9.3 C
Munich
Rabu, Oktober 28, 2020
Beranda blog

PRIORITAS KESEHATAN MANUSIA

46

Kehidupan penuh dengan berbagai macam cobaan dan memiliki sebuah kerentangan dalam setiap unsur, salah satunya adalah kesehatan. Kesehatan sangat penting bila dilihat dari sebuah kebutuhan manusia, bahkan dalam “teori hirarki kehidupan” memaparkan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang utama adalah kebutuhan fisiologis yang ditinjau dari factor fisiologi. Kesehatan erat kaitannya dengan berbagai macam pembangunan seperti sarana dan prasarana yang menunjang dalam melakukan atau mencari kesehatan. Sering kita mendengar bahwa masih banyak daerah yang memiliki minim fasilitas kesehatan sehingga mereka rentan terserang penyakit. Ini semua ditinjau dari manusia adalah actor utama dalam pembangunan suatu negara, dengan melihat bahwa semangkin baiknya program dan sarana kesehatan yang baik dengan harapan kesehatan masyarakat tercapai maka negara memiliki pusat pembangunan yang optimal.

Manusia adalah kekayaan bangsa yang sejati, pembangunan manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir pembangunan, bukan alat pembangunan. Oleh karena itu, manusia selalu menjadi sasaran pembangunan suatu bangsa. Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia untuk menikmati umur panjang, sehat, dan produktif. Pembangunan seringkali dikonseptualisasikan sebagai upaya perubahan dari satu kondisi sosial ke kondisi sosial lainnya yang dianggap lebih baik oleh pihak-pihak (yaitu pelaku pembangunan) yang ingin melakukan perubahan. Dalam pengembangan ini standar atau parameter yang harus dicapai setelah proses perubahan dilakukan sudah ditentukan terlebih dahulu. Untuk mencapai standar yang diharapkan, tentunya membutuhkan perencanaan. Karenanya, pembangunan sering disebut sebagai perubahan sosial terencana. Dalam konteks pemerintahan yang dimaksud dengan agen pembangunan disini adalah Pemerintah.

Kampanye Sosial Media: Saatnya Kaum Millenial Cerdas Memilih dan Anti Money Politic

8

Oleh: Alaika M. Bagus Kurnia PS
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Pada akhir tahun nanti, pemilihan kepala daerah akan serentak dilaksanakan di beberapa provinsi maupun kabupaten atau kota. Ada satu opini masyarakat yang sudah mendarah daging. Money Politic atau politik uang. Rasanya tidak sah bagi pemilih apabila uang tidak hinggap ditangannya. Celetuk dari salah satu warga Surabaya,”Gak ono duite yo males nyoblos”. Ulasnya. Yang artinya tidak ada uang, maka mereka enggan untuk memilih.

Opini diatas merupakan contoh yang nampaknya tradisi memberi (take and give) sulit rasanya untuk dieliminasi(Hariyani 2018) dalam rangka melangsungkan pesta demokrasi tersebut. Hariyani juga menawarkan sebuah solusi dalam artikelnya. Dengan menerapkan kampanye politik yang santun dapat menggerus aktivitas money politic.

Aktivitas politik uang apabila ditarik kebelakang, akan memunculkan skema indikator kelahirannya. Faktor utama yang memunculkan praktik money politic adalah adanya kepentingan dari masing-masing pihak(Ghazali 1990) dan sekaligus keberadaan perhelatan demokrasi yang sudah barang tentu memerlukan biaya tinggi(Holish and Rohmat 2018). Maka tidak jarang praktik money politik terjadi dalam praktik pesta demokrasi karena kedua induk faktor tersebut. Selanjutnya, keberadaan money politic juga menjadi pemicu hilangnya esensi bernegara. Pada akhirnya masyarakat-lah yang seharusnya memegang kekuasaan penuh atas kedaulatan negara. Namun sangat disayangkan, secara tidak sadar hak kedaulatannya dilepaskan begitu saja.

Pola pemikiran tersebut, apabila masyarakat cerdas memilihnya, maka ia tidak serta merta merelakannya dengan berhitung selama periode kinerja kepala daerah. Bayangkan ketika ada janji calon pimpinan daerah terkait satu pemilih akan diberi uang dengan jumlah yang ditentukan. Misalkan Rp. 150.000,- tiap pemilih. Secara tidak sadar mereka sudah merelakan hak pilih dan kuasanya atas pimpinan daerah yang ditunjuknya. Ketika harga suara tersebut hanya 150.000 untuk 5 tahun ke depan dalam satu periode, maka nasib rakyat daerah atas kemakmuran dan kesejahteraannya belum bisa dijamin. Kenihilan jaminan tersebut disebabkan atas keabsahan pimpinan daerah membeli hak rakyatnya dengan harga Rp.150.000,-. Apabila hanya dihitung melalui angka matematika, dalam 5 tahun x 12 bulan = 60 bulan. Maka uang yang tadinya Rp. 150.000,- : 60 bulan (selama 5 tahun) akan memunculkan hasil Rp.2.500,- dalam satu bulan. Harga kesejahteraan masyarakat dalam satu bulan, tidak sebanding dengan harga diri kedaulatan pada esensinya.

IMPLEMENTASI SEBUAH KEBIJAKAN

83

Implementasi kebijakan merupakan salah satu tahapan dalam keseluruhan proses kebijakan, yaitu tahapan perumusan, tahapan implementasi, dan tahapan evaluasi yang berlangsung dalam suatu sistem kebijakan yang kompleks dan dinamis dan akan menentukan berhasil tidaknya suatu kebijakan. Selanjutnya menurut Van Metter dan Van Horn, implementasi kebijakan adalah tindakan yang dilakukan oleh individu atau pejabat atau pemerintah atau kelompok swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang dituangkan dalam keputusan kebijakan. Kemudian, menurut Bambang Sunggono, implementasi kebijakan merupakan upaya untuk mencapai tujuan tertentu dengan fasilitas tertentu dan dalam urutan waktu tertentu.. Proses implementasi kebijakan hanya dapat dimulai ketika tujuan kebijakan telah ditetapkan, program implementasi telah dibuat, dan dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan tersebut, Implementasi merupakan salah satu tahapan dalam Proses kebijakan publik biasanya implementasi dilakukan setelah suatu kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas, Lebih lanjut Afgan Gaffar menyatakan bahwa implementasi merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penyampaian kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat membawa hasil yang diharapkan (Reidha, 2018).

Kebijakan yang telah ditetapkan menjadi tidak berguna jika tidak dilaksanakan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh William Dunn bahwa kebijakan tidak akan berdampak dan tidak dapat mencapai tujuan dari kebijakan itu sendiri jika kebijakan tersebut tidak dilaksanakan. Menurut Dunn, proses implementasi kebijakan lebih penting dari pada keseluruhan serangkaian proses kebijakan. Hal ini dikarenakan tingkat keberhasilan suatu kebijakan akan ditentukan oleh kemampuan untuk mengimplementasikannya, walaupun dalam prosesnya terdapat berbagai permasalahan yang kompleks yang seringkali memiliki implikasi politik dan intervensi dari berbagai kepentingan. Oleh karena itu, sukses tidaknya suatu kebijakan yang telah ditentukan ditentukan oleh implementasinya dengan asumsi bahwa implementasi merupakan suatu rantai yang menghubungkan perumusan kebijakan dengan hasil kebijakan yang diharapkan. Menurut Mazmanian dan Sebastien, implementasi adalah implementasi dari kebijakan dasar berupa hukum maupun dalam bentuk perintah atau keputusan penting atau seperti keputusan pengadilan. Proses implementasi ini terjadi setelah melalui sejumlah tahapan tertentu seperti tahapan pengesahan undang-undang, kemudian keluaran kebijakan berupa keputusan pelaksana, dan seterusnya hingga penyempurnaan kebijakan yang bersangkutan. Benar dikatakan oleh Mazmanian, implementasi kebijakan merupakan rangkaian kebijakan publik selain perumusan dan evaluasi kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui proses politik, dan dilakukan secara terus menerus dalam melaksanakan tindakan yang simultan dan obyektif. Pembuat kebijakan publik dapat membuat perubahan atau menyesuaikan tujuan dan program yang dimodifikasi untuk meminimalkan hambatan dalam rangka mengubah situasi, meskipun mereka dianggap sebagai upaya ilegal oleh pejabat pelaksana dalam mengejar tujuan dan strategi dasar.

UPAYA TERAPEUTIK

1

Klinis seharusnya mempertimbangkan kisaran dari ekspresi pasien untuk merumuskan pemahaman pengalaman pasien dan untuk merefleksikan signifikansinya. Klinis mengingat norma dan klasifikasi pengalaman dan gejala yang mungkin relevan dengan sabar tetapi pada saat yang sama memungkinkan adanya karakter yang unik dari pengalaman pasien individu. Pada saat yang tepat, perawat dapat menawarkan informasi kepada pasien tentang pengobatan dan tindakan yang dilakukan agar tidak menjadi kontra diksi dengan masyarakat seperti pemberian pemahaman tentang obat yang akan diberikan. Upaya dalam melakukan tindakan terpeutik dapat dilakukan dengan memberikan ketentuan yang menjadi dasar dalam pemberian pengobatan. Banyak dikalangan masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang sehingga sebelum dilakukan tindakan maka wajib memberikan penjelasan, pemberian asuhan keperawatan pun mengedepankan upaya terapeutik dengan segera.

Dalam memberikan layanan yang optimal sebagai tenaga kesehatan harus bertindak sejara jelas dan lugas dengan mengedepankan rasa kemanusiaan yang memberikan impllikasi pada upaya menolong dengan segera. Secara garis besar pemberian dan norma kesehatan dalam pengobatan harus sejalan dengan kejadian dan kesakitan klien serta mengedepankan komunikasi sebagai bagian dalam membangun rasa saling percaya. Kekhawatiran saat ini seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya adalah saat para pasien yang mulai merasa enggan berkomunikasi dengan petugas medis atau tenaga kesehatan yang menanganinya dikarenakan adanya persepsi verbal abbuse oleh tenaga medis yang menghadapi mereka terhadap penyakit maupun keadaan kesehatan yang sedang mereka alami. Verbal abbuse ini tentunya sangat berpengaruh terhadap motivasi klien untuk menceritakan kondisi kesehatannya saat ini, ataupun sekedar konsultasi medis terhadap tenaga medis yang menanganinya karena adanya ketakutan akan peyampaian hasil kesehatan yang mengarah pada judging ataupun bukannya memotivasi psikologi klien untuk segera sehat. Akibatnya klien cenderung down/ pesimis. Dengan kata lain perlu diciptakannya komunikasi interpersonal yang baik antara petugas medis dengan klien agar tercipta suatu metode penyembuhan/ motivasi sehat dari segi psikologis pasien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terjadi antara petugas medis/ kesehatan dengan pasien. Komunikasi ini umumnya lebih terjalin akrab secara emosional karena mempunyai tujuan berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan. Petugas medis secara aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien dengan cara menunjukkan sikap mau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Selain itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak dia sadari sebelumnya tentang kondisi kesehatannya. Komunikasi terapeutik adalah suatu cara untuk membina hubungan yang terapeutik (menyembuhkan) yang di butuhkan untuk pertukaran informasi dan dapat digunakan untuk mempengaruhi perasaan orang lain. Komunikasi yang baik memang dituntut menjadi kompetensi di dunia pelayanan kesehatan. Petugas medis rumah sakit dituntut untuk memiliki keterampilan dalam berkomunikasi dengan pasien. Komunikasi terapeutik penting agar dapat memahami kondisi pasien yang dapat mempercepat kesembuhan pasien.

Referensi

Freud S. Repression. The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud, vol. XIV. London: Vintage Books; 2001.

ADAPTASI KOMUNIKASI EFEKTIF DITELAAH DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

3

Kesadaran manusia tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Kondisi komunikasi dalam konteks klinis ditentukan oleh niat peduli dan ketidaksetaraan hubungan, yang menyiratkan tanggung jawab khusus dari pihak klinisi. Model komunikasi hermeneutik konvensional mengusulkan pemeriksaan yang cermat terhadap konteks yang lain, dan upaya objektif untuk mendekati kesadaran mereka melalui interpretasi ekspresi mereka. Klinisi seharusnya mengesampingkan faktor subjektif tetapi memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan klinisnya. Teknik komunikatif harus memperhitungkan kerentanan emosional pasien muncul dari penyakit parah. Mendengarkan dengan penuh perhatian harus mengidentifikasi kecemasan khusus, dan perhatian dengan fraseologi bertujuan untuk menghindari tekanan lebih lanjut. Masalah ingatan, depresi dan trauma mungkin diharapkan, dan teknik wawancara harus cukup fleksibel untuk menawarkan pengendalian emosional jika perlu. Konsultasi harus bersifat terapeutik dalam perilakunya tetapi tidak boleh dimulai psikoterapi yang sebenarnya atau berusaha membongkar pertahanan pasien. Perspektif hermeneutik kontemporer menekankan letak kontekstual kesadaran perawat, dan mengusulkan model komunikasi sebagai bagian yang efektif dalam kesembuhan klien daripada sebagai interpretasi obyektif. Teori sistem berkontribusi pada pemahaman tentang pengaruh komunikasi konteks sosial. Dengan teorinya tentang tindakan komunikatif, dari dalam perspektif teori kritis, Habermas mengembalikan pengaruh kritik rasional dalam praktik komunikasi, tetapi juga sebagai pengatur etika, terutama melalui pengertian tentang martabat, kerentanan dan kebutuhan.

Komunikasi dalam konteks klinis telah ditelaah dan dikaji oleh filsuf, psikolog dan ilmuwan sosial bahwa komunikasi adalah syarat utama kesadaran manusia. Dalam situasi klinis, hubungan komunikatif adalah sesuatu yang spesial, terbatas pada fokusnya pada tujuan tertentu yang dalam pelayanan merawat pasien dan bertindak secara positif menuju peningkatan kesehatan mereka. Itu hubungan juga tidak setara. Satu pihak dalam hubungan tersebut menempati posisi istimewa ‘mengetahui lebih baik’ dari pada yang lain tentang fungsi objektif dari tubuh klien; dan bahkan untuk tujuan tertentu dari pikiran klien, sedangkan yang lain, pasien, dibatasi ke dalam hubungan ketergantungan karena fakta penyakit mereka dan pada sebagian besar kasus pemahaman mereka yang kurang tentang proses patologis yang mendasari dan mempertahankannya dan tentang implikasi pengobatan.

Begitu juga dengan sebuah pelayan prima yang sangat mengedepankan pada komunikasi sebagai bagian dari pemebian jasa yang efektif dalam proses memberikan asuhan keperawatan. Komunikasi yang efektif memberikan sikap dan perilaku hingga emosi dari klien berdampak positif, sebagai contoh seorang perawat merawat pasien dengan mengedepankan komunikasi efektif akan memberikan rasa diperhatikan dari klien. Sudah jelas bahwa dalam paparan HL Bloom pun berargumen bahwa skema cinta dan kasih sangat dibutuhkan oleh setiap individu sehingga akan menyebabkan terjadinya rasa dihargai oleh sesama.

<--nextpage--!>

Para hermeneutis (studi mengenai pemahaman atau the study of understanding) abad kesembilan belas (filsuf interpretasi dan komunikasi) menyimpan dengan studi dekat konteks sejarah dan budaya di mana seseorang berbicara atau mengekspresikan diri mereka sendiri dalam upaya untuk mengidentifikasi tingkat kepedulian dan mencapai sebuah empati. Ini telah menjadi model komunikasi konvensional dalam situasi klinis. Klinisi melakukannya terbaik untuk mencapai pemahaman tentang sosial pasien dan situasi budaya dan sejarah sosial dan pribadi mereka, dalam upaya memperkirakan permasalahan yang terjadi pada pasien, dan karenanya diartikan sebagai komunikasi efektif sebagai bagian dalam memperoleh data seakurat mungkin. Di Unit Perawatan Kritis itu sendiri, staf menghadapi hambatan tertentu sehubungan dengan interpretasi komunikasi pasien, karena mereka seringkali tidak mampu untuk berbicara dan terlalu lemah untuk menulis. Di klinik masalahnya lebih berkaitan dengan kepekaan topik, emosi yang rapuh, dan kerentanan fisik dan psikologis.

Pada model interpretasi empatik terhadap pemahaman seseorang, prosesnya diharapkan bersifat objektif mungkin, dan menganggap semua ucapan dan ekspresi manusia sebagai ‘objektifikasi pikiran’, artinya, sebagai objek tekstual yang mampu interpretasi untuk mencapai akses ke kesadaran pengalaman orang lain. Menurut Ini model objektivitas, perawat seharusnya mengesampingkan pengaruh subjektif di jalan prakonsepsi, prasangka dan sumber kesalahpahaman yang berasal situasi budaya, sejarah, sosial atau generasinya sendiri. Di sisi lain, dia diharapkan untuk membawanya pemahaman klinis; konsekuensi dari studinya tentang ilmu klinis dan pengalaman klinisny kedalam proses komunikasi untuk kepentingan pasien, karena itu adalah pemahaman perawat tentang masalah ini dan tanggung jawabnya untuk kesejahteraan pasien yang membentuk tujuan nyata dari komunikasi tersebut.

Komunikasi dapat bersumber pada subyektif namun sebagai tenaga keseshatan yang telah dibekali dengan keilmuan klinis harus bisa menempatkan dirinya dalam komunikasi obyektif tanpa adanya pengaruh pemikiran yang akan menyebabkan pikiran klinis atau penyakit tidak dapat ditelaah, sebagai contoh pada dunia medis kita harus bisa berfikir secara real dengan kaidah keilmuan sehingga pola pikir tidak akan terkontaminasi oleh sesuatu yang bersifat tidak logis. Nah, dengan demikian tenaga kesehatan terutama perawat harus mampu mendorong keluarga dan klien untuk memberikan penyatakaan tentang kesakitannya secara factual dan dengan didorong oleh permasalahan yang terjadi.

References

Campbell AV. Dependency the foundational value in medical ethics. In: Fulford KMW, Gillett G, Soskice JM, editors. Medicine and moral reasoning. Cambridge: Cambridge University Press; 1994.

Conway MA. Disorders of episodic memory. In: Ridley S, editor. The psychological challenges of intensive care. Oxford: Blackwell; 2005.

STIGMA HIV/AIDS DI KALANGAN REMAJA

4

Penyakit dari infeksi HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan masalah kesehatan yang tersebar di dunia dalam dewasa termasuk berada di negara Indonesia sudah tidak asing lagi pada penyakit tersebut. Masalah perkembangan yang berhubungan dengan HIV/AIDS adalah angka persentase dimana yang melonjak pada kasus kematian yang terus menerus meningkat. Jadi, orang yang terkena virus dapat lebih rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun semacam terkena tumor yang lainnya. Namun, yang telah ada dapat terjadi untuk memperlambat laju mengenai virus tersebut. Tetapi menurut informasi penyakit ini belum benar-benar untuk disembuhkan. Penularan terjadi melalui hubungan seks, transfusi darah, jarum suntik yang sudah terkontiminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan dan bersalin serta cairan-cairan dalam tubuh yang sudah terinfeksi tersebut.

Dari kejadian tersebut mengenai HIV/AIDS lebih rentan terjadi pada kalangan remaja. Dimana dalam keadaan emosionalnya yang masih labil dan masih berkeinginan untuk mecoba melakukan hal hal yang baru dengan sangat tinggi. Dapat terjadi kemungkinan sekali pada anak kalangan remaja ini mencoba melakukan hal-hal yang baru dengan mudah terjerumus kearah HIV/AIDS ataupun hal lainnya. Namun, ini dibutuhkan informasi yang banyak dengan akurat bahwa anak pada kalangan remaja agar dapat dipahami oleh mereka mengenai virus HIV/AIDS dan bagaimana cara pencegahannya.

Dalam kasus AIDS tersebut masih tertinggi terdapat kelompok/kalangan anak muda (remaja) dengan persentase berkisar 50%. Untuk meningkat sendiri ialah jumlah kalangan remaja pengidap HIV/AIDS kemungkinan karena kertebatasan akses informasi/pengetahuan yang belum dipahami dan layanan kesehatan yang berdampak sangat rendah pengetahuan tentang HIV dan AIDS. Menurut KPA(2011) itu sendiri mengenai pemahaman kalangan remaja tentang HIV dan AIDS yang masih sangat minim berada di negara Indonesia, padahal kalangan remaja tersebut termasuk kelompok/golongan usia yang rentan dengan perilaku yang berisiko.Amgka dar persentase sendiri pada usia remaja ialah (15-24 tahun) yang masih mampu demgam memberikan jawaban yang benar dan tepat mengenai cara-cara dari pencegahan penularan HIV dan AIDS serta dengan menolak untuk memahami yang salah mengenai dalam penularan HIV dan AIDS yang hanya berkisar sebesar 14,3 %.

PENTINGNYA ARTI CUCI TANGAN

1

Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya termasuk perilaku kesehatan. Perilaku mempunyai dampak terhadap derajat kesehatan yang cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat melalui program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan (Promkes) dengan ditetapkannya visi nasional Promkes sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.1193/ MENKES/ SK/ X/ 2004 yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010.

PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan, dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS juga perlu dilakukan di tatanan institusi pendidikan atau sekolah yang merupakan salah satu bentuk perwujudan paradigma sehat yang diterapkan di institusi pendidikan atau sekolah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat terutama anak sekolah dasar yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Penyebaran penyakit-penyakit menular seperti diare, ISPA dan Flu Burung hingga Covid 19 yang merupakan penyebab kematian pada anak dapat dengan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang merupakan salah satu komponen dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) semua proses tersebut diharapkan dapat menekan angka kesakitan atau bahkan kematian. Tangan adalah salah satu area jalan masuknya penyakit infeksi, maka mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun sebaiknya rutin dilakukan. Penyakit infeksi mempunyai dua jalan masuk ke tubuh manusia, yaitu melalui tangan dan hidung. Jika manusia mencuci tangan sampai bersih secara rutin, maka otomatis mata rantai penyakit infeksi yang masuk melalui tangan akan putus.

MENGENAL HIV/AIDS SECARA BIJAK

0

Permasalahan sosial semakin hari semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu permasalahan yang menjadi masalah dunia dan memerlukan penanganan serius adalah masalah HIV/AIDS. Selain HIV/AIDS, persoalan lain yang ada dikalangan masyarakat adalah keterbatasan sumber daya pembiayaan bagi kegiatannya, kemerosotan karakter, pergaulan bebas, narkoba, pemerkosaan, eksploitasi pekerja anak, kerusuhan sosial, dll.

Sampai saat ini, hidup manusia masih dianggap sebagai teka-teki” yang mengusik alur budi manusia. Walaupun demikian, ada satu yang pasti, yaitu bahwa hidup manusia bisa disorot dari pelbagai disiplin. Pengalaman universal dan refleksi rasional, menurut D. Tettamanzi, menunjukkan bahwa hidup manusia pada dasarnya adalah baik, sesuatu yang bernilai dalam dirinya dan dalam hubungan dengan sesama dan lingkungannya. Dalam terang iman-kepercayaan, hidup manusia dipahami sebagai anugerah istimewa yang berasal dari Allah Pencipta. Hidup manusia adalah milik Sang Pencipta, sedangkan hak pakai berada dalam tangan manusia.

Yang memprihatinkan adalah anak-anak di bawah usia lima tahun telah mengidap infeksi ini karena kesatuannya dengan ibu (dan ayah) pengidap virus ini. Menurut Elizabeth A. Preble, dalam tulisannya tentang AIDS di kalangan anak-anak Afrika selama tahun 1990-an, AIDS telah merenggut 1,5 hingga 2,9 juta kaum perempuan dalam usia produktif di kawasan negara-negara Afrika Timur. Dalam waktu yang sama telah muncul sekitar 3,1 sampai 5,5 juta anak-anak yatim-piatu yang terjangkit HIV. Jumlah ini sangat banyak sekali.

PENTINGNYA PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUALITAS PADA REMAJA

1

Remaja adalah suatu dimana masa yang akan di alami oleh individu semasa hidupnya. Banyak yang bilang bahwa pada masa remaja, dimana individu akan mulai mencari dan menemukan jati diri, serta mengenal berbagai macam hal. Masa ini menjadi salah satu umur dimana individu mulai mempunyai daya dan produktifitas yang tinggi. Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia), remaja adalah masa peralihan dimana masa dari kanak-kanak ke masa dewasa.pada Masa ini dimulai usia 12 tahun sampai usia 24 tahun. tetapi, bila dalam memasuki usia ini, mereka sudah bersetatus kawin dan sudah mandiri, maka bisa dikategorikan tidak remaja lagi.

Berkaitan dengan pengetahuan yang perlu diketahui oleh remaja, pemahaman perihal kesehatan reproduksi wajib diberikan pada masa ini. Remaja harus mengetahui bahwa pada masa remaja, mereka akan mengalami pubertas yang merupakan waktu tubuh anak-anak berubah menjadi tubuh yang dewasa dan sudah bisa bereprosuksi. Reproduksi yaitu dimanana proses individu dapat menghasilkan keturanan demi kelestarian hidupnya. Remaja terutama laki-laki yang sudah mengalami mimpi basbasah dan perempuan yang sudah mengalami menstruasi berarti perempuan tersebut sudah bisa be reproduksi.

Oleh karena itu, para remaja perlu memahami dengan sangatv baik cara menjaga dan merawat kesehatan reproduksi atau organ intim mereka. Selain itu, pada masa pubertas, remaja juga perlu memahami perubahan yang terjadi pada fisik hingga emosi atau mental mereka. Pemahaman tentang perubahan fisik diperlukan oleh laki-laki dan perempuan, baik memahami perubahan pada diri sendiri maupun lawan jenis. Perubahan fisik seperti alat reproduksi yang membesar, menghasilkan sperma (laki-laki) atau sel telur (perempuan), hingga tanda perubahan fisik lain harus sudah diketahui agar remaja tidak kaget dan bisa menjaga pola hidupnya dengan baik dan sehat.

Perubahan emosi dan mental juga perlu dipahami dengan baik oleh remaja. Perubahan yang muncul pada masa remaja seperti lebih sensitif, hingga ketertarikan pada lawan jenis harus dipahami dengan baik agar remaja dapat mengontrol hal tersebut dan tidak mengganggu aktivitas, serta masa depan mereka. Selain memahami perubahan-perubahan yang terjadi, remaja juga perlu mengetahui cara menjaga kesehatan reproduksi mereka dan perlu diterapkan setiap hari. Usia remaja merupakan pergantian dari usia kanak ke dewasa yang mengaitkan perubahan dari segi aspek seperti biologis dan psikologisnya. Dalam keadaan ini seringkali cenderung menjalani penyimpangan norma. Remaja akan melakoni proses ketidak mampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, khususnya terkait pertemanan.

RINGKASAN KOMUNIKASI EFEKTIF

0

Perawat menggunakan konsep caring dalam praktik keperawatannya yang berarti seorang perawat harus mampu melakukan pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien. Keliat menyatakan bahwa dasar dari perilaku caring seorang perawat adalah komunikasi yang terapeutik dan efektif yang berarti seseorang perawat harus mampu berkomunikasi secara baik guna meningkatkan adaptasi individu atau keluarga untuk membantu mengatasi stress fisik dan emosional serta belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Komunikasi efektif yang dilakukan perawat kepada keluarga dapat meningkatkan  pengetahuan pasien dan keluarga sehingga dapat meningkatkan kemampuan adaptif klien dan keluarga. 

Proses meningkatnya pemahaman keluarga dan pasien terhadap informasi yang diberikan perawat dapat membantu perawat secara tidak langsung dalam segala proses pelaksanaan tindakan kepada pasien seperti membantu memberikan informasi tentang aktivitas pasien, keluhan yang dialami, termasuk diantaranya secara tidak langsung membantu perawat dalam melakukan observasi tindakan yang telah diberikan kepada pasien, dengan adanya dukungan keluarga dalam tindakan medis yang diberikan kepada pasien akan membantu dalam mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan serta memudahkan proses evaluasi tindakan yang diberikan.

Komunikasi adalah penyebab pertama masalah keselamatan pasien (patient safety). Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Komunikasi yang efektif yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima mengurangi kesalahan dan meningkatkan keselamatan pasien. Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune”, yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan

Komunikasi efektif dapat meningkatkan kemampuan adaptif dari klien dan keluarga yang merupakan tujuan utama dari asuhan keperawatan profesional. Hal ini sejalan dengan teori pencapaian tujuan yang diutarakan oleh. Berdasarkan teori pencapaian tujuan (Goal Attaintment) mengatakan bahwa komunikasi adalah aspek penting untuk tercapainya suatu tujuan keperawatan dimana dalam mencapai tujuan (transaction) perlu melewati fase interaksi (interaction) antar individu, dan sebelum dapat tercapainya interaksi yang baik maka perlu dilakukan pengkajian lebih dalam untuk menentukan cara, waktu, dan isi dari interaksi yang akan diberikan dengan mengenal reaksi (reaction) yang didapatkan sebelumnya.

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi efektif bukan merupakan pekerjaan yang dapat dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja dan merupakan tindakan profesional yang secara tidak langsung melibatkan pasien dan keluarga. Oleh karena itu tingkat keberhasilan komunikasi efektif yang telah perawat lakukan kepada pasien dan keluarga perlu untuk diukur serta perlu dikembangkannya suatu modul komunikasi efektif yang lebih baik agar kualitas pelayanan keperawatan tetap adekuat