaku .jadi saya menganalisis artikel tersebut menerapkan hidup sehat selama kita berkesempatan kehidupan sehingga kemudian hari kita dapat menjadi kemenangan kita semua dan sudah fasih sehat tanpa perlu edukasi diomeli dan teguri . mari kita tetap berkerja samauntuk menyelamaiti jiwa jiwa kita . ciayo…!!

    Kaitan tulisan di atas dengan dengan aspek HBM adalaha yang pertama kita berikan edukasi prilaku tentang kasus di atas bahwa wanita itu bukan mudah sakit dan lebih lama meninggal dari pada laki-laki. begitu juga sebaliknya. jadi mengapa wanita itu di bilang mudah sakit karena wanita itu memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dari pada laki-laki dan tidak memiliki beban tanggung jawab yang tinggi dari pada laki-laki dari situ lah mengapa wanita lebih mudah sakit dan lebih lama hidup dari pada laki-laki dan dari situ lah kita bisa mendorong bahwa asumsi/kepercayaan mereka tentang perbedaan sosial ganger yang mengakibatkan ketidak pedulian masyarakat tentang kesehatannya itu sendiri 

  10. Terimakasih pak artikelnya sangat bermanfaat untuk menambah sedikit wawasan. Semangat terus pak, semoga sukses selalu aamiin…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here