Beranda Seputar Kesehatan Public Health ADAPTASI KOMUNIKASI EFEKTIF DITELAAH DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

ADAPTASI KOMUNIKASI EFEKTIF DITELAAH DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

358
4

Kesadaran manusia tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Kondisi komunikasi dalam konteks klinis ditentukan oleh niat peduli dan ketidaksetaraan hubungan, yang menyiratkan tanggung jawab khusus dari pihak klinisi. Model komunikasi hermeneutik konvensional mengusulkan pemeriksaan yang cermat terhadap konteks yang lain, dan upaya objektif untuk mendekati kesadaran mereka melalui interpretasi ekspresi mereka. Klinisi seharusnya mengesampingkan faktor subjektif tetapi memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan klinisnya. Teknik komunikatif harus memperhitungkan kerentanan emosional pasien muncul dari penyakit parah. Mendengarkan dengan penuh perhatian harus mengidentifikasi kecemasan khusus, dan perhatian dengan fraseologi bertujuan untuk menghindari tekanan lebih lanjut. Masalah ingatan, depresi dan trauma mungkin diharapkan, dan teknik wawancara harus cukup fleksibel untuk menawarkan pengendalian emosional jika perlu. Konsultasi harus bersifat terapeutik dalam perilakunya tetapi tidak boleh dimulai psikoterapi yang sebenarnya atau berusaha membongkar pertahanan pasien. Perspektif hermeneutik kontemporer menekankan letak kontekstual kesadaran perawat, dan mengusulkan model komunikasi sebagai bagian yang efektif dalam kesembuhan klien daripada sebagai interpretasi obyektif. Teori sistem berkontribusi pada pemahaman tentang pengaruh komunikasi konteks sosial. Dengan teorinya tentang tindakan komunikatif, dari dalam perspektif teori kritis, Habermas mengembalikan pengaruh kritik rasional dalam praktik komunikasi, tetapi juga sebagai pengatur etika, terutama melalui pengertian tentang martabat, kerentanan dan kebutuhan.

Komunikasi dalam konteks klinis telah ditelaah dan dikaji oleh filsuf, psikolog dan ilmuwan sosial bahwa komunikasi adalah syarat utama kesadaran manusia. Dalam situasi klinis, hubungan komunikatif adalah sesuatu yang spesial, terbatas pada fokusnya pada tujuan tertentu yang dalam pelayanan merawat pasien dan bertindak secara positif menuju peningkatan kesehatan mereka. Itu hubungan juga tidak setara. Satu pihak dalam hubungan tersebut menempati posisi istimewa ‘mengetahui lebih baik’ dari pada yang lain tentang fungsi objektif dari tubuh klien; dan bahkan untuk tujuan tertentu dari pikiran klien, sedangkan yang lain, pasien, dibatasi ke dalam hubungan ketergantungan karena fakta penyakit mereka dan pada sebagian besar kasus pemahaman mereka yang kurang tentang proses patologis yang mendasari dan mempertahankannya dan tentang implikasi pengobatan.

Begitu juga dengan sebuah pelayan prima yang sangat mengedepankan pada komunikasi sebagai bagian dari pemebian jasa yang efektif dalam proses memberikan asuhan keperawatan. Komunikasi yang efektif memberikan sikap dan perilaku hingga emosi dari klien berdampak positif, sebagai contoh seorang perawat merawat pasien dengan mengedepankan komunikasi efektif akan memberikan rasa diperhatikan dari klien. Sudah jelas bahwa dalam paparan HL Bloom pun berargumen bahwa skema cinta dan kasih sangat dibutuhkan oleh setiap individu sehingga akan menyebabkan terjadinya rasa dihargai oleh sesama.

<--nextpage--!>

Para hermeneutis (studi mengenai pemahaman atau the study of understanding) abad kesembilan belas (filsuf interpretasi dan komunikasi) menyimpan dengan studi dekat konteks sejarah dan budaya di mana seseorang berbicara atau mengekspresikan diri mereka sendiri dalam upaya untuk mengidentifikasi tingkat kepedulian dan mencapai sebuah empati. Ini telah menjadi model komunikasi konvensional dalam situasi klinis. Klinisi melakukannya terbaik untuk mencapai pemahaman tentang sosial pasien dan situasi budaya dan sejarah sosial dan pribadi mereka, dalam upaya memperkirakan permasalahan yang terjadi pada pasien, dan karenanya diartikan sebagai komunikasi efektif sebagai bagian dalam memperoleh data seakurat mungkin. Di Unit Perawatan Kritis itu sendiri, staf menghadapi hambatan tertentu sehubungan dengan interpretasi komunikasi pasien, karena mereka seringkali tidak mampu untuk berbicara dan terlalu lemah untuk menulis. Di klinik masalahnya lebih berkaitan dengan kepekaan topik, emosi yang rapuh, dan kerentanan fisik dan psikologis.

Pada model interpretasi empatik terhadap pemahaman seseorang, prosesnya diharapkan bersifat objektif mungkin, dan menganggap semua ucapan dan ekspresi manusia sebagai ‘objektifikasi pikiran’, artinya, sebagai objek tekstual yang mampu interpretasi untuk mencapai akses ke kesadaran pengalaman orang lain. Menurut Ini model objektivitas, perawat seharusnya mengesampingkan pengaruh subjektif di jalan prakonsepsi, prasangka dan sumber kesalahpahaman yang berasal situasi budaya, sejarah, sosial atau generasinya sendiri. Di sisi lain, dia diharapkan untuk membawanya pemahaman klinis; konsekuensi dari studinya tentang ilmu klinis dan pengalaman klinisny kedalam proses komunikasi untuk kepentingan pasien, karena itu adalah pemahaman perawat tentang masalah ini dan tanggung jawabnya untuk kesejahteraan pasien yang membentuk tujuan nyata dari komunikasi tersebut.

Komunikasi dapat bersumber pada subyektif namun sebagai tenaga keseshatan yang telah dibekali dengan keilmuan klinis harus bisa menempatkan dirinya dalam komunikasi obyektif tanpa adanya pengaruh pemikiran yang akan menyebabkan pikiran klinis atau penyakit tidak dapat ditelaah, sebagai contoh pada dunia medis kita harus bisa berfikir secara real dengan kaidah keilmuan sehingga pola pikir tidak akan terkontaminasi oleh sesuatu yang bersifat tidak logis. Nah, dengan demikian tenaga kesehatan terutama perawat harus mampu mendorong keluarga dan klien untuk memberikan penyatakaan tentang kesakitannya secara factual dan dengan didorong oleh permasalahan yang terjadi.

References

Campbell AV. Dependency the foundational value in medical ethics. In: Fulford KMW, Gillett G, Soskice JM, editors. Medicine and moral reasoning. Cambridge: Cambridge University Press; 1994.

Conway MA. Disorders of episodic memory. In: Ridley S, editor. The psychological challenges of intensive care. Oxford: Blackwell; 2005.