Beranda Seputar Kesehatan Public Health KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN

334
22

Dunia yang berkembang dengan pesat dan didukung dengan semangkin canggihnya teknologi informasi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap terjadinya penyimpangan perilaku yang banyak melanda para remaja yang masih mencari jati diri dan. Kehidupan malam yang banyak digemari kaum muda di daerah perkotaan dan keadaan himpitan ekonomi yang dapat memberikan kontribusi yang relevan ata terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan yang dapan merugikan kaum perempuan secara tidak langsung. KTD di Indonesia sudah cukup mengkhawatirkan dengan dilihat dari data aborsi yang semakin lambat tahun semangkin meningkat.

Menurut Prof. Wimpie Pangkahila (2001) saat ini telah terjadi perubahan pandangan terhadap perilaku seks. Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan tidak dikaitannya dengan proses prokreasi. Akibatnya, perilaku seks masyarakat begitu bebas dan tidak terikat oleh norma-norma yang sebelumnya berlaku. Berikut faktor-faktor penyebabnya: (1). Longgarnya pengawasan orang tua akibat dari kesibukannya; (2). Pola pergaulan yang semangkin bebas, sementara orang tua tetap mengijinkan; (3). Lingkungan masyarakat yang semangkin permisif; (4). Semangkin banyaknya hal yang memberikan rangsangan seksual; (5). Fasilitas yang mendukung untuk memiliki, menikmati hal-hal yang memberikan rangsangan.

Cakupan pelayanan kesehatan reproduksi meliputi: 1). Konseling dan informasi keluarga berencana (KB); 2). Pelayanan kehamilan dan persalinan (termaksuk pelayanan aborsi yang aman, pelayanan bayi baru lahir inconatal); 3). Pengobatan infeksi saluran reproduksi dan penyakit menular seksual (PMS) termaksuk pencegahan kemandulan-konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR); 4). Konseling informasi dan reproduksi (KIR) mengenai kesehatan reproduksi. Bagi sebagian besar anak muda, usia antara 12-16 tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh dengan kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama atau kedua setelah kelahiran, perkembangan berlangsung secara cepat dan lingkungan yang baik semangkin lebih menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang bukan memperhatikan

Menurut UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan pelaksanaan Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Kerja. Pada Pasal 71 tentang Kesehatan Reproduksi dinyatakan, ruang lingkup kesehatan reproduksi mencakup saat sebelum hamil, waktu melahirkan dan sesudah melahirkan, pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, kesehatan seksual serta kesehatan sistem reproduksi. Menurut undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 7 bahwa perkawinan diijinkan bila laki-laki berumur 19 tahun dan wanita berumur 16 tahun. Namun pemerintah mempunyai kebijakan tentang perilaku reproduksi manusia ditegaskan dalam UU No. 10 Tahun 1992 yang menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan kebijakan upaya penyelenggaraan Keluarga Berencana, perkawinan diijinkan bila laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berumur 19 tahun. Sehingga perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilakukan bila pria kurang dari 21 tahun dan perempuan kurang dari 19 tahun.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) secara global terdapat 28 kasus per 1.000 perempuan setiap tahunnya. Jumlahnya naik dari 44%  di tahun 1995 menjadi 49%  pada tahun 2008.Angka kejadian aborsi di Indonesia yang mencapai angka 2,5juta/tahun. Dari hasil survei terakhir di 33 provinsi pada tahun 2008 oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dilaporkan 63%  remaja di Indonesia pada usia antara SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah ironisnya 21%  di antaranya dilaporkan melakukan aborsi. Persentase remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar, angka itu sempat berada pada kisaran 47,54 persen. Namun, hasil survei terakhir 2008 meningkat menjadi 63 persen (BKKBN, 2008). Menurut WHO (2009) sekitar 16 juta perempuan berusia 15-19 tahun melahirkan tiap tahun, 95% kelahiran tersebut terjadi pada negara dengan pendapatan yang rendah dan menengah. Angka rata-rata dari remaja yang melahirkanpada negara dengan pendapatan menengah lebih tinggi dua kali dibandingkan negara dengan pendapatan yang tinggi. Memiliki anak di luar nikah merupakan hal yang tidak biasa di banyak negara, sehingga bila terjadi kehamilan di luar nikah biasanya akan berakhir dengan tindakan aborsi

Sebagai konsekwensi dari kondisi kehamilan yang tidak direncanakan, ada dua pilihan. Pertama, tetap melanjutkan kehamilannya. Kedua, tidak melanjutkan kehamilannya atau melakukan upaya menggugurkan kandungannya. Kehamilan tidak dikehendaki ini bisa berakibat pada usaha-usaha menghentikan proses kehamilan (dengan sengaja). Kehamilan tidak dikehendaki ini dibedakan menjadi mistimed pregnancy (kehamilan tidak berada dalam waktu yang tepat) dan unwanted pregnancy (kehamilan yang tidak diinginkan). Kehamilan tidak pada waktu yang tepat ini dikenal sebagai kehamilan yang tidak direncanakan (unplanned pregnancy). Yang membeda kan kedua kehamilan itu adalah alasannya. Kehamilan jenis pertama adalah bukan persoalan tidak menghendaki kehamilan, tetapi waktunya yang tepat. Ada kebutuhan ruang dan waktu yang diperlukan untuk si ibu hamil dan melahirkan. Sementara itu, kehamilan tidak diinginkan sebenarnya lebih pada persoalan keberadaan kehamilan itu. Bila tidak ada hambatan sosial-kultural (dan agama), maka bisa saja seorang ibu akan memilih menghentikan kehamilan.

KTD adalah kehamilan yang karena suatu sebab keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi (Humas Pemerintah Kabupaten Pemalang, 2008). KTD bisa dialami oleh perempuan yang sudah menikah maupun yang belum menikah disebabkan karena hubungan seks pra nikah yang dilakukan. Sebagian dari perempuan yang melakukan hubungan seks pranikah adalah remaja. 

Kematangan organ seks dapat berpengaruh bila remaja tidak mampu mengendalikan rangsangan seksualnya, sehingga tergoda untuk melakukan hubungan seks pra nikah. Hal ini akan menimbulkan akibat yang dapat dirasakan bukan saja oleh pasangan, khususnya remaja putri tetapi juga orang tua, keluarga dan masyarakat.

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kehamilan Remaja

Pergaulan remaja di Era Melenium ini tidak bisa disamakan dengan pergaulan remaja sepulh atau dua puluh tahun yang lalu. Salah satu cermin dapat dilihat dari perkembangan sinetron remaja sekarang jauh lebih eksplisit menampilkan adegan-adegan bermesraan dan cara pacaran remaja sekarang tidak cukup hanya sebatas bergandengan tangan, tetapi sudah jauh dari itu, berpelukan, berciuman bahkan sampai berhubungan seksual. Hal ini berimbas dari pola pergaulan remaja yang bebas. Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin yang berbeda dengan mudah dapat dilihat dari pola remaja berpacaran. Dengan tidak adanya pendidikan seks yang memadai dan pandangan orang tua yang menabukan hal-hal yang berkaitan dengan seks membuat remaja cenderung terkena imbas seks dari pergaulan bebas, baik dari lingkungan masyarakat maupun lingkungan sebaya.

Berikut akan dijelaskan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan remaja menurut Maurer dan Smith (2010), karena ternyata 80% kehamilan remaja adalah tidak diinginkan. Sebagian besar remaja mengenal hubungan seks melalui media berpacaran.

1. Perubahan hormonal, timbulnya kesadaran seksual dan peer pressure

Menurut Kalmuss et al (2003, dalam Maurer & Smith 2010) masa remaja adalah masa dimana kesedaran seksual, keingintahuan dan keinginan untuk bereksperimen meningkat. Tekanan teman sebaya mempengaruhi remaja untuk terlibat dalam aktivitas seksualnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Wong (2000) bahwa remaja dihadapkan pada harapan adanya perilaku peran seksual yang matang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa. Remaja yang terlibat dalam aktivitas seksual biasanya mempunyai teman yang melakukan hal itu juga.

2. Peran seksual yang pervasive dari media

Remaja sering terekspose dengan paparan dari media terkait seks, aktivitas seksual dan pentingnya menjadi orang yang menarik perhtian lawan jenis. Hal ini menjadikan remaja terjebak pdalam perilaku seks pra nikah, yang antara lai berujung pada KTD

3. Aktivitas seksual yang terpaksa

Semangkin muda usia remaja, semangkin mudah untuk terlibat dalam aktivitas seksual yang terpaksa. Akibat dari proses kurangnya pematangan seksual ini sering kali menimbulkan permasalahan tersendiri bagi remaja perempuan.

4. Kurangnya pengetahuan tentang seks dan konsepsi

Peningkatan aktivitas seksual remaja tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan tentang fungsi seksual, control kehamilan dan pro-creation. Remaja juga kurang memahami tentang masa rentan dalam siklus menstruasi. Hal ini yang menyebabkan remaja kurang dapat menyesuaikan aktivitas seksual dengan masa subur dalam siklus haidnya.

5. Misuse atau kontrasepi

Remaja kurang mengetahui metode kontrasepsi yag spesifik dan penggunaan kontrasepsi yang tepat.

6. Kurangnya maturitas dan orientasi masa depan

Perencanaan masa remaja minimal. Mereka kurang bisa berfikir tentang akibat dari aktivitaas seksual mereka. Walaupun jika melihat dari perkembangan kognitif mereka, remaja sudah dapat memikirkan akibat dari tindakan yang dilakukan.