Beranda Seputar Kesehatan Public Health FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KELUARGA

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KELUARGA

530
30

Ancaman kesehatan keluarga dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor keturunan, pendidikan/pengetahuan keluarga tentang sehat dan sakit, faktor ekonomi keluarga yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi dan pemilihan fasilitas pelayanan kesehatan, faktor lingkungan, dan faktor budaya/kebiasaan yang melekat yang merugikan kesehatan (Effendy, 1998).

Dari hasil penelitian didapatkan 27 dari 47 keluarga beresiko terhadap penyakit yang dapat diturunkan, akan tetapi sebagian besar keluarga tidak mengetahui bahwa predisposisi genetik/keturunan merupakan faktor resiko dari penyakit tersebut. Menurut Potter & Perry (2005), padahal mengidentifikasi faktor resiko sangat berperan penting, dalam pelaksanaan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit tersebut dengan mengupayakan perawatan kesehatan preventif secara rutin (Notoatmodjo, 2003). Penyakit menular hanya sedikit yang ditemukan dalam keluarga, oleh karena itu ketika ditanya bagaimana proses penularan penyakit, ternyata kebanyakan keluarga kurang memahami dan tidak mampu untuk menjelaskan bagaimana penyakit dapat menular kepada anggota keluarga yang lain. Selain itu, keluarga merasa belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga dengan baik tetapi bukan karena jumlah anggota yang besar. Kesulitan ini dihadapi karena pekerjaan kepala keluarga yang sebagian besarnya adalah wiraswasta dengan penghasilan yang tidak menentu, seperti pendapatan petani yang melonjak ketika panen, dan rendah pada hari-hari biasa.

Bentuk kecelakaan keluarga terbanyak adalah kecelakaan jatuh yang sering terjadi pada anak-anak dan luka berkendaraan pada orang dewasa, luka sayat hanya sedikit yaitu pada kaum ibu ketika menggunakan peralatan dapur, dan tidak ditemukan kecelakaan keracunan pada keluarga yang diteliti. Untuk usaha pencegahan kecelakaan dilakukan oleh hampir semua keluarga dengan lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

Situasi Krisis, Hasil penelitian tentang gambaran situasi krisis dalam keluarga di Desa Ilie Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh pada 47 responden pada umumnya berada pada kategori tinggi (55,3%) yaitu 26 responden dan kategori rendah (44,7%) yaitu 21 responden. Krisis keluarga sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara permintaan dengan sumber-sumber keluarga dan upaya koping keluarga. Keluarga memiliki tantangan untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ditiap tahap perkembangan keluarga sehingga dapat mencapai tahap perkembangan selanjutnya. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 19 pasangan mengalami kesulitan dalam perubahan perandan 13 pasangan ketergantungan pada keluarga asal diawal perkawinan dari 47 pasangan yang diteliti. Kesulitan pada awal perkawinan dikarenakan suami/istri memiliki latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadi yang berbeda. Ketergantungan pada keluarga asal terjadi pada pasangan yang menikah muda yang masih membutuhkan orang tua dan pada beberapa kasus, ketergantungan tersebut bersifat duaarah. Artinya, anak menjadi sumber sense of self dari orang tua (karena keberadaan anak membuat dirinya merasa berguna, dibutuhkan, berarti), sehingga orang tua ingin terus berperan sebagai orang tua yang menentukan kehidupan anak meskipun sang anak telah dewasa dan berkeluarga.

Keluarga mengalami krisis terbesar saat ibu hamil dan persalinan, walaupun keluarga memberi dukungan yang cukup, tetapi perubahan yang drastis ini menimbulkan kecemasan yang besar pada ibu, terutama bagi ibu yang memiliki riwayat persalinan sulit, mereka memiliki kekhawatiran yang besar untuk persalinannya juga kehamilan berikutnya. Hanya sebagian kecil keluarga yang memberikan pendidikan seksual kepada anak yang telah remaja. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas. Remaja cenderung memiliki tingkat seksual yang tinggi sehubungan dengan mulai matangnya hormon seksual dan organ- organ reproduksi. Pendidikan seks yang paling ideal adalah bisa dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan remaja itu sendiri, yaitu keluarga. Dalam hal ini pihak orang tua, yaitu ayah dan ibu yang diharapkan bisa lebih dini secara aktif memberikan informasi dan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan persoalan seksualitas sebagai upaya pencegahan terhadap terjadinya prilaku penyimpangan seksual pada remaja.

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Untuk krisis situasional (seperti kehilangan anggota keluarga, abortus, kehilangan perkerjaan dan pindah rumah) tidak banyak keluarga yang mengalaminya, dan kebanyakan dari keluarga tersebut pun mampu malewatinya dengan baik. Sifat kekeluargaan dan gotong royong yang masih sangat membudaya di desa ini lah yang menjadi sistem pendukung sosial yang merupakan strategi koping keluarga eksternal yang paling utama.

Referensi

Friedman dkk. (2003). Buku Ajar Keperawatan Keluarga (Riset, Teori dan Praktik). Jakarta: EGC

Friedman, Marilyn. (1992). Keperawatan Keluarga (Teori dan Praktik). Jakarta:EGC

Meilani, Niken dkk. (2009). Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya