Beranda Gaya Hidup AYAH DAN JANJI

AYAH DAN JANJI

245
8

Kring…. kring…. Kring….. Bunyi jam weker telah berdering tepat pukul 05.00 pagi. Disebuah rumah kayu, seorang pria dengan tubuh kurus dan kumis tipis terbangun dari bunga mimpi. Nampak kerut dahi jelas terlihat dengan sarung menyelimuti di bajunya. Iya,  Tidak ada waktu baginya untuk bersantai – santai. Dia sedang mempersiapkan daganganya untuk dijual hari ini. Karena dia adalah seorang ayah yang sedang banting tulang untuk menafkahi 3 anaknya, nama anak tersebut adalah Danu, andre, dan siska. Istrinya telah lama meninggal 4 tahun yang lalu karena melahirkan anak bungsu. Oleh karena itu semua kubutuhan keluarga dan sekolah berada di pundak sang ayah. Ayah sedang menyiapkan makanan seadanya untuk sarapan anak-anaknya. Kemudian ayah membangunkan ketiga anaknya yang tidur pulas itu untuk makan. Anak-anak itu kemudian menikmati sarapan yang diberikan ayahnya. Selepas sarapan Anak pertama berbicara pada ayahnya dengan nada lemah lembut meminta sesuatu

Ayah bolehkah Danu minta dibelikan sepatu baru, karena sepatu Danu sudah robek.”  ungkap Danu yang merupakan anak pertama.

Ayah kemudian melihat sepatu Danu yang terpajang dirak dan benar sepatu yang akan dipakai anaknya telah banyak memiliki sobekkan. dengan rasa bersalah sang ayah menjawab anaknya Danu

“Danu, ayah minta maaf, karena ayah sekarang belum punya uang yang cukup untuk membelikan Danu sepatu baru. Kamu pakai saja sepatu yang saat ini kamu akan kenakkan.” jawab ayah dengan rasa bersalah.

“tapi Danu ingin sepatu baru … Danu tidak mau diejek sama teman – teman Danu.” Balas Danu dengan Nada merayu.

“Danu… ayah belum punya uang, ayah hanya penjual sayur mayur dan penghasilan ayah tidak banyak” jawab ayah menjelaskan ke anaknya.

“ Baiklah Ayah” jawab Danu dengan hati lelas.

Matahari pun mulai menampakkan dirinya. Tepat pukul 06.30. Yang atinya ayah harus pergi berjualan. Sebelum pergi, Ayah menyampaikan sebuah janji kepada danu

“ Danu, ayah janji akan membelikan kamu sepatu kalau jualan ayah laku keras”  ungkap ayah.

“ Benarkah Ayah … janji … ?” jawab Danu dengan rasa penasaran.

“ Iya Danu Ayah janji. Sekarang ayo danu Segera pergi kesekolah jangan lupa Belajar dengan sungguh -sungguh” balas ayah dengan rasa Yakin

“ Baik ayah Terima kasih. Danu akan belajar dengan sungguh-sungguh” jawab Danu dengan perasaan gembira.

Tak lama Danu pergi kesekolah menggunakan sepatu lamanya yang robek itu, didalam lubuk hatinya berharap ia dibelikan sepatu baru sesuai yang dijanjikan ayahnya. Kemudian sang ayah lekas pergi kepasar untuk memperjualkan hasil daganganya. Sepeda onthel tua dia kayuh tanpa rasa lelah demi janji sepasang sepatu yang telah ia ucapkan kepada anaknya.

“laki-laki pantang untuk mengingkari janjinya” pungkas sang ayah dengan rasa semangat.

Setengah jam telah berlalu dan akhirnya ayah telah sampai ditempat jualnya. Sebuah lapak sederhana dengan tenda yang sedikit sobek. Tanpa membuang banyak waktu ia bergegas menyusun dan mempersiapkan dagangannya untuk dijual. Dari wotel, bayam cabai hingga bumbu masakan telah disiapkan dalam tenda lapak . Akhirnya sang ayah siap untuk berjualan. Dengan sabar ia menunggu calon pelanggan untuk membeli dagangannya.

Danu pun telah sampai disekolah. Danu menempuh pendidikan sekolah di SMPN 1 ujung manggis dan danu duduk dikelas 2 SMP. Ia sempat ragu untuk masuk ke sekolah karena sepatu yang ia kenakan sudah sobek, tetapi akhirnya Danu memberanikan dirinya untuk masuk lantaran Danu ingat dengan janji ayahnya yang ingin membelikan sepatu untuknya. Danu pun masuk ke kelas nya dengan biasanya.

Teman-teman Danu adalah teman yang sangat baik, saat Danu masuk ke kelas, teman Danu melihat sepatunya yang terlihat robek dan usang tetapi mereka tidak ingin mengejek Danu karena teman – temannya mengetahui dengan kondisi Danu. Namun tetap saja Danu merasa malu kepada teman-temannya dikarenakan Danu memakai sepatu yang tidak layak dipakai. Hari ini. Kelas Danu sedang melaksanakan ulangan harian pelajaran PPKN. Sebelum ulangan dimulai, ibu guru mempersilahkan anak muridnya untuk belajar selama 15 menit.

“ anak-anak sebelum ulangan dimulai ibu mohon kepada untuk belajar materi yang sudah ibu jelaskan pada anak murid sekalian. Ibu berikan waktu 15 menit, setelah itu ulangan akan segera dimulai.” ucap ibu guru mejelaskan dengan nada suara agak tinggi

“Baik Ibu guru.” jawab semua murid

Semua murid pun belajar dengan tekun dan Danu Pun menepati janjinya untuk belajar dengan sungguh – sungguh dan ketika selesai ulangan, Danu mendapatkan nilai tertinggi dikelasnya. Teman-teman Danu bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat atas nilai yang dimiliki Danu.

Waktu sudah menuju tengah hari, hari terasa terik tetapi jualan sang ayah tidak memiliki banyak pelanggan namun dengan tabah sang ayah tetap berjualan dengan optimis dagangannya akan habis terjual, dia tidak berkecil hati meski jualannya belum banyak yang laku. Ayah tetap pantang menyerah demi janjnya kepada sang buah hati.

Ya Tuhan lancarkanlah daganganku hari ini, aku sudah berjanji pada anakku untuk kubelikkan sepatu yang bagus untuknya kabulkan doaku ini Ya Tuhan.” sang ayah sedang berdoa kepada Tuhan agar dagangannya laku habis dan bisa membelikan anaknya sepatu baru.

Doa sang ayah akhirnya terwujud, tak lama dagangan sang ayah dikelilingi banyak pelanggan untuk membeli hasil jualan sang ayah. Alhamdulillah barang dagangan banyak yang laku terjual, dalam hati sang ayah nampak bersyukur dengan rezeki yang telah ia dapatkan. Waktu sudah menuju petang. Selepas shalat ashar ayah selesai berjualan, sang ayah menghitung hasil dagangan yang terjual dan Alhamdulillah uangnya cukup untuk membeli sepatu Danu. Sang ayah kemudian bergegas ke toko sepatu terdekat, dan membelikan sepatu yang paling bagus untuk buah hati tercintanya. Janji kepada anaknya sudah dia penuhi. Setelah itu ia segera bergegas pergi kerumahnya untuk memberikan hadiah kepada anaknya.

“Alhamdulillah Ya Tuhan aku bisa menepati janjiku, anakku pasti senang memakainya. Aku harus cepat pulang agar aku bisa memberikan sepatu ini kepada anakku Danu” Jawab ayah dengan rasa senang dihatinya.

Sang ayah terlihat sangat senang melihat sepatu yang ia baru beli. dengan semangat sang ayah mengayuh sepeda tuanya menuju rumahnya. Keringat bercucuran di keningnya tak lekas membuat dia lelah dan terus mengayuh demi sang buah hati. Jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore dan bunyi bel telah berbunyi tanda waktunya pulang sekolah. Danu lantas pulang menuju rumahnya, dengan hati yang berdebar-debar dia berjalan kaki. Dalam hati Danu, dia tidak sabar melihat sang ayah membawa sepatu baru yang dinanti-nantikan untuknya oleh karena itu Danu yang biasanya pergi bersama teman akrabnya, justru pergi duluan meninggalkan temannya tersebut

“ Ayah sudah berjanji denganku untuk membelikan sepatu baru, sebagai rasa terima kasih, Danu ingin menunjukan hasil ulangannku pada ayah agar ia senang.” Ungkap Danu dengan rasa gembira

Ayah Danu sudah sampai diperempatan jalan, suasana jalanan tampak ramai karena waktu itu bertepatan dengan jam pulangnya pegawai kantor. Sambil menunggu lampu hijau ia memandang kembali sepatu anaknya, tampak sepatu hitam dengan motif garis putih  dan bintang putih terukir jelas di sepatu itu, sementara itu secara bersamaan Danu melihat ayahnya berada di seberang Jalan. Kemudian Danu berteriak memanggil sang ayah

“ Ayah …!” teriak Danu memanggil ayahnya

Sang Ayah mendengar suara anaknya, kemudian menoleh kedepan jalan dan melihat anaknya sambil melambaikan tangan ayah kepada Danu. Tanpa memperhatikan arus lalu lintas, Danu pun berlari menghampiri untuk menemui ayahnya yang berada didepan jalan dengan rasa bahagia.

“ BRUAAAKKKKK . . . . !!!”  terlihat sangat jelas mata sang ayah melihat Danu ditabrak sangat keras oleh mobil sedan dengan kcepatan tinggi, Danu terpental cukup jauh  sejauh 20 meter dari lokasi, pengguna kendaraan berlarian menyelamatkan anak itu  yang sudah tergeletak tidak berdaya di tengah jalan. pengemudi mobil  melarikan diri meninggalkan Danu yang bersimbah darah. Sang ayah kemudian terdiam sejenak dengan tatapan kosong dan …

“DANUUUU….. !!!” teriak sang ayah dengan syok ….

“ DANUUU …. MINGGIR ITU ANAKKU, DANUUU…!!!” teriak Sang ayah menghampiri anaknya di lokasi kejadian, sang ayah tak kuasa menahan rasa sedih.

darah bercucuran keluar dari kepala Danu, kondisinya sangat mengenaskan dengan tangan dan kaki yang nyaris putus akibat kecelakaan tersebut, dipastikan Danu tidak bisa diselamatkan akibat mengalami luka yang cukup serius. Dalam keadaan sekarat Danu dipeluk erat oleh ayahnya. Air mata tidak terbendung melihat anaknya tidak lama lagi akan meninggal dunia.

“ ayah … apakah Danu sudah mati …? ” ucap danu dengan nada sangat pelan

“ Tidak jangan bicara Danu … ayah disini, kamu sudah tidak apa-apa, ayah ada disamping kamu. Seseorang tolong panggil Ambulans …! ” jawab ayah dengan berlinang air mata

Tidak apa – apa ayah, Danu tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Danu sudah tidak bisa merasakan tangan dan kaki Danu” ucap Danu sambil memberikan dukungan kepada ayahnya.

“ Ayah … bisakah ayah mengambilkan tas Danu, ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan kepada ayah …” jawab Danu

Sang ayah pun mengambil tas Danu dan melihat hasil ulangan Danu, ayahnya pun semakin sedih melihat hasil ulangan Danu mendapatkan nilai yang sangat baik.

“ Ayah… , Danu mendapatkan …. nilai tertinggi dikelas … Danu belajar dengan sungguh-sungguh , Danu sudah … menepati janji dengan … ayah.”  Jawab Danu dengan nada tersengal-sengal.

“ Bagus Danu Ayah sangat bangga kepadamu… kamu adalah anak yang sangat pintar, ayah sudah janji, lihat … ayah sudah membelikan sepatu baru untukmu. ayah mohon padamu jangan meninggal nak …” jawab ayah dengan sangat bangga. Bercampur sedih.

“ sepatunya bagus sekali … ayah, Danu … sangat bahagia sekali melihatnya. ( Danu memeluk sepatu itu ) Janji ayah dengan Danu sudah terpenuhi…, akhirnya … Danu bisa pergi dengan tenang … Ayah, Danu minta tolong kepada Ayah agar hati-hati disana, titip salam dengan adiik-adik, dan Sepatu Danu, bisa agar dipakaikanb oleh adik Danu agar  menjadi kebaikan buat ayah dan Danu …, Selamat tinggal … terima kasih ayah …” Ucap Danu, terbatah batah. Dan menghembuskan nafas terakhirnya

“ tidak Danu, Jangan tinggalkan Ayah…!” Ucap ayah dengan isak tangis tiada henti.

Danu akhirnya meninggal di pelukan sang Ayah dengan senyum manis memeluk sepatu yang dia pegang. Janji Antara anak dan Ayah telah terpenuhi meskipun Sang Anak tidak sempat memakai sepatu barunya itu, namun sesuai permintaan terakhirnya sepatu itu akhirnya dipakai oleh adik keduanya dan menjadi kebaikan terakhir sang kakak dengan adiknya.

TAMAT ….

#Penulis Ferdino Cahya Adiputra

8 KOMENTAR

  1. Waw sangat menarik dan juga ceritanya menginspirasi
    Semangat terus mas ferdino
    Kembangkan bakatmu dan semoga dapat memotifasi banyak orang dan berguna bagi nusa dan bangsa sekaligus agama. Good luck.

  2. Teruslah menulis hingga karyamu dapat dilihat banyak orang dan juga diakui hingga membuat banyak orang termotifasi akan karyamu dan juga
    Semoga karyamu dapat berguna bagi banyak orang
    Semangat mas ferdino

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here